Categories Traveldraft Tags

Baju Kurung; Kebaya Labuh dan Teluk Belanga

Dalam Budaya Melayu, Baju kurung adalah istilah yang merujuk pada pakaian yang dikenakan oleh perempuan dan laki-laki. Dalam perkembangannya, baju kurung untuk laki-laki dikenal sebagai Teluk Belanga, Cekak Musang atau Baju Melayu. Pakaian merupakan salah satu simbol yang mencerminkan karakter budaya suatu kelompok sosial. Pakaian bukan hanya sekedar kain, melainkan rekam-jejak sejarah, pemikiran, juga keyakinan … Read more

Dalam Budaya Melayu, Baju kurung adalah istilah yang merujuk pada pakaian yang dikenakan oleh perempuan dan laki-laki. Dalam perkembangannya, baju kurung untuk laki-laki dikenal sebagai Teluk Belanga, Cekak Musang atau Baju Melayu.

Pakaian merupakan salah satu simbol yang mencerminkan karakter budaya suatu kelompok sosial. Pakaian bukan hanya sekedar kain, melainkan rekam-jejak sejarah, pemikiran, juga keyakinan suatu kelompok sosial.

Pakaian adat Kebaya Labuh yang dikenakan wanita dan Teluk Belanga yang dikenakan Pria dalam tulisan ini, kedua pakaian ini juga dikenal di beberapa wilayah berkebudayaan Melayu dan umumnya pembeda merujuk pada style penggunaan, tambahan motif, aksesoris dan daerah, bahasa atau istilah yang dipakai.

Baju Kurung Kebaya Labuh Pakaian Wanita Melayu

Baju Kebaya dipercaya dibawa oleh orang tiongkok pada abad ke-13. Kebaya Labuh atau kebaya Laboh merupakan salah satu jenis baju kurung yang tersebar di masyarakat berkebudayaan Melayu.

Kebaya labuh mirip dengan kebaya Cina dan Jawa, namun bagian bawahnya menjuntai hingga hampir menutupi lutut. Dua sisi bagian depan kebaya labuh dikaitkan dengan tiga sampai lima buah kancing atau pengait yangdisebut peniti.

Kebaya Labuh biasanya dipadukan dengan kain batik atau songket yang menjadi bawahannya. Terkadang ditambahkan dengan selendang dan kerudung sebagai tambahan aksesoris dan keutamaan menutup rambut dalam budaya islam.

Bahan Kebaya labuh biasanya sutera cina dan broked. Untuk acara-acara formal, biasanya perempuan Melayu menggunakan bahan sutera yang halus dan sarung songket sebagai bawahan.

Kebaya labuh juga sering digunakan sebagai pakaian pengantin perempuan. Dipadukan dengan sanggul lipat pandan yang dihiasi kembang goyang atau dengan menggunakan kerudung.

Kebaya labuh mempunyai beberapa nama dan variasi yang juga dikenal luas, diantaranya: kebaya labuh nyonya dan kebaya pendek. Kebaya Labuh Nyonya dipopulerkan oleh perempuan etnik Cina Melayu.

Bentuk dan bahan kebaya pendek nyonya tidak jauh berbeda dengan kebaya labuh, hanya saja pada bagian depan kebaya labuh nyonya terkadang disematkan sapu tangan.

Kebaya pendek seperti namanya, merupakan variasi dari kebaya labuh yang bagian bawahnya lebih pendek yaitu tidak sampai menutupi bagian lutut, tetapi hanya sebatas pinggul pemakainya.

Kebaya pendek kini tersebar hampir di seluruh bagian barat Indonesia namun Awalnya kebaya pendek juga dipopulerkan oleh keturunan Cina. Kini Variasi kebaya labuh semakin banyak terutama dari segi penggunaan maupun dari motifnya, sehingga muncul istilah kebaya labuh modern.

Baju Kurung Teluk Belanga Pakaian Adat Pria Melayu

Teluk Belanga merupakan pakaian penting bagi laki-laki di kebudayaan Melayu. Baju Teluk Belanga juga dikenal sebagai Cekak Musang atau Baju Melayu di Malaysia. Pakaian adat ini biasanya memilik warna yang tidak terlalu mencolok, meskipun terkadang penggunaan warna-warna kuat seperti merah, hijau atau biru dipilih, namun tetap terlihat teduh.

Teluk Belanga juga mengacu pada Baju dan Celana yang satu warna, bermotif polos berbahan kain sutra, kain satin, atau kain berkualitas tinggi lainnya.

Untuk tambahan dikenakan kain sarung atau songket yang diikat setinggi lutut. Cara mengenakan kain samping ada dua macam, yakni ikat dagang dalam dan ikat dagang luar. Terkadang kain ini difungsikan seperti selendang.

Bahan untuk kain darung atau samping adalah bahan pilihan, seperti kain songket dan kain tenun Siak, Indragiri, Daik, Trengganu dan tenun daerah-daerah lainnya.

Untuk bagian kepala, awalnya kaum lelaki Melayu memakai Tanjak, yaitu kain persegi empat yang diikat dan dilipat sedemikian rupa. Tanjak biasanya terbuat dari kain songket.

Untuk keperluan sehari-sehari, Tanjak digantikan oleh peci atau songkok. Penggunaan Tanjak biasanya hanya ketika menghadiri acara-acara resmi seperti upacara adat, pemerintahan, pernikahan atau acara adat lainnya.

Awalnya Teluk Belanga maupun Kebaya Labuh merupakan identitas muslim Melayu, tetapi sekarang pemakai kedua pakaian tersebut tidak terbatas pada masyarakat Melayu muslim saja.

Baju Kurung, Varian dan Fungsinya

Menurut fungsinya, Pakaian Adat Melayu ini bisa digunakan dalam pemakaian keseharian, dalam acara atau pemakaian resmi, dalam upacara adat, dan dalam tradisi pernikahan.

Sebagai catatan, Kebaya labuh dan Teluk belangga masih menjadi bagian dominan namun perlu diperhatikan varian dan juga aksesoris yang digunakan disamping ada penamaan lain untuk baju, atau penggunaan istilah dari baju kurung yang dimaksud.

A. Pakaian Sehari-Hari

Pakaian sehari-hari bisa dibedakan berdasarkan jenjang usia pemakai; pakaian anak-anak dan pakaian dewasa.

Pakaian untuk anak laki-laki yang masih kecil disebut baju monyet. Setelah beranjak besar, anak laki-laki memakai Teluk Belanga. Terkadang, mereka juga memakai celana setengah, kopiah, dan ikat kepala. Juga dilengkapi dengan samping atau sarung.

Sedangkan bagi anak perempuan yang belum dewasa mengenakan baju kurung yang selaras dengan kain sarung atau samping bawahan yang bermotif bunga. Perempuan dewasa memakai Baju Kurung Laboh (Kebaya Labuh), Baju Kebaya Pendek, dan Baju Kurung Tulang Belutdipadukan dengan kain sarung batik, tudung penutup kepala berupa selendang atau tudung lingkup, atau kain belacu yang dinamakan tengkuluk.

B. Pakaian Resmi dan Upacara adat

Jenis pakaian yang dikenakan berwarna hitam dari bahan terbaik ditambah dengan aksesoris, kain tenun atau sarung songket, ikat kepala atau peci hingga keris. Pakaian resmi dikenakan ketika menghadiri pertemuan resmi yang diadakan oleh pihak kerajaan atau oleh lembaga pemerintah dan upacara adat.

C. Pakaian Upacara Pernikahan

Selain Baju Kurung Cekak Musang atau Teluk Belanga, busana pengantin laki-laki adalah kain samping bermotif dengan celana dan baju, distar berbentuk mahkota dipakai di kepala, sebai warna kuning di bahu kiri, rantai panjang berbelit dua yang dikalungkan di leher, canggai yang dipakai di kelingking, sepat runcing di bagian depan, dan keris hulu burung serindit pendek yang diselipkan di sebelah kiri.

Sementara busana yang dikenakan perempuan tergantung pada jenis upacaranya. Pengantin perempuan dalam upacara Malam Berinai memakai Baju Kurung Teluk Belanga. Sedangkan pada upacara Barandam, pengantin perempuan memakai Baju Kurung Kebaya atau Kebaya Pendek. Aksesoris di kepala bisa memakai sanggul yang dihiasi dengan bunga-bunga.

Pakaian pengantin perempuan pada Upacara Akad Nikah adalah Baju Kebaya Labuh. Kemudian, untuk pakaian pada waktu upacara Bersanding adalah Kebaya Labuh atau Baju Kurung Teluk Belanga.