Categories Traveldraft Tags

Pulau Komodo, Sejarah dan Kekayaan Wilayahnya

Sebuah pulau vulkanik yang dihuni sekitar 5.700 kadal raksasa, diapit Sumbawa dan Pulau Flores antara perbatasan Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Nusa Tenggara Barat (NTB), dan secara administrative masuk ke wilayah Kabupaten Manggarai Barat, Provinsi NTT. Tak lain, nama tempat tersebut adalah Taman Nasional Pulau Komodo.

Sebuah pulau vulkanik yang dihuni sekitar 5.700 kadal raksasa, diapit Sumbawa dan Pulau Flores antara perbatasan Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Nusa Tenggara Barat (NTB), dan secara administrative masuk ke wilayah Kabupaten Manggarai Barat, Provinsi NTT. Tak lain, nama tempat tersebut adalah Taman Nasional Pulau Komodo.

Taman Nasional Komodo terdiri dari tiga pulau utama, yaitu Pulau Komodo, Pulau Rinca, dan Pulau Padar. 603 km2 sisanya adalah pulau-pulau kecil. Apabila ditotal, luas Taman Nasional ini mencapai 1917 km2.

Secara umum topografi pulau Komodo dan sekitarnya curam dan terjal. Hal tersebut dikarenakan posisi taman nasional ini dalam gugusan gunung berapi aktif antara Australia dan rak Sunda.

Tipografi Taman Nasional tersebut didominasi oleh berbagai bukit bulat sepanjang sumbu utara hingga selatan pada ketinggian 500-600 meter. Garis pantai pulau Komodo dan sekitarnya tidak teratur, hal tersebut ditandai dengan banyaknya pantai teluk dan inlet yang dipisahkan oleh tanjung, dan tebing-tebing yang curam.

Sejarah Taman Nasional Komodo

Pulau-pulau Komodo, Padar, Rinca, dan Gili Motong dan perairan sekitarnya yang luasnya 75.000 ha dinyatakan sebagai taman nasional pada tanggal 6 Maret 1980 (Depkeu, 1990). Pada tahun 1984 taman nasional diperluas sampai 219.322 ha berdasarkan Keputusan Menteri 46/kpts/VI-Sek/1984.

Jauh sebelumnya, pada tahun 1938, Pulau Padar dan bagian dari Rinca dilindungi sebagai cagar alam dan yang kemudian diperluas pada tahun 1965 bersamaan dengan dikukuhkan-nya Pulau sebagai cagar biosfer bawah Man Unesco dan Program Biosfer pada bulan Januari 1977 melalui Keputusan Menteri No. 66.

Pada tahun 1986 oleh UNESCO, Taman Nasional Pulau Komodo ini dinyatakan sebagai salah satu bagian dunia yang perlu dilindungi. Pada awalnya, taman nasional ini bertujuan untuk melestarikan spesies komodo (Varanuskomodoensis).

Penduduk Pulau Komodo

Penduduk yang tinggal di kawasan Taman Nasional berjumlah 4.521 jiwa pada tahun 2010. Nelayan merupakan mayoritas profesi yang ditekuni oleh penduduk pulau dan sekitarnya. Mereka berasal dari suku Bajau Bugis.

Sementara itu, penghuni asli adalah orang-orang suku Ata Modo yang masih ada di Pulau Komodo. Namun seiring dengan banyaknya pendatang dari daerah yang lain maka darah, adat budaya dan bahasa telah bercampur dengan pendatang baru.

Vegetasi, Flora dan Fauna

Jenis vegetasi di pulau ini didominasi rumput-hutan savana, terutama asal antropogenik, yang mencakup sekitar 70% dari taman. Pohon savannah yang dominan adalah lontar. Gugur hutan (monsoon) tropis terjadi di sepanjang dasar bukit dan lembah dasar.

Taman Nasional ini menyimpan flora randa dari banyak spesies endemik. Hal itu ditandai dengan tertutup lumut batu, rotan, rumpun bambu, dan banyak jenis pohon umumnya hadir di ketinggian rendah. Di pantai-pantai pulau komodo, kerap dijumpai pohon mangrove. Biasanya terdapat pada teluk-teluk pulau Komodo, pulau Rinca, dan pulau Padar.

Seperti yang telah disebutkan di atas bahwa taman nasional ini terkenal karena spesies kadal terbesar di dunia. Populasi hewan ‘purba’ tersebut didistribusikan di pulau Komodo, Rinca, dan Gili Motong, dan di daerah pesisir tertentu barat dan utara Flores.

Sekilas Tentang Komodo

Komodo, atau lengkapnya bernama biawak komodo (Varanus Komodoensis), adalah spesies kadal terbesar (bukan terpanjang) di dunia yang hidup di pulau Komodo, Rinca, Flores, Gili Motang, dan Gili Dasami di Nusa Tenggara.

Ukuran tubuh komodo bisa mencapai 2 hingga 3 meter dengan berat sekitar 70 kg. Ukurannya yang besar berhubungan dengan gejala gigantisme pulau. Menurut hukum Bergmann gigantisme pulau adalah fenomena biologi ketika meningkatnya ukuran binatang yang terisolasi di sebuah pulau.

Fenomena ini merupakan bentuk seleksi alam yang berarti makin besar ukuran tubuh, maka makin menyediakan keunggulan dalam bertahan hidup. Hal ini juga terkait dengan tidak adanya karnivora yang memangsa hewan tersebut, sehingga hewan tersebut menduduki posisi puncak dalam rantai makanan.

Tahun 1910, komodo pertama kali didokumentasikan oleh Letnan Steyn van Hens Broek yang mencoba membuktikan laporan pasukan Belanda tentang adanya hewan besar menyerupai naga di pulau tersebut. Namanya meluas setelah tahun 1912, ketika Peter Ouwens, direktur Museum Zoologi di Bogor, menerbitkan paper tentang komodo setelah menerima foto dan kulit reptil ini.

Kemudian pada tahun 1926 W. Douglas Burden melakukan ekspedisinya ke Pulau Komodo dengan membawa pulang dua ekor komodo yang masih hidup dan 12 spesimen yang telah diawetkan. W. Douglas Burden juga yang memberi nama pada hewan ini sebagai Komodo Dragon.

Komodo jarang dimiliki oleh kebun binatang. Pasalnya kadal raksasa ini rentan terhadap infeksi dari penyakit yang diakibatkan oleh parasit, serta tak mudah berkembang biak. Tercatat usia komodo paling tua yang berhasil ditangkarkan di kebun binatang adalah sekitar 5 tahun. Sulitnya pemeliharaan komodo inilah yang menjadikan Pulau Komodo menjadi pusat konservasi komodo.

Pulau Komodo, bersama Pulau Rinca, Pulau Padar, dan Gili Montang secara resmi menjadi Taman Nasional Komodo pada tahun 1980 yang bertujuan untuk upaya pelestarian komodo dan habitatnya.

Tak hanya melestarikan komodo, taman nasional yang memiliki luas sekitar 1817 km2 tersebut juga melindungi 277 spesies hewan yang merupakan perpaduan hewan yang berasal dari Asia dan Australia, yang terdiri dari 32 spesies mamalia, 128 spesies burung, dan 37 spesies reptilia.

Bersama dengan komodo, setidaknya 25 spesies hewan darat dan burung termasuk hewan yang dilindungi, karena jumlahnya yang terbatas atau terbatasnya penyebaran mereka.

Komodo dan Cerita Rakyat Suku Komodo

Komodo, penduduk setempat menyebutnya dengan panggilan Orah,menurut cerita rakyat yang beredar di masyarakat Suku Komodo merupakan anak dari seorang putri dari dunia gaib yang tinggal di Pulau Komodo.

Putri tersebut bernama Putri Naga, kemudian menikah dengan seorang manusia bernama Majo. Dari hasil pernikahan tersebut Putri Naga melahirkan sepasang anak kembar, satu laki-laki dan satu lagi perempuan.

Bayi lelaki yang berwujud manusia diberi nama Gerong, dan dibesarkan diantara manusia lain. Sedangkan bayi perempuan yang berbentuk komodo diberi nama Orah. Orah dilepaskan dan tumbuh besar di hutan. Tapi, kedua anak itu sama-sama tak tahu kalau mereka memiliki saudara.

Pada suatu hari, Gerong yang hendak mengambil rusa hasil buruannya di hutan tiba-tiba dihadang oleh kadal raksasa yang sedang memakan rusa hasil buruannya. Gerong yang terkejut melihat kadal tersebut segera mengambil tombak dengan maksud membunuh kadal tersebut.

Tetapi di tengah upayanya, tiba-tiba sang ibu muncul dan berkata ”Jangan bunuh binatang itu. Dia adalah Orah, saudara perempuanmu. Aku melahirkan kalian bersamaan. Anggaplah dia sesamamu, karena aku melahirkan kalian”.

Sejak saat itu, masyarakat Suku Komodo yang dipercaya sebagai keturunan Gerong hidup berdampingan dengan komodo keturunan Orah.

Banyak diantaranya para penjaga Taman Nasional Komodo dan pawang komodo sebagian besar berasal dari masyarakat Suku Komodo. Karena masyarakat Suku ini konon dipercaya dapat ‘berkomunikasi’ dengan komodo.