Categories Traveldraft Tags

Suku Sumba, Nusa Tenggara Timur

Pulau seluas ± 11.500 km2 ini dihuni oleh sekitar 350.000 orang, menyimpan warisan budaya dari zaman prasejarah. Penelitian artefak paleolitik di Pulau Sumba digiatkan sejak tahun 1979. Penemuan alat batu, alat masif dan serpih, yang terutama ditemukan di barat daya dan selatan daerah Belitung

Suku Sumba berada di Pulau Sumba yang banyak mendiami wilayah Kabupaten Sumba Barat dan Sumba Timur. Pulau seluas ± 11.500 km2 ini dihuni oleh sekitar 350.000 orang, menyimpan warisan budaya dari zaman prasejarah hingga detik ini.

Penelitian artefak paleolitik di Pulau Sumba digiatkan sejak tahun 1979. Penemuan alat batu, alat masif dan serpih, yang terutama ditemukan di barat daya dan selatan daerah Belitung.

Alat-alatnya ditemukan di dipermukaan dan di dasar sungai Penemon di sekitar Desa Gunung Ala. Teras-teras (undakan) terdapat di sepanjang sungai Penemon, dan bahan batunya terdapat di daerah alur sungai.

Berdasarkan cerita yang turun temurun, konon Sumba lahir dari empat pendaratan para leluhur. Menurut Wohangara dan Ratoebandjoe dalam Woha (2008:40) menyatakan bahwa: pendaratan para leluhur itu diatur strategi seakan-akan mau melakukan pengepungan terhadap tana Humba sebagai berikut:
1. Rombongan I mendarat di Haharu Malai Kataka Linndi Watu
2. Rombongan II mendarat di La Panda Wai Mananga Bokulu.

3. Rombongan III mendarat di Wula Waijilu-Hongga Hillimata.

4. Rombongan IV mendarat di Mbajiku Padua Kambata Kundurawa.

Kepercayaan mereka adalah kepercayaan khas daerah Marapu, setengah leluhur, setengah dewa, masih amat hidup di tengah-tengah masyarakat Sumba.

Dalam bahasa Sumba arwah-arwah leluhur disebut Marapu, berarti “yang dipertuan” atau “yang dimuliakan”. Oleh karena itu, marapu menjadi sebutan dari kepercayaan tersebut.

I. Alam, Lingkungan dan Hunian

Desa-desa Sumba dibangun di atas bukit dengan bentuk persegi panjang dan dikelilingi oleh tembok batu yang pada masa lalu berfungsi sebagai benteng pertahanan dari serangan musuh.

Rumah-rumah tradisional diatur ke dalam dua jajaran yang saling berhadapan satu sama lain, dimana di tengah-tengah antara satu rumah dengan yang lainnya terdapat batu pusara

Beberapa desa masih menyimpan sebuah batang pohon dimana tengkorak kepala hasil peperangan digantungkan. Sejumlah kampung tua yang bisa dinikmati keasliannya, seperti Kampung Tarung, Tambelar, Dessa Elu, Bodo Ede, dan Kampung Paletelolu.

Kampung Tarung, misalnya, merupakan kampung tua yang terletak persis di jantung kota. Sama dengan yang lain, kampung ini dipenuhi dengan deretan rumah menara beratap ilalang, rumah tradisional khas Sumba.

“Uma” adalah sebutan rumah bagi masyarakat Sumba. Uma dibangun dengan arsitektur sederhana tapi penuh makna yang terbagi ke dalam tiga bagian, yaitu:

  • Bagian bawah, digunakan sebagai kandang hewan-hewan peliharaan.
  • Bagian tengah, digunakan sebagai tempat tinggal keluarga.
  • Bagian atas, digunakan untuk menyimpan makanan dan persembahan bagi Dewa Merapu.

Lebih dari setengah penduduk Sumba menganut kepercayaan Merapu atau “ajaran para leluhur”. Kepercayaan dilambangkan dengan ibadah, perayaan upacara, dan pengorbanan untuk penghormatan kepada sang pencipta dan arwah para leluhur.

Selama masa perayaan upacara religi, persembahan yang disebut “Nyale” dibuat untuk tujuan kebahagiaan dan kemakmuran masyarakat.

II. Bahasa Sumba, Satu Suku Beragam Logat

Suku Sumba memiliki bahasa daerah yang tergolong ke dalam rumpun bahasa Austronesia. Dalam perkembangannya bahasa daerah Sumba membentuk beberapa logat atau dialek. Bahasa Sumba mempunyai suatu ciri karakteristik, yaitu bersifat setangah vocal.

Hanya sebagian dari perbendaharaan kata yang akar katanya merupakan huruf mati. Dengan huruf-huruf, /h/, /k/, /l/, /ng/, /r/, /s/, /t/. Semua akar kata yang berhuruf mati itu kemudian berubah menjadi huruf hidup dengan tambahan aksara /u/, /0/, dan /a/.

Pembeda dari dialek Sumba Barat dan Timur adalah dalam pelafalan. Lafal dalam logat Sumba Barat ialah /o/ dan /a/. Sementara pelafalan dalam logat Sumba Timur adalah /u/.

Logat Sumba Barat yang paling populer–dalam arti bahwa logat itu dapat dipahami, dimengerti oleh sebagian besar penduduk yang menghuni berbagai daerah Sumba Barat–ialah logat wewewa.

Tetapi hal tersebut tidak berarti bahwa di seluruh daerah Sumba Barat hanya terdapat logat wewewa saja. Di Sumba Barat terdapat beberapa logat lokal, yaitu; logat kodi, logat lamboya, logat mamboro, logat wanokak, logat laora, logat laoli, logat ana kalang.

Adapun logat Sumba Timur yang paling populer ialah ligar kambera. Malah logat kambera ini juga dipahami, dimengerti oleh sebagian penduduk Sumba Barat. Logat Kambera juga dipahami dan dimengerti oleh penduduk daerah Ana Kalang dan Wanokak.

Bahkan penduduk di daerah Ponduk, dapat memahami, mengeri logat Wewewa dan logat Kambera secara aktif, dengan mengucapkan kedua logat itu secara bersamaan dalam sebuah dialog.

Lafal logat Kambera, sebagian besar tidak mengenal palatal, yaitu aksara /nj/, /j/, /ny/. Aksara /s/ dalam logat Kambera diucapkan sebagai aksara /h/. Contoh kata kabisu diucapkan [kabihu]. Dalam logat Mamboro, logat Laoli, logat Ana Kalang, dan logat Lamboya, aksara /s/ tidak berubah dalam ucapan.

Berbeda hal-nya dengan logat Wewewa, dan logat Laora, aksara /s/ diucapkan sebagai aksara /z/. Begitu pun dengan logat Kodi yang mengucapkan aksara /s/ menjadi /h/, seperti halnya dalam ucapan logat Kambera. Bahasa Sumba tidak mengenal kelamin kata dan juga tidak mengenal kelas kata.

Hubungan sejarah Sumba di masa lampau, dengan sendirinya memperkaya perbendaharaan kata-kata dalam bahasa Sumba. Bahasa-bahasa Nusantara yang banyak memperkaya perbendaharaan kata-kata dalam bahasa Sumba, antara lain; bahasa-bahasa Sulawesi, Makassar-Bugis, bahasa Jawa dan bahasa melayu yang lebih tua.

Bila dilihat dari hubungan sejarahnya, bahasa-bahasa tua dari luar daerah tersebut masih tetap hidup dalam bahasa Sumba.

III. Tatanan Sosial Kemasyarakatan Suku Sumba

Di Sumba, khususnya di bagian Timur, terdapat sebuah tatanan sosial kemasyarakatan yang telah ada sejak dari zaman nenek moyang. Tatanan sosial tersebut terklasifikasikan ke dalam: Golongan bangsawan, Golongan menengah, Golongan budak.

Golongan bangsawan memegang kendali kehidupan sosial disana. Mereka memiliki banyak kuda dan kerbau juga rumah yang terhitung mewah dibandingkan dengan rumah-rumah golongan menengah dan biasa.

Di bagian Barat Sumba, klasifikasi sosial tidak sekaku di bagian Timur Sumba. Klasifikasi sosial di bagian Barat Sumba lebih bersifat kompetitif dan ditentukan oleh Senioritas, Kemampuan dan keahlian, Hubungan kekeluargaan dengan kepala suku

Orang dari cluster bawah jika mampu dan bekerja keras untuk menjadi lebih baik maka mereka akan mendapat penghormatan sebagai orang yang terpandang.

A. Sistem Sosial dan Kekerabatan Suku Sumba

Struktur masyarakat Sumba berdasarkan pertalian keturunan (genealogi) atau berdasarkan prinsip-prinsip keturunan. Namun sesungguhnya suku yang berdiam di Nusa Tenggara Timur ini memiliki struktur masyarakat tradisional yang tersusun atas dua faktor: faktor keturunan (genealogi) dan faktor lingkungan daerah (territorial).

Jadi suatu struktur masyarakat tradisional yang bersifat genealogis territorial. Dalam struktur masyarakat yang bersifat genealogis territorial seseorang baru diakui sebagai warga masyarakat apabila ia mengadakan pertalian keturunan dan bertempat tinggal dalam lingkungan daerah yang sudah ditentukan.

Sejarah masa lampau ketika kelompok-kelompok pendatang merebut tanah dan perkampungan kelompok-kelompok lain yang telah lama menghuni daerah pedalaman Sumba melatarbelakangi terjadinya struktur masyarakat tradisional yang bersifat genealogis territorial.

Sebagian para penghuni lama. Kedua belah pihak lalu mengikat perdamaian. Hidup berdampingan dalam suatu persekutuan daerah. Kaum pendatang merupakan kelompok elite (marimba).

Para penghuni lama tetap memiliki statusnya sebagai orang-orang merdeka dan tetap mempunyai hak milik atas tanah mereka. Salah seorang dari penghuni lama ditunjuk menjadi wali tanah (grondvoogd, istilah bahasa Belanda), mangu tana, yang mengurusi seluruh tanah dalam daerah itu. Para penghuni lam merupakan golongan menengah (kabisu, kabihu).

Pelapis masyarakat (Sosial Strafication). Terjadinya pelapisan masyarakat seperti yang ada hingga masa kini berlangsung lama melalui proses sejarah dalam waktu beberapa abad.

Karena dahulu dalam masyarakat tradisional tidak dikenal adanya tokoh raja dan golongan penguasa yang ada hanya golongan ulama, para imam, pendeta, dan golongan awan

Golongan ulama menempati kedudukan penting selaku para pemimpin spiritualitas karena mereka mewakili keturunan tertua dalam tiap kelompok kekerabatan besar maka dengan sendirinya mereka merupakan golongan elit.

Para ulama bukan hanya mengatur sistem kepercayaan (religi) tapi juga segi adat-istiadat dan hukum adat. Bahkan mereka pulalah yang menentukan segi politik memaklumkan perang dan membuat perdamaian

Baru setelah kaum imigran secara bergelombang datang ke daerah pedalaman untuk mencari tanah-tanah subur. Kalau perlu dilakukan dengan melakukan peperangan karena pada penghuni lama enggan menyerahkan tanah-tanah mereka yang subur kepada kaum pendatang itu. Terjadilah perkembangan baru dalam tata kehidupan masyarakat.

Kaum imigran yang menang dalam memperbutkan suatu daerah, diterima sebagai kelompok elite, kelompok penguasa. Mereka dinyatakan sebagai golongan bangsawan (maramba).

Tapi para penghuni lama tetap diakui kedudukannya sebagai orang-orang merdeka dan merupakan golongan mengah (kabisu, kabihu). Para ulama sebagai para pemimpin spiritual menyerahkan urusan tertib hokum kepada golongan bangsawan.

Dalam pelapisan masyarakat, kaum ulama termasuk golongan menengah. Tapi di daerah Kodi, kaum imigran tidak pernah berhasil merubah kedudukan para ulama meskipun mereka diterima sebagai golongan bagsawan. Para ulama di daerah Kodi tetap merupakan golongan bangsawan dan tetap mempunyai hak-hak serta kedudukannya yang tradisional

Golongan bangsawan sebagai golongan penguasa lebih dipertegas lagi kedudukannya dengan adanya tokoh raja sebagai kepala angkat dari golongan bangsawan.

Kecuali di daerah Kodi, seorang raja harus selalu diangkat dari kalangan kaum ulama. Itulah sebabnya para raja Kodi tetap mempunyai predikat rato atau ratu. Ratu memiliki tugas selain menjabat kedudukan kepala daerah juga menjabat kedudukan kepala lembaga kepercayaan dan adat.

Pangkat raja mungkin sekali diilhami oleh kaum imigran yang datang dari kawasan Nusantara di mana mereka sudah mengenal pangkat itu di daerahnya masing-masing.

Timbulnya tokoh raja merupakan akibat dari suasana yang penuh huru-hara dan peperangan antar suku memerebutkan tanah dan hewan ternak, pada waktu itu.

Tiap kelompok suku menunjukkan seorang tokoh sebagai panglima besar dan pemelihara ketertiban umum. Akibat lain dari suasana perang ialah timbulnya golongan rendah yang terdiri dari para tawanan, budak belian.

B. Prinsip Keturunan Bilineal Suku Sumba; Kabisu dan Kabihu

Struktur masyarakat suku bangsa Sumba, Nusa Tenggara Barat, berlandaskan pada prinsip keturunan bilineal. Prinsip Keturunan Bilineal Suku Sumba jika di Sumba Barat disebut kabisu dan di Sumba Timur disebut kabihu.

Kabisu, kabihu, atau clan terbagi atas bapak (patrilineal) dan garis keturunan ibu (matrilineal). Kabisu, kabihu (clan) yang menurut garis keturunan bapak disebut patriclan. Sedang yang menurut garis keturunan ibu merupakan matriclan.

Kelompok kekerabatan yang terkecil atau kesatuan sosial yang terkecil ialah keluarga batih (nuclear family). Kesatuan sosial yang terbesar ialah suku, merupakan kelompok-kelompok kerabat besar yang terbagi dalam dua deret kabisu, kabihu, dan sebagai kesatuan kekerabatan yang besar disebut moiety. Kesatuan sosial yang lebih besar lagi ialah sekelompok suku-suku yang tergabung dalam kesatuan sakral, yaitu ikatan kepercayaan (religi) dan keturunan.

Sekelompok suku-suku itu dipersatukan oleh marapu yang menurunkan cikal-bakal mereka. Misalnya, suku-suku kelompok Ana Kalang di Sumba Barat, mempunyai marapu-marapu yang sama, yatu Umbu Sudi dan Rambu Tarebi yang menurunkan Umbu Sebu Ana Wula (Umbu Sebu Anak Bulan) dan Umbu Riri Ana Ladu (Umbu Riri Anak Matahari).

Umbu sebu Ana Wula itu memperistri Umbu Kareri. Keduanya adalah para marapu yang menjadi cikal-bakal keturunan suku-suku kelompok Ana Kalang.

Sebagaimana yang telah dikemukakan di atas, kabisu merupakan unsur pembentuk suku-suku yang terdiri dari patriclan dan matriclan. Di daerah Kodi, Sumba Barat, disebut parona untuk patriclan dan wala untuk matriclan. Keduanya mempunyai pembagian fungsional yang terpisah. Parona berfungsi religius sedangkan Wala berfungsi sosial.

Di Sumba pada umumnya yang diutamakan adalah garis keturunan bapak (patrilineal). Hal tersebut suatu keumuman kecuali di daerah Kodi, tidak tampak adanya perbedaan fungsional yang tajam antara patriclan dan matriclan.

Hal tersebut tampak jelas sekali ialah pembagian atau perbedaan kedudukan dalam hubungan perkawinan, yaitu clan pihak perempuan yang disebut loka dan clan pihak laki-laki yang disebut doma.

Clan pihak perempuan (lokal) kedudukannya dianggap lebih tinggi. Karena secara traidisional, clan pihak perempuan dinyatakan sebagai sumber atau pokok keturunan.

Ketentuan adat mengenai pembagian dan perbedaan kedudukan kabisu-kabisu, kabihu-kabihu dalam hubungan perkawinan tradisional itu berlaku di seluruh Sumba termasuk di daerah Kodi.

Ciri khas kabisu-kabihu di seluruh Sumba termasuk daerah Kodi ialah pada pembagian dan perbedaan kedudukan dalam hubungan perkawinan tradisional itu, yaitu Loka dan Doma.

Dalam hubungan perkawinan asas dalam pelaksanaan praktis tata kehidupan masyarakat tradisional. Segala kegiatan yang menyangkut kepentingan busana kelompok kekerabatan mulai dari keluarga batih, clan sampai suku dilakukan dengan semangat gotong royong mulai dari tingkat persiapan sampai dalam pelaksanaan diwujudkan dengan musyawarah.

Tokoh raja merupakan pelaksana tertinggi untuk mewujudkan keputusan-keputusan musyawarah. Jadi pada dasarnya, tata pemerintahan tradisional bersifat demokratis.

IV. Upacara, Perayaan dan Ritual

Upacara dan perayaan ritual mengiringi berbagai sendi kehidupan di Sumba, salah satunya adalah ritual bagi ibu yang sedang hamil, sejumlah larangan bagi ayah dan ibu, dan juga ritual menyambut kelahiran sang jabang bayi.

Upacara ritual yang paling menarik dan mengagumkan adalah Pasola; sebuah pertarungan antara dua kelompok dengan menunggang kuda. Ritual ini bagaimanapun sarat dengan makna, diantaranya dalam pandangan mereka adalah untuk melatih keahlian dalam menunggang kuda, kekebalan dan kesehatan tubuh.

Meskipun pengaruh dunia modern telah mulai merangsek memasuki sendi-sendi kehidupan masyarakat Sumba, tapi ajaran leluhur dan ritualnya tetap dilakukan secara meriah dan penuh kekhusuan. Upacara tersebut dilakukan setiap bulan Pebruari atau Maret, seminggu setelah bulan purnama.

A. Tradisi Pernikahan Suku Sumba

Pernikahan bagi masyarakat Sumba diatur oleh tradisi Matrilineal. Sistem yang umum disana adalah misalnya: seorang gadis dari sebuah keluarga (A) harus menikah dengan seorang perjaka dari keluarga (B) dan seorang gadis dari keluarga (B) harus menikah dengan perjaka dari keluarga (C) sedangkan gadis dari keluarga (C) harus menikah dengan perjaka dari keluarga (A).

Sistem pernikahan yang berputar diantara kelompok-kelompok keluarga ini disamping merupakan kebiasaan juga didasarkan pada sebuah tradisi yang kompleks dan sudah turun-temurun yaitu pertukaran mahar pernikahan. Kedua keluarga harus membawa serta barang-barang seserahan yang diatur oleh tradisi mereka.

  • Pengantin laki-laki, membawa beberapa ekor kerbau, kuda, unggas, dan emas.
  • Pengantin wanita, membawa gading, emas, kain “ikat” dan sapi.

Sebagai tambahan, sebagian harta benda yang telah ditentukan jumlahnya oleh tradisi juga disembahkan kepada Dewa Merapu sebagai sebuah ritual suci bagi pengantin baru. Barang-barang yang dipersembahkan biasanya berupa beras, uang, daging, dan daun sirih yang disimpan di atap rumah pengantin baru

Barang yang cukup mahal lainnya pada acara pertukaran seserahan antara dua orang bangsawan adalah “mamuli”, sepasang anting emas dengan bentuk kemaluan wanita yang di bagian sisi luarnya dihiasi dengan bentuk hewan, kuda, kerbau, ular, kambing, ayam, dan burung. Perhiasan tersebut melambangkan seksualitas wanita dan kemampuan reproduksinya.

B. Rangkaian Upacara Pernikahan Suku Sumba

Upacara-upacara religius atau pun yang bersifat magis religius merupakan upacara-upacara pokok yang wajib dilaksanakan dalam rangkaian upacara-upacara adat perkawinan. Yang pertama sekali diselenggarakan oleh keluarga pihak si gadis setelah menyatakan menerima lamaran ialah yang dalam istilah Sumba Timur disebut tolu mata mai maringu.

Dalam upacara ini para hadirin menerima berkat dengan dipercik air yang telah didinginkan dan diberi reramuan bunga serai. Dilanjutkan dengan kebaktian dalam rumah marapu pihak pemberi gadis (loka).

Pihak penerima gais (doma) wajib memuliakan marapu loka sebagai pernyataan bahwa pihak pemberi gadis (loka) lebih tinggi kedudukannya. Orang tua si pemuda wajib memberikan.

Persembahan kepada merapu loka berupa sirih pinang, sepasang mamuli, kalung, dan sebuah piring mas atau sepasang mas murni serta hewan korban. Kelak memuli, kalung itu akan diambil dan menjadi miliki mempelai putri.

Pada hari yang ditentukan, mempelai pria wajib menjalani suatu upacara magis yang disebut pala, yaitu meniti, menyeberangi perapian dalam ruma mempelai putri. Hal tersebut bertujuan agar memperoleh kekuatan magis dari api dalam meniti jembatan hidup baru.

Upacara religious berikutnya ialah melakukan kebaktian di rumah marapu yang dilakukan oleh kedua mempelai. Dengan mempersembahkan gewan korban khusus. Hewan tersebut di Sumba Timur diebut patunungu.

Mempelai pria menyembelih seekor kerbai, mempelai putri menyembelih seekor babi. Disusul dengan menyembeli seekor ayam jantan pilihan. Hati ayam dibakar lalu dimakan bersama oleh kedua mempelai. Hal ini melambangkan bahwa kedua sejolo itu telah bertekad bulat untuk seia-sekata dalam menempuh hidup baru

Apabila mempelai putri telah tiba di kampung suaminya ia akan disambut dengan suatu upacara magis religious, yaitu dengan ditebari beras merah beras putih pada seluruh tubuhnya agar memperoleh kesuburan. Di kampung sang suami, dilakukan pula kebaktian di rumah marapu doma. Sudah bawang tentu dengan disertai sesaji dan hewan korban.

Dalam rangka upacara perkawinan tradisional Sumba selalu disertai/dilakukan resitasi pada malam hari sebagai bagian dari traidisi untuk memuliakan para leluhur. Resitasi yang dikumandangkan pada malam-malam perkawinan juga ditujukan untuk memperkuat keyakinan pada kepercayaan marapu dan melestarikan adata yang diwariskan oleh para leluhur.

Resitasi yang dikumandangkan pada malam-malam perkawinan terutama seks adalah mitos-mitos tentang penciptaan alam semesta, tentang asal-usul para leluhur yang menurunkan nenek-moyang suatu bangsa sumba. Serta secara khusus dikumandangkan resitasi tentang adat perkawinan, kaidah-kaidah, dan etik hidup sebagai suami istri. Di Sumba Timur resitasi ini disebut Lii Lalei.

C. Pakaian Adat Sumba dan Peruntukannya

Marapu menjadi falsafah dasar bagi berbagai ungkapan budaya Sumba mulai dari upacara-upacara adat, rumah-rumah ibadat (umaratu) rumah-rumah adat dan tata cara rancang bangunnya, ragam-ragam hias ukiran-ukiran dan tekstil sampai dengan pembuatan perangkat busana seperti kain-kain hinggi dan lau serta perlengkapan perhiasan dan senjata.

Lau adalah kain berbentuk silinder digunakan sebagai pakaian wanita. Hinggi adalah dua lembar kain yang digunakan sebagai pakaian pria.

Di Sumba stratifikasi sosial sekurang-kurangnya masih diterapkan. Strata sosial antara kaum bangsawan (maramba), pemuka agama (kabisu) dan rakyat jelata (ata) masih berlaku, walaupun tidak setajam dimasa lalu dan jelas juga tidak pula tampak lagi secara nyata pada tata rias dan busananya.

Sehingga pakaian pada rakyat Sumba itu mejadi penting karena akan menentukan berada di strata sosial mana ia. Hal ini ditunjukkan oleh kain yang berlembar-lembar menumpuk badan mereka

Busana pada pria misalnya. Busana pria Sumba terdiri atas bagianbagian penutup kepala, penutup badan dan sejumlah penunjangnya berupa perhiasan dan senjata tajam.

Sebagai penutup badan digunakan dua lembar hinggi yaitu hinggi kombu dan hinggi kaworu. Hinggi kombu dipakai pada pinggul dan diperkuat letaknya dengan sebuah ikat pinggang kulit yang lebar. Hinggi kaworu atau kadang-kadang juga hinggi raukadama digunakan sebagai pelengkap.

Di kepala dililitkan tiara patang, sejenis penutup kepala dengan lilitan dan ikatan tertentu yang menampilkan jambul. Jambul inilah dapat diletakkan di depan, samping kiri atau samping kanan sesuai dengan maksud perlambang yang ingin dikemukakan.

Jambul di depan misalnya melambangkan kebijaksanaan dan kemandirian. Hinggi dan tiara terbuat dari tenunan dalam teknik ikat dan pahikung. Khususnya yang terbuat dengan teknik pahikung disebut tiara pahudu.

Pada wanita pun sama, kain diberi nama sesuai dengan teknik tenunnya dengan warna yang berwarna-warni. Seperti lau kaworu, lau pahudu, lau mutikau dan lau pahudu kiku. Kain-kain tersebut dikenakan sebagai sarung setinggi dada (lau pahudu kiku) dengan bagian bahu tertutup taba huku yang sewarna dengan sarung. Juga perhiasan dan hiasan di kepala mereka.

D. Menenun Kain Menjalin Tradisi ala Wanita Suku Sumba

Dari generasi ke generasi, kaum wanita di Sumba mewariskan teknik pembuatan kain yang disebut tenun ikat. Sumba merupakan daerah dimana ikat termahal dibuat, dengan warna umum merah dan biru, dengan corak manusia dan bentuk hewan serta disain geometris.

Pembuatan tenun sendiri membutuhkan waktu yang lama, kadang sampai setahun karena dibuat secara manual.

Tenun ikat sumba tidak hanya digunakan sebagai kain semata namun juga sebagai kain upacara dan pertukaran seserahan pada saat upacara pernikahan, juga untuk upacara pemusaraan jenazah dimana kain dipakai untuk menutupi jenazah

Bagaimana pun, corak dan warna bukanlah tanpa makna. Dibalik itu semua tersimpan simbol yang bermakna. Penggunaan bahan pun menentukan status dan kebanggaan seseorang.

Dulu, hanya golongan bangsawan yang dapat mengenakan ikat sebagai pakaian dengan corak singa atau hewan pejantan lainnya seperti ayam jantan, rusa, atau naga.

E. Upacara Kematian Suku Sumba; Pusara dan Pemusaraan

Selama masa pemusaraan, keluarga menyembelih sejumlah kerbau tergantung status sosial jenazah. Bagi para bangsawan, dulunya ratusan hewan yang dikorbankan, namun sekarang mulai dirubah dan dibatasi dengan memperbolehkan hanya lima ekor sapi/lembu saja.

Jenazah kemudian dipusarakan dalam sebuah batu sarkofagus yang mewah dengan ukuran dan dekorasi yang disesuaikan dengan status sosial dan kekayaannya.

Di tengah-tengah desa tradisional berdiri pusara besar nan mewah milik para leluhur mereka, dimana upacara Merapu masih dilaksanakan dari waktu ke waktu.

V. Perubahan dan Kelajuan

Tradisi leluhur yang diwariskan selama berabad-abad bersamaan dengan pandangan hidup orang Sumba, kini dipengaruhi oleh kehidupan modern

Generasi muda Sumba pergi ke sekolah dan memperoleh cara pandang yang baru dan beda dengan tradisi serta ajaran yang telah leluhur wariskan. Walaupun demikian generasi muda Sumba masih menyimpan hormat dengan menjalankan ritual upacara Merapu dalam kehidupannya.