Categories Traveldraft Tags , ,

Seren Taun; Upacara Padi dan Rasa Sukur Orang Sunda

Seren Taun adalah upacara terakhir dari rentetan ritual tersebut sebagai wujud dari rasa syukur terhadap apa yang diberikan alam kepada masyarakat. Maka aroma suka cita dan kemewahan menjadi corak utama dalam upacara ini Bagaimana tidak, untuk memanjakan tamu yang hadir masyarakat Kasepuhan Ciptagelar menyediakan paling tidak 2 ekor kerbau, 1 drum minyak sayur, 2 drum … Read more

Seren Taun adalah upacara terakhir dari rentetan ritual tersebut sebagai wujud dari rasa syukur terhadap apa yang diberikan alam kepada masyarakat. Maka aroma suka cita dan kemewahan menjadi corak utama dalam upacara ini

Bagaimana tidak, untuk memanjakan tamu yang hadir masyarakat Kasepuhan Ciptagelar menyediakan paling tidak 2 ekor kerbau, 1 drum minyak sayur, 2 drum minyak tanah, lebih dari 5 karung gula, 2 karung bawang, dan tidak terhitung jumlah ayam, gula merah, kelapa, kopi dan sayur.

Selain itu, acara Seren Taun juga melibatkan seluruh masyarakat Kasepuhan Ciptagelar. Terdapat banyak rangkaian kesenian daerah seperti tari buyung, angklung baduy, angklung buncis, golek dan perkusi bambu dogdog lojor, jipeng, topeng hingga yang modern jaipong dangdut (pongdut) yang ditampilkan menambah meriah acara Seren Taun.

Seren Taun dalam Bahasa Sunda berasal dari kata Seren yang berarti serah atau menyerahkan dan Taun berarti tahun. Jadi Seren Taun bermakna serah terima tahun yang lalu ke tahun yang akan datang sebagai penggantinya.

Dalam konteks tradisi masyarakat peladang Sunda, Seren Taun merupakan media untuk bersyukur kepada Tuhan atas segala hasil pertanian yang dilaksanakan pada tahun ini, yang kemudian dilanjutkan dengan berharap agar hasil pertanian mereka akan meningkat pada tahun yang akan datang

Bila dirunut dari sejarah, menurut Anis Djatisunda, Seren Taun telah berkembang sejak zaman Pajajaran. Pada saat itu pelaksanaannya dilakukan di seluruh kerajaan dari Pakuan sampai kapuunan dan daerah kasepuhan.

Seren Taun berdasarkan waktu dibagi menjadi dua bentuk: pertama, perayaan alam tahunan atau upacara juga disebut Seren Taun Bumi Guru. Perayaan diadakan di Pakuan dan juga di seluruh wilayah kerajaan. Dan kedua, perayaan delapan tahun, dulu dikenal sebagai upacara seren tutug atau biasa disebut dengan perayaan upacara kuwera bakhti dilakukan di Pakuan saja

Banyaknya pengaruh dari luar terhadap masyarakat Sunda tidak pernah menyurutkan berlangsungnya acara ini. Hanya terjadi perombakan pada beberapa bagian. Saat ini acara yang masih dapat ditemui yaitu seren taun bumi guru saja, dirayakan setiap tanggal 18 hingga 22 Rayagung (Dzulhijjah).

Pelaksanaannya kini tidak di seluruh tatar Sunda, tetapi hanya di beberapa desa adat seperti di Desa Cigugur, Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan; Kasepuhan Banten Kidul, Desa Ciptagelar, Cisolok, Kabupaten Sukabumi; Desa adat Sindang Barang, Desa Pasir Eurih, Kecamatan Taman Sari, Kabupaten Bogor; Desa Kanekes, Kabupaten Lebak, Banten; dan Kampung Naga Kabupaten Tasikmalaya.

Prosesi Upacara Seren Taun

Prosesi Seren Taun berbeda-beda dalam setiap daerahnya, tetapi intinya yaitu menyerahkan padi hasil panen masyarakat kepada tetua adat untuk kemudian disimpan di leuit. Leuit dalam bahasa Indonesia berarti lumbung padi, biasanya terpisah dengan imah gede atau tempat tinggal keluarga.

Leuit terletak di samping atau di belakang imah gede. Bentuk dan material yang digunakan pun hampir sama, yaitu berbentuk rumah panggung dan beratap rumbia, namun ukuran leuit lebih kecil dari imah gede. Leuit juga dapat dipindah-pindah jika memang diperlukan.

Padi yang tersimpan di lumbung tidak dipisahkan dari tangkainya, tetapi tetap tergantung dalam keadaan terikat menggunakan tali bambu (pocongan). Pocong-pocongan padi disimpan pada galah bambu dengan menggunakan batang kayu yang bercabang.

Maksud penyimpanan padi dengan cara ini adalah agar padi dapat mengering selama dibawa dan tetap dapat dipertahankan kadar airnya. Sistem penyimpanan ini menyebabkan padi menjadi tidak rusak akibat kelembaban. Dengan sistem penyimpanan seperti ini, dapat dibuktikan bahwa bulir padi yang telah disimpan puluhan tahun masih dapat ditanam kembali.

Rata-rata setiap keluarga di Ciptagelar memiliki beberapa lumbung kecil, dimana satu lumbung dapat menampung 500-1.000 pocong padi. Umumnya 1.000-2.000 pocong padi cukup untuk memenuhi kebutuhan konsumsi pangan untuk satu keluarga selama setahun.

Di Kasepuhan Ciptagelar terdapat juga leuit yang cukup besar dan tidak milik perorangan, tetapi milik masyarakat, yang disebut leuit si jimat. Leuit ini mampu menampung 7.500 Pocong padi. Lumbung ini hanya dibuka ketika cadangan padi telah habis, atau pada saat musim paceklik. Oleh sebab itu leuit si jimat juga sering disebut leuit si paceklik.

Setelah padi disimpan di leuit, maka tetua adat kemudian akan memberikan indung pare atau bibit padi yang telah diberkati dan dianggap bertuah kepada pemimpin-pemimpin desa.

Puncak acara seren taun ditandai dengan upacara ngadiukeun atau memasukan padi secara simbolik oleh tetua adat ke dalam leuit si jimat. Prosesi ini diawali dengan pembacaan doa dan mantra yang pada intinya mensyukuri atas restu alam semesta dan leluhur yang telah menjaga masyarakat Ciptagelar.

***

Padi, bagi masyarakat Kasepuhan Ciptagelar bukan sekedar pemenuh kebutuhan pangan belaka. Bagi mereka, padi adalah simbol kehidupan. Sebuah karunia dari Sang Pencipta yang dipersonifikasikan lewat Nyai Pohaci. Sebagai sesuatu yang sakral, siklus dan sistem pertanian diatur lewat aturan adat.

Hubungan antara padi dan masyarakat Kasepuhan Ciptagelar sangat erat, hampir seluruh bagian kehidupan adat didasarkan pada siklus padi. Begitu sakralnya padi bagi masyarakat Kasepuhan Ciptagelar dapat dilihat dari banyaknya ritual yang berhubungan dengan padi, dari mulai ditanam hingga akhirnya dipanen, tidak lepas dari yang namanya ritual.

Ngaseuk, Sapang Jadian Pare, Selamatan Pare Ngidam, Mapag Pare Beukah, Upacara Sawenan, Syukuran Mipit Pare, Nganjaran/Ngabukti dan Ponggokan adalah rentetan upacara yang berhubungan dengan padi sejak ditanam hingga dipanen.