Categories Traveldraft Tags

Suku Bima, Dou Mbojo Nusa Tenggara Barat

Suku Bima merupakan suku yang mendiami Kabupaten Bima dan Kota Bima Provinsi Nusa Tenggara Barat. Sukun ini telah ada sejak zaman Kerajaan Majapahit. Pemukiman orang Bima biasa disebut kampo atau Kampe yang dikepalai orang seorang pemimpin yang disebut dengan Ncuhi. Jumlah Ncuhi yang terdapat di Suku Bima adalah tujuh Ncuhi yang pemimpin di setiap daerah. … Read more

Suku Bima merupakan suku yang mendiami Kabupaten Bima dan Kota Bima Provinsi Nusa Tenggara Barat. Sukun ini telah ada sejak zaman Kerajaan Majapahit.

Pemukiman orang Bima biasa disebut kampo atau Kampe yang dikepalai orang seorang pemimpin yang disebut dengan Ncuhi. Jumlah Ncuhi yang terdapat di Suku Bima adalah tujuh Ncuhi yang pemimpin di setiap daerah.

Ncuhi dibantu oleh golongan kerabat yang tua dan dihormati. Kepemimpinan diwariskan turun temurun di antara keturunan nenek moyang pendiri desa. Setiap daerah menamakan dirinya sebagai bagian dari Bima, meski pada kenyataannya tidak ada pemimpin tunggal yang menguasai kepemerintahan tanah Bima

Berbagai versi menyebutkan asal mula kata Bima menjadi suku tersebut. Ada yang mengatakan, Bima berasal dari kata “Bismillaahirrohmaanirrohiim”. Hal ini karena mayoritas suku Bima beragama Islam. Menurut sebuah legenda, kata Bima berasal dari nama raja pertama suku tersebut, yakni Sang Bima.

Legenda tersebut tertulis dalam Kibat Bo’. Ceritanya berawal dari kedatangan seorang pengembara dari Jawa yang bernama Bima tadi. Bima merupakan seorang Pandawa Lima yang melarikan diri ke Bima pada masa pemberontakan di Majapahit. Dia melarikan diri melalui jalur selatan agar tidak diketahui oleh para pemberontak, lalu berlabuh di Pulau Satonda

Bima menikah dengan salah seorang putri di wilayah tersebut, dan memiliki anak. Bima memiliki karakter yang kasar dan keras, tapi teguh dalam pendirian serta tidak mudah mencurigai orang lain.

Lalu, para Ncuhi mengangkat Bima menjadi Raja pertama wilayah tersebut yang kemudian menjadi daerah yang bernama Bima. Sang Bima dianggap sebagai raja Nima pertamanya.

Hanya saja, Sang Bima meminta kepada para Ncuhi supaya anaknya yang diangkat sebagai raja. Sementara dia sendiri kembali lagi ke Jawa dan menyuruh dua anaknya untuk memerintah di Kerajaan Bima. Oleh karena itu, sebagian bahasa Jawa Kuno kadang-kadang masih digunakan sebagai bahasa halus di Bima.

Nama Bima sendiri sebenarnya adalah sebutan dalam bahasa Indonesia, sementara orang Bima sendiri menyebutnya Mbojo. Saat menggunakan bahasa Indonesia untuk merujuk “Bima”, yang digunakan tetap harus mengucapkan kata “Bima”.

Tetapi bila menggunakan bahasa daerah Bima untuk merujuk”Bima”, kata yang digunakan secara tepat adalah “Mbojo”. Mbojo ini merupakan salah satu suku Bima karena dalam suku Bima sendiri ada dua suku, yakni suku Donggo dan suku Mbojo. Suku Donggo atau orang Donggo dianggap sebagai orang pertama yang telah mendiami wilayah Bima.

Saat ini, mayoritas suku Bima menganut agama Islam yang kini mencapai 95% lebih, di samping sebagian kecil juga menganut agama Kristen dan Hindu. Tetapi, ada satu kepercayaan yang masih dianut oleh suku Bima yang disebut dengan Pare No Bongi, yaitu kepercayaan terhadap roh nenek moyang.

Pare No Bongi merupakan kepercayaan asli orang Bima. Dunia roh yang ditakuti adalah Batara Gangga sebagai dewa yang memiliki kekuatan yang sangat besar sebagai penguasa.

Kemudian ada lagi Batara Guru, Idadari sakti dan Jeneng, roh Bake dan roh Jim yang tinggal di pohon, gunung yang sangat besar dan berkuasa untuk mendatangkan penyakit, bencana, dan lainnya. Mereka juga percaya adanya sebatang pohon besar di Kalate yang dianggap sakti, Murmas tempat para dewa Gunung Rinjani; tempat tinggal para Batara dan dewi-dewi.

Dalam seni tradisional khas Bima, mereka memiliki tarian khas buja kadanda yang saat ini hampir punah. Namun kini telah mendapatkan perhatian dari pemerintah daerah. Selain itu juga ada tari perang khas suku bima

Ada lagi tarian kalero yang berasal dari daerah Donggo lama. Kalero adalah tarian dan nyanyian yang berisi ratapan, pujian, pengharapan dan penghormatan terhadap arwah. Perlombaan balap kuda juga merupakan wujud kesenian lainnya dari suku bima

Adapun bahasa yang digunakan suku Bima adalah Bahasa Bima atau Nggahi Mbojo. Bahasa ini terdiri atas berbagai dialek, yaitu dialek Bima, Bima Dongo dan Sangiang. Bahasa yang mereka pakai ini termasuk rumpun Bahasa Melayu Polinesia.

Dalam dialek bahasanya, mereka sering menggunakan huruf hidup dalam akhiran katanya, jarang menggunakan huruf hidup. Misalnya kata “jangang” diucapkan menjadi “janga”.

Mata pencaharian utamanya masyarakat suku Bima adalah bertani dan sempat menjadi segitiga emas pertanian bersama Makassar dan Ternate pada zaman Kesultanan.

Oleh karena itu, hubungan Bima dan Makassar sangatlah dekat, karena pada zaman Kesultanan, kedua kerajaan ini saling menikahkan putra dan putri kerajaannya masing.

Mereka juga berladang, berburu dan beternak kuda yang berukuran kecil tapi kuat. Orang menyebut kuda tersebut dengan Kuda Liar. Sejak abad ke-14 kuda Bima telah diekspor ke Pulau Jawa.

Tahun 1920 daerah Bima telah menjadi tempat pengembangbiakan kuda yang penting. Mereka memiliki sistem irigasi yang disebut Ponggawa. Para wanita Bima membuat kerajinan anyaman dari rotan dan daun lontar, juga kain tenunan “tembe nggoli” yang terkenal.

Stratifiksi sosial (Pelapisan Sosial) Suku Bima

Dalam masyarakat Bima dikenal empat stratifiksi sosial atau Pelapisan Sosial Suku Bima, yaitu tingkat raja atau yang disebut Ruma, Bangsawan, Dari, dan Rakyat biasa.

Ruma adalah kelas utama, ia wajib dihormati meskipun dalam kehidupan sekarang sikap dan tindakan penghormatan terhadap Ruma sudah berkurang bahkan cenderung menghilang. Prediket Ruma disandang oleh mereka yang berasal dari keturunan Raja atau Sultan Bima (londo sangaji).

Penyebutan Ruma untuk keturunan Raja atau Sultan hingga saat ini masih dipraktikan oleh mereka yang berasal dari kelas sosial di bawahnya. Yang termasuk dalam golongan ruma (keturunan raja) adalah mereka yang pernah menjadi raja, permaisuri, anak, keluarga ke atas dan ke samping, itulah yang disebut londo ruma atau sangaji (keturunan raja).

Apabila seorang raja atau anak raja menikahi wanita dari golongan lain, maka stratifikasi wanita tersebut berubah menjadi golongan ruma.

Meskipun penyebutan Ruma ditujukan khusus bagi para keturunan Raja atau Sultan, namun dalam praktik sehari-hari penyebutan Ruma juga dipakai menyapa orang-orang tertentu. Orang-orang tersebut adalah mereka yang oleh masyarakat setempat dianggap memiliki kelebihan dan kehormatan.

Misalnya Ruma Ompu, Ruma Guru. Disapa Ruma Ompu dan Ruma Guru karena mereka merupakan orang yang dihormati. Mereka memiliki kelebihan, yaitu kemampuan dan keilmuan serta dituakan dalam masyarakat dan keturunannya.

Selanjutnya adalah kelas bangsawan, yakni mereka yang berada pada kelas di bawah Raja/Ruma. Mereka adalah para pejabat tinggi kerajaan atau kesultanan.

Mereka ini biasa dipanggil Dae atau Dae yang diikuti oleh nama diri yang bersangkutan, misalnya Dae Mi, Dae FU. Dae juga dipakai untuk menyapa keluarga Raja.

Di samping dari keturunan para pejabat dan abdi kerajaan, penyebutan bangsawan (dae) juga dipakai untuk mereka yang memiliki kemampuan, keilmuan atau kelebihan tertentu dari orang-orang pada umumnya, misalnya seorang guru atau pejabat.

Perlakukan tertentu terhadap mereka ini merupakan bentuk penghormatan dan penghargaan yang dilakukan oleh masyarakat

Golongan ketiga adalah Dari. “Dari” pada awalnya adalah golongan masyarakat biasa. Mereka kemudian diangkat untuk bekerja di istana sesuai dengan bidang keahlian dan kemampuan mereka.

Mereka dianggap sebagai golongan masyarakat tersendiri. Golongan masyarakat ini mencakup pegawai rendah istana, pesuruh, atau tukang untuk melaksanakan pekerjaan tertentu di dalam atau di luar lingkungan istana.

Tugas dan tanggung jawab “dari” adalah melakukan pengawasan pekerjaan di dalam atau di luar istana, pekerjaan pesuruh, urusan kesenian istana dan perlengkapannya, urusan produksi dan perlengkapan istana, urusan tenaga kerja istana.

Pelapisan Sosial Suku Bima yang terakhir adalah golongan masyarakat biasa. Yang termasuk dalam golongan ini adalah mereka yang tidak termasuk dalam tiga golongan di atas. Dalam kesehariannya, mereka melakukan pekerjaan sebagai petani, nelayan, tukang, pedagang, dan lain-lain.

Meskipun struktur masyarakat orang Bima terdiri atas empat, yaitu ruma, bangsawan, dari, dan rakyat biasa, namun berkaitan dengan pemakaian bahasa, struktur atau pelapisan masyarakatnya dapat digolongkan ke dalam dua yaitu orang bangsawan dan orang biasa.

Sistem Kekerabatan Suku Bima

Orang Bima dengan sistem bilateralnya mengenal dua garis keturunan, yaitu garis keturunan ayah dan garis keturunan ibu.

Orang Bima tidak mengenal terminologi marga seperti pada orang Batak dalam sistem kekerabatannya, akan tetapi yang dikenal adalah sistem “percabangan” yang bersumber dari dua garis, yaitu garis dari nenek moyang laki-laki dan garis dari nenek moyang perempuan.

Kedua garis keturunan ini akan membentuk jaringan sepupu dari kedua pihak dari dua pasang kakek-nenek tersebut. Dari kedua pasang kakek nenek ini diperoleh empat pasang kakek nenek, dan demikian seterusnya.

Dengan demikian, setiap orang berada dalam ruang lingkup kerabat yang berasal dari dua cabang. Dua cabang itu dari garis ayah (ama) dan ibu (ina), mulai dari kerabat yang paling dekat, dari cabang kedua orang tuanya (misalnya: saudara, keponakan) hingga kerabat yang jauh yang berasal dari beberapa lapis nenek moyang yang menurunkan berbagai lapis sepupu mereka.

Hubungan kekerabatan suku Bima ini dikenal dengan sabua londo ra mai kaina (satu keturunan), hubungan yang berdasarkan nenek moyang ini baik dari pihak ayah maupun dari pihak ibu menyatukan mereka dalam suatu sistem kekerabatan, sekaligus membedakan mereka dari orang lain (dou ma kalai).

A. Adat Pernikahan Suku Bima

Dalam adat pernikahan suku Bima umumnya mereka mengikuti beberapa tahap sesuai dengan tuntunan agamanya. Karena mayoritas agamanya adalah Islam, maka tuntunan adat pernikahannya mengikuti tuntunan Islam.

Tahap Palinga

Tahap ini merupakan tahap pencarian calon istri, bila sudah mendapatkannya pihak keluarga laki-laki akan mengirimkan utusan untuk menanyakan hal tersebut kepada pihak perempuan.

Tahap Peminangan

Sesuai kesepakatan antara kedua belah pihak, rombongan pihak laki-laki mendatangi pihak keluarga perempuan untuk meminang, serta menentukan pernikahannya.

Malam Kapanca

Setelah itu, sehari sebelum diselenggarakan akad nikah, diadakah Upacara Malam Kapanca, yaitu pemberian daun pacar atau inai kepada calon pengantin.

Akad Nikah

Usai pemberian daun pacar, maka keesokan harinya diselenggarakan lah acara akad nikah. Rombongan pihak laki-laki mendatangi keluarga pihak perempuan untuk diselenggarakan akad nikah.

Tokencai

Terakhir adalah acara Tokencai, yaitu pengantin laki-laki menjemput pengantin perempuan dari kamarnya melalui serangkaian tradisi yang unik.

Sebelum masuk, dia harus terlebih dahulu mengetuk pintu kamar dan terjadilah acara saling berbalas pantun.

Pintu kamar akan dibukakan bila pengantin pria bersedia memberikan hadiah atau sejumlah uang yang besarnya telah ditentukan oleh ina ru’u atau perias pengantin.

Pada Bima Dompu calon suami tinggal bersama di rumah calon mertua yang disebut dengan Ngge’e nuru. Ngge’e artinya tinggal, nuru artinya ikut.

Setelah pria sudah diterima lamarannya dan bila kedua belah pihak menghendaki, sang pria diperkenankan tinggal bersama calon mertua di rumah calon mertua. Dia akan menanti bulan baik dan hari baik untuk melaksanakan upacara pernikahan.

B. Sapaan Dalam Sistem Kekerabatan Suku Bima

Konsep kekerabatan Suku Bima cukup sederhana dan termasuk sistem kekerabatan garis generasi. Kerabat yang berasal dari garis generasi yang sama, baik laki-laki maupun perempuan, saudara laki-laki, saudara perempuan, atau sepupu dikategorikan sebagai saudara.

Mereka saling menyapa dengan sapaan sa’e (kakak), ari (adik), atau cina (saudara sepupu). Bagi generasi di bawahnya, mereka akan dipanggil dengan ana (anak) termasuk anak kandung dan kemenakan atau keponakan (anak dari sepupu laki-laki maupun perempuan).

Selanjutnya anak dari kemenakan atau keponakan ini akan dipanggil dengan wa’i (cucu perempuan) dan ompu (cucu laki-laki); anak dari cucu dipanggil dengan waro baik untuk laki-laki maupun untuk perempuan. Sapaan wa’i atau ina ntua juga dipakai untuk menyapa nenek dan ompu atau ama ntua untuk kakek

Generasi di atas wa’i dan ompu disapa dengan waro (baik untuk laki-laki maupun perempuan). Sementara itu, semua kerabat yang segenerasi atau seangkatan dengan bapak dan ibu akan disapa dengan dua atau ori atau ama nto’i.

Sapaan dua dipakai jika umurnya sama atau lebih tua daripada umur bapaknya, sedangkan ori atau ama nto’i dipakai jika umurnya lebih muda daripada umur ibu dan bapaknya. Ori biasanya dipakai untuk menyapa adik laki-laki dari ibu dan amanto’i dipakai untuk menyapa adik laki-laki dari ayah. Manca dipakai untuk menyapa adik perempuan dari ayah dan inanto’i dipakai untuk menyapa adik perempuan dari ibu.

Meskipun demikian, sapaan di atas dapat juga dipakai pada orang lain yang bukan kerabat. Ada kecenderungan kebiasaan untuk menyapa orang-orang dekat dengan sapaan-sapaan sesuai dengan generasi mereka masing-masing.

Misalnya, seorang nenek akan menyapa anak (seumur dengan cucunya) dari orang yang segenerasi dengan anaknya dengan sapaan wa’i. Seorang bapak akan menyapa putra sahabatnya dengan ana.

Sapaan ini dipakai bukan karena ada hubungan darah atau kerabat, tetapi karena mereka berasal dari generasi yang berada pada dua atau satu tingkat di bawahnya.

Atau hal ini juga dapat berarti bahwa antara penyapa dan yang disapa tampak akrab, seperti orang yang sedarah atau sekerabat.

Sistem Mata Pencaharian dan Ekonomi

A. Tradisi Bercocok Tanam Suku Bima

Aktivitas berladang merupakan warisan leluhur yang menjadi tradisi dan diwariskan secara turun temurun, begitupun bagi masyarakat Bima. Tradisi berladang mereka ditandai dengan kehidupan di atas gunung. Mereka menggarap ladang berpindah-pindah dari gunung yang satu, ke gunung lainnya.

Langkah ini juga ditempuh sebagai sebuah upaya pemenuhan kebutuhan tambahan dalam rangka bertahan hidup, juga usaha menjauhkan diri dari kemiskinan.

Selain itu, perpindahan dan penyebaran penduduk, sangat dipengaruhi oleh tradisi berladang rakyat yang berpindah-pindah.

Untuk memulai berladang, mereka mengadakan musyawarah terlebih dahulu. Hal ini berkaitan dengan pembagian kerja antara laki-laki dan perempuan..

Laki-laki sibuk mempersiapkan seluruh peralatan seperti batu asah (kamalo), parang (cila), kapak (ponggo), maupun tembilang (cu’a), serta alat lainnya.

Sementara kaum perempuan menyiapkan bekal untuk makan dan minum. Itulah pembagian kerja dalam mencapai tujuan bersama. Kaum perempuan juga melakukan penanaman pada ladang yang sudah disiapkan kaum laki-laki.

Kaum laki-laki membabat kayu (ngoho) pada lokasi yang akan dijadikan ladang (oma). Pembabatan dilakukan berhari-hari, kadang menempuh waktu yang cukup lama jika lahannya cukup luas.

Untuk mempercepat, biasanya dengan membiayai masyarakat lainnya untuk membantu pembabatan atau penebangan. Setelah penebangan kayu selesai, kemudian dimulailah tahap berikutnya yakni pembakaran.

Sebelum memasuki waktu penanaman padi, mereka melakukan ritual adat yang dilaksanakan di atas bukit, disertai dengan do’a bersama dan musyawarah. Proses tersebut berlangsung dengan dipimpin oleh orang “tua” atau orang yang percayakan sebagai tokoh masyarakat yang berladang di lokasi tersebut.

Penanam padi di ladang yang dilakukan kaum perempuan, baik yang tua maupun muda merupakan penanam buruhan. Di antaranya ada yang di upah/gaji dengan memberikan uang tunai, beras, padi

Ada pula yang membantu dengan kesepakatan. Di kala orang tersebut menanam padi di ladangnya, akan dibantu kembali (cepe/cempe rima, weha rima).

Dalam proses penanam, terdapat pula seseorang yang mengiringinya dengan biola atau gambus, perpaduan keduangnya dalam bahasa bima di sebut “nggu’da sagele”. Ndiri ro sagele merupakan sebuah harmoni yang hidup dalam tradisi penanaman padi di ladang.

Sagele dapat dilakukan dengan “biola” yang disebut juga dengan ndiri, alat lainnya yang biasa juga di gunakan yakni gambus (gambo). Kadangkala di iringi dengan lagu-lagu khas dana mbojo, seperti haju jati, jaraledo, wadu ntanda rahi, sangiang, dan lain sebagainya

Biasanya, proses penanaman padi di ladang akan lebih cepat jika diiringi dengan alunan biola atau gambus. Penanaman akan dilakukan secara serentak, syarat dengan kebersamaan

Alat yang digunakan semacam tembilang (cu’a sagele) yang di rancang khusus untuk menanam padi di ladang, terbuat dari sebilah besi, bentuknya memanjang, panjang sekitar 20 hingga 30 cm, lebarnya satu atau satu setengah senti meter.

Di bagian ujung atas tembilang, terdapat sebuah lubang, yang sengaja di buat untuk dimasukkan kayu sebagai gagang dikala menanam. Gagangnya terbuat dari sebatang kayu (Haju Luhu) yang telah di desain dengan baik dan berdiameter sekitar 8 cm dan panjang 80 cm.

Tanaman yang ditanam selain padi, ada pula jagung, wijen, gandum, mentimun, labu, serta umbi-umbian lainnya. Beberapa tanaman tambahan merupakan bahan pelengkap berupa sayur mayur selama menjalani hidup di ladang, kadangkala umbi-umbian yang dipanen itu dijual pula di pasar.

Ketika memasuki musim panen, prosesnya hampir sama dengan musim tanam, yang terlibat sepenuhnya ialah perempuan, perbedaannya yakni alat yang digunakan untuk memanen berupa pemotong padi yang dalam bahasa bima disebut “kentu”. Kentu digunakan khusus untuk padi gunung, sedangkan sabit (rombe) digunakan untuk panen padi yang biasa ditanam di sawah.

Padi yang telah dipanen oleh perempuan, kemudian di ikat (to’do) agar bisa di letakan dengan baik diatas pemikul. Untuk padi gunung, dibawa pulang kerumah dengan dipikul (Lemba) oleh laki-laki dan perangkat pikulnya terbuat dari bamboo (o’o) yang dirancang khusus untuk alat pikul padi, gandum dan beberapa hasil panen lainnya.

Perempuan bisanya menjunjung (su’u) yakni meletakkan padi di atas kepala, padi yang telah dikemas dengan sarung atau kain itulah yang di junjung oleh perempuan.

Dalam aktivitas berladang tercipta harmoni hubungan laki-laki dan perempuan, harmoni hubungan manusia dengan alam. Harmoni kehidupan laki-laki dan perempuan ditandai dengan pembagian kerja yang baik untuk mencapai tujuan. Menciptakan keseimbangan peran karena kesatuan peran keduanya ialah saling melengkapi.

B. Lao ngupale de; Ketika Orang Bima Menghadapi Paceklik

Orang Bima yang tinggal di pedesaan sebagian hidupnya menggantungkan pada hasil kegiatan meramu, yaitu kegiatan mencari bahan makanan yang tumbuh di hutan-hutan.

Terutama pada masa paceklik tiba, kegiatan meramu mereka lakukan untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Istilah meramu pada masyarakat Bima disebut dengan Lao ngupale de (Lao ngupale’de). Biasanya yang mereka cari adalah jenis umbi-umbian, terutama mereka mencari gadung atau orang Bima menyebutnya le’de.

Umumnya, orang bisa melakukan kegiatan meramu pada musim penghujan karena pada saat itu umbi-umbian sedang tumbuh, umbian pun cukup ranum untuk dimakan.

Dalam musim kemarau seringkali beberapa jenis umbi-umbian tandan atau batangnya yang menjalar menjadi puso karena panas. Tandan tersebut kurang jelas terlihat, dimana tempat umbi-umbian itu harus digali.

Pada musim hujan setelah pekerjaan di sawah atau di ladang selesai, waktu senggang digunakan untuk meramu. Tetapi, sebagian besar orang Bima seperti yang sudah disinggung sebelumnya, bahwa kegiatan meramu dilakukan pada saat masa paceklik.

Tetapi bila keadaan baik, yaitu keadaan panen dan banyak bahan makanan, orang Bima melupakan kegiatan meramu. Lagi pula, mengolah umbi-umbian seperti le’de prosesnya cukup lama dan rumit karena harus membuang zat beracun yang terdapat pada le’de.

Dalam pengolahannya, le’de dikupas kulitnya lalu dipotong sebesar kelingking. le’de yang sudah dipotong tersebut dimasukan ke dalam baskom berisi air, lalu dicampur dengan garam dan disimpan selama satu malam.

Setelah itu, air dari le’de yang bercampur dengan garam tadi dibuang sambil ditekan atau dinjak-injak dengan campuran abu dapur. Setelah air garam tersebut hilang dari le’de, lalu dicampur dengan air dari sejenis pohon perdu yang tumbuh di hutan.

Jika sudah dicampur dengan air dari pohon tersebut, lalu dibawa ke sungai. Bakul diletakan di dalam sungai yang dangkal agar le’de tidak hanyut oleh air, lalu diinjak-injak selama satu jam. Kemudian baru dicoba, apakah racunnya sudah hilang atau belum.

Caranya dengan mengepal kuat le’de tersebut, lalu dilempatkan ke dalam air. Jika gadung tersebut tidak berserakan, berarti racun atau zat yang dapat membuat seseorang gatal tersebut sudah hilang

Gadung atau le’de pun bisa dikonsumsi oleh keluarga, bahkan tahan sampai berbulan-bulan lamanya dengan cara dimasukan ke dalam karung atau bakul. Jika mau disimpan, gadung tersebut harus dikeringkan terlebih dahulu. Setelah kering langsung dimasukan ke dalam tempat penyimpanan. Kadangkala mereka menjualnya untuk mendapatkan penghasilan tambahan.

Peralatan yang mereka bawa untuk mencari umbi-umbian di hutan atau di daerah perkebunan penduduk adalah bakul, parang, pisau dan susur atau cangkul kecil yang memiliki tangkai pendek.

Susur digunakan untuk menggali, parang dan pisau digunakan untuk memotong akar-akaran atau tandan umbi-umbian tersebut. Bakul sebagai wadah hasil meramu berupa umbi-umbian tersebut.

Kegiatan meramu atau mengumpulkan bahan-bahan makanan, orang Bima hanya bekerja melakukan hal itu untuk diri dan keluarganya saja. Tetapi bila seseorang telah mendapatkan hasil yang cukup untuk dibawa pulang, barulah mereka membantu temannya yang belum mendapatkan hasil yang cukup.

Oleh karenanya, sebelum teman-teman yang lain belum memperoleh hasil yang cukup untuk dibawa pulang, mereka tak akan pulang terlebih dahulu.

Pekerjaan membantu teman untuk mencari umbi-umbian dalam kegiatan meramu disebut dengan saling tulung mete. Dengan demikian, mereka akan pulang bersama-sama ke pedesaan mereka dengan membawa hasil yang cukup bagi keluarganya.

C. Nggalo; Saat Orang Bima Berburu di Hutan

Kegiatan berburu merupakan salah satu mata pencaharian suku Bima yang sudah dilakukan secara turun temurun. Istilah di Bima, berburu disebut dengan nggalo dengan menggunakan anjing sebagai alat berburu mereka.

Bima memiliki areal hutan yang cukup luas. Berburu bagi orang Bima tak hanya dijadikan sebagai mata pencahariannya, tapi juga sebagai aktivitas kegemaran yang mereka miliki, terutama anak remaja.

Pada golongan anak muda di Bima, berburu merupakan suatu aktivitas kegemaran. Beda lagi dengan golongan orang tua, berburu dilakukan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.

Hasil buruan mereka jadikan sebagai lauk-pauk atau dijual sebagai penghasilan tambahan. Biasanya mereka tidak mengorganisir pemburuan dengan rapi, tidak ada pemimpin dan anak buah dalam aktivitas berburu.

Karena tidak ada pemimpin dan anak buah, orang Bima termasuk beberapa suku yang ada di Nusa Tenggara Barat menggunakan sistem pembagian tugas dalam membawa peralatan berburu.

Misalnya siapa yang membawa cila, siapa yang membawa anjing buruan, dan peralatan lainnya yang dibutuhkan. Jumlah anggota dalam kelompok berburu yang biasa dibentuk oleh orang Bima umumnya terdiri dari tiga sampai empat orang saja.

Karena orang Bima mayoritas agamanya adalah Islam, maka binatang buruanya hanya jenis tertentu yang menurut agama mereka halal untuk dimakan. Babi adalah salah satu binatang yang tidak masuk dalam buruan mereka.

Kalau pun ada, hanya sebagian kecil saja orang Bima yang menjadikan babi sebagai binatang buruan. Itupun tidak mereka makan, tapi dijual kepada orang lain hanya untuk mengganti keperluan dalam melengkapi peralatan berburu. Adapun binatang yang diburu biasanya adalah kijang, rusa, menjangan, sapi liar, dan kambing liar.

Karena kurangnya peminat daging babi di Bima, maka jumlah binatang tersebut berkembang cukup pesat. Sementara kijang dan menjangan jumlahnya semakin menyusut

Bagi orang Bima, berburu bukanlah aktivitas utama mereka. Berburu dilakukan pada waktu senggang saja saat pekerjaan di sawah dan ladang telah selesai, sembari menunggu masa penen selanjutnya tiba

Alat berburu yang digunakan orang Bima, khususnya pada wilayah Monta—salah satu wilayah yang ada di Bima—adalah anjing buruan, dan sejenis golok yang disebut dengan cila—seperti yang sudah disebutkan sebelumnya

Alat sejenis golok ini bertangkai pendek, di ujungnya lebih tebal, sangat tepat dijadikan sebagai alat berburu. Anjing digunakan untuk menakut-nakuti dan mengejar binatang buruan. Saat binatang buruan tersebut kelelahan karena dikejar anjing, mereka menebaskan cila ke arah sasaran binatang buruan.

Kadang mereka membuat perangkap untuk menjebak binatang buruan yang dikejar anjing. Saat binatang buruan masuk tempat perangkap yang mereka buat, orang yang menemukan binatang tersebut langsung menebas dengan cila atau memukulnya.

Hal tersebut bisa dilakukan oleh siapa saja yang menemukan binatang masuk perangkap tersebut, tidak mesti anggota dalam kelompok tersebut. Sehingga, bagi orang yang tak terlibat dalam anggota kelompok berburu tersebut mendapatkan pembagian yang sama dari hasil binatang buruan tersebut.

Hasil binatang buruan yang telah mereka dapatkan dibagi rata antara sesama anggota dalam kelompok berburu. Karena jumlah hasil buruan yang mereka dapatkan seringkali mendapatkan banyak, maka masing-masing anggota kelompok mendapatkan satu ekor binatang buruan.

Orang Bima biasanya menjadikan hasil buruan dalam bentuk dendeng yang dipotong besar-besar. Dendeng rusa dan sapi liar sangat banyak diperdagangkan di pasar Bima.

Selain dagingnya, orang Bima mengambil tanduk rusa buruannya untuk dijual sebagai mainan. Kadang mereka menjualnya kepada orang Tionghoa untuk dijadikan ramuan obat-obatan.

D. Beternak dalam Kehidupan Suku Bima

Kekayaan seseorang bagi orang Bima bisa diukur dari jumlah kerbau, kuda, atau sapi. Kambing dan ayam merupakan hewan tenak tambahan yang dilepaskan di daerah pengembalaan.

Orang Bima menjadikan peternakan sebagai mata pencaharian yang penting di samping pertanian atau bercocok tanam. Hewan yang diternakan oleh orang Bima yaitu sapi, kerbau, kuda, kambing dan ayam. Sementara babi tak mereka ternakan karena orang Bima menganut agama Islam yang mengharamkan daging babi.

Orang Bima berternak dengan cara melepaskan secara bebas hewan ternaknya di hutan, hewan tersebut berkembang biak di hutan pula. Ketika pemiliknya bermaksud untuk menjual atau memotong ternaknya, mereka mencarinya di hutan.

Kerbau yang digembalakan di hutan selama musim kemarau pada awal musim hujan dibawa ke desa untuk pengerjaan tanah sawah. Selama pengerjaan tanah, kerbau berada di kandang. Adapun pengambilan sapi dari hutan untuk mengolah sawah, orang Bima menyebutnya laoweha sahe.

Setelah selesai dipergunakan untuk mengolah sawah, kerbau-kerbau tersebut dibawa kembali ke hutan untuk hidup secara bebas dengan diawasi oleh pengangon
Agar pemiliknya tidak keliru mencari hewan ternaknya di hutan karena banyaknya ternak yang berkeliaran di hutan, maka masing-masing pemilik memberikan tanda pada ternaknya. Setiap pemilik memiliki tanda khusus tersendiri.

Karena begitu banyaknya jenis tanda pengenal, akhir-akhir ini di Bima, tanda tersebut berikut warna dan jenis kelaminnya didaftarkan ke kantor desa masing-masing pemilik ternak. Adapun peternakan kuda digunakan sebagai penarik dokar.

Orang Bima sering menjual kudanya ke luar daerah. Daerah-daerah yang membeli kuda dari Bima biasanya adalah Probolinggo dan Pasuruan Jawa Timur. Mereka menilai, kuda Bima sangat cocok dijadikan penarik dokar karena tenaga yang dimiliki kuda Bima sangat kuat.

Pemeliharaan hewan ternak yang dilakukan kadang dipelihara sendiri, menggunakan tenaga anak-anak mereka, atau juga diserahkan pemeliharaannya pada orang lain dengan menggunakan sistem bagi hasil.

Dengan cara ini, seseorang yang memelihara hewan ternak, misalnya saja ternak sapi, akan mendapatkan anak sapi. Pembagian hasil seperti ini juga berlaku bagi hewan ternak lain, seperti kerbau, kambing dan lainnya.

Sudah sejak lama, kerbau yang diternakan orang Bima diekspor ke beberapa negara, seperti Taiwan, Hongkong, dan Singapura. Ternak tersebut dibeli oleh eksoportir dari tangan-tangan pemilik peternak melaui para tengkulak.

Pemilik ternak menjual hewan ternak biasanya untuk membeli tanah, membeli ternak yang lebih kecil guna dibiakan dan untuk dijadikan alat utama dalam aktivitas pertanian.

Hewan-hewan yang dimiliki oleh para peternak tidak dipergunakan untuk konsumsi daging. Hanya dalam pesta-pesta besar saja mereka mepergunakan hewan ternak seperti sapi dan kerbau. Sementara untuk pesta-pesta kecil mereka hanya memotong kambing serta ayam dan itik

Adapun kuda seperti yang dibahas sebelumnya dipergunakan untuk menarik dokar. Hal ini berbeda dengan orang Lombok, yang menggunakan kuda sebagai salah satu daging untuk konsumsi. Dengan kata lain, orang Bima mempergunakan hewan ternak sesuai dengan keperluannya.

Pare No Bongi; Kepercayaan Roh dan Nenek Moyang di Suku Bima

Meskipun agama mayoritas masyarakat Bima adalah Islam, tapi ada satu kepercayaan yang masih dianut oleh suku Bima yang disebut dengan Pare No Bongi, yaitu kepercayaan terhadap roh nenek moyang.

Pare No Bongi merupakan kepercayaan asli orang Bima. Dunia roh yang ditakuti adalah Batara Gangga sebagai dewa yang memiliki kekuatan yang sangat besar sebagai penguasa.

Kemudian ada lagi Batara Guru, Idadari sakti dan Jeneng, roh Bake dan roh Jim yang tinggal di pohon, gunung yang sangat besar dan berkuasa untuk mendatangkan penyakit, bencana, dan lainnya.

Mereka juga percaya adanya sebatang pohon besar di Kalate yang dianggap sakti, Murmas tempat para dewa Gunung Rinjani; tempat tinggal para Batara dan dewi-dewi.

Roh-roh nenek moyang di jaman awal disebut Marafu dan tempat kediamannya disebut parafu. Generasi di bawahnya disebut Waro.

Dalam kepercayaan suku Bima, selama hidupnya kebutuhan umum dan kontak dengan Tuhan dalam kerajaan roh-roh saling melengkapi. Segala kebutuhan makhluk bumi disanggupi oleh roh-roh itu. Apabila dalam keadaan sakit atau kekurangan hujan, seseorang akan mendatangi perantara dengan penuh harap.

Marafu dan Waro tinggal di batu-batu besar, di gunung-gunung, sedangkan roh orang biasa berada di sekitar kuburannya sendiri, kecuali roh kepala suku. Hal ini karena, dari waktu ke waktu boleh naik ke gunung dimana Tuhan berada.

Orang Bima percaya juga kepada kekuatan gaib yang berada pada binatang-binatang yang dalam ilmu kebudayaan disebut totemisme. Totemisme merupakan kepercayaan asli bangsa Indonesia.

Kepercayaan yang sama terdapat di kepulauan Polinesia di Lautan Teduh. Kepercayaan ini pernah menghilang dalam waktu yang cukup lama, sejak agama hindu masuk ke Indonesia. Kemudian muncul kembali pada masa kekuasaan Kerajaan Kediri yang dibuktikan dengan Prasasti Jaring.

Sisa-sisa totemisme dapat dilihat pada:
1. Pada kedua ujung bubungan rumah dipasang kepala kerbau, kambing atau domba yang masih bertanduk.

Pada masa berikutnya, menjelang masuk abad XX hal itu mengalami perubahan evolusi, kemudian diganti dengan kayu yang berbentuk tanduk yang menjulang ke atas. Sekarang bentuk seperti itu menjadi perhiasan dan ciri khas rumah Bima.

2. Dipergunakan sebagai nama marga (Bima : londo dou) seperti :

  • Londo dou deke (Bima : deke = tokek)
  • Londo dou duna (Bima : duna = belut)
  • Londo dou gande (Bima : gande = laba-laba)

Tiap marga atau londo dou harus tunduk kepada ketentuan dan peraturan masing-masing marga, yang mempunyai sanksi hukum.

3. Masih tersimpan dalam cerita rakyat seperti legenda Sang Naga bersisik emas di Satonda, Jara Manggila, dan lain-lain.

Disamping menyembah roh dan kesaktian seseorang atau binatang, orang Bima menyembah beberapa dewa, yaitu :

  • Dewa langi : Dewa Langit
  • Dewa Oi : Dewa Air
  • Dewa Mango : Dewa Kering

Dewa Mango diseru dan disembah bila datang bahasa kekeringan atau kemarau panjang di awal musim hujan. Dewa diseru melalui Marafu dan Waro.

Sebagian besar kekuasaan dewa-dewa itu berada pada Dewa Langi yang bersemayam di sebelah atas awan, mungkin di matahari. Untuk pemujaannya mereka harus naik ke gunung (Bima : doro) atau doro Lasi, doro Paha, doro Wadundangga, dan lain-lain.

Lain-Lain

A. Perlengkapan dan Peralatan Tradisional Bima

Perlengkapan dan peralatan dalam pemenuhan kebutuhan orang Bima meliputi alat rumah tangga, pertanian, berburu, perikanan, peternakan, dan kerajinan.

Alat rumah tangga digunakan untuk keperluan di dalam rumah tangga pada masyarakat Bima, terutama peralatan dan perlengkapan yang melengkapi ruang dapur mereka.

Orang Bima biasanya membuat dapur di bagian terbelakang dari uma panggu. Orang Bima menyebutnya rika, sementara para-para disebut tajarika.

Ruang dapur tersebut di samping sebagai tempat memasak, juga tempat untuk menyimpan berbagai peralatan dan perlengkapan. Orang Bima membuat cobek sebagai alat untuk menggiling sambal yang tidak dibuat dari tanah liat seperti kebanyakan suku lain yang ada di Nusa Tenggara Barat.

Tetapi cobek yang digunakan berasal dari batu kali yang dipungut begitu saja. Batu kali yang dipergunakan dipilih yang memiliki bentuk pipih, jadi bukan dibentuk atau dibuat oleh mereka. Dalam Bahasa Bima, cobek atau alat penggiling sambal tersebut disebut wadu kiru
Adapun piring yang digunakan oleh orang Bima dibuat dari tempurung kelapa, namanya dalam bahasa Bima adalah kalea. Alat-alat rumah tangga lain adalah roa ro tabe, fungsinya untuk keperluan dapur yang terbuat dari tanah liat.

Seperangkat alat untuk makan sirih disebut ta’u’a yang dibuat dari jenis kuningan atau juga dari kayu. Untuk pencuci tangan disebut ngamo ro wacarima yang terbuat dari kuningan ataupun dari tanah liat.

Untuk menyimpan beras, orang Bima menyimpannya di pantu bongi yang terbuat dari tanah liat. Pantu bongi berbentuk seperti gentong, alat tersebut diletakan di tempat tidur atau di dekat alat-alat dapur lain. Sementara lumbung padi di Bima disebut lengge atau juga jompo yang dimiliki oleh para petani

Alat untuk menumbuk padi di Bima disebut kandei ro nocu yang dibuat dari kayu, sedangkan alu dibuat dari bambu atau kayu. Untuk air pencuci keperluan sehari-hari, mereka menggunakan perlengkapan yang disebut padasa, terbuat dari tanah liat.

Sementara alat-alat lain seperti ember, tempat nasi pada suku Bima kebanyakan buatan pabrik—yang menggunakan mesin modern—bukan buatan tangan manusia

Alat dan perlengkapan lain adalah untuk pertanian. Orang Bima menggunakan kerbau ataupun sapi untuk mengolah sawah. Kerbau atau sapi tersebut dipasangi tenggala untuk membajak sawah. Tenggala terdiri dari tatahan, yakni kayu dari pohon kelapa dan kayu enau sepanjang dua setengah meter dengan ketebalan sekitar satu setengah meter.

Pada tenggala dibuatkan pegangannya, di bagian bawah tenggala dilubagi untuk menyelipkan gigi yang terbuat dari besi, namanya penggigi berbentuk anak panah yang cukup tebal. Di antara kedua sapi yang menarik bajak tersebut dibuatkan alat untuk menyatukan sapi-sapi tersebut yang terbuat dari kayu.

Peralatan tani lain yang digunakan orang Bima adalah cangkul. Tangkai cangkul tersebut panjangnya sekira satu setengah meter. Guna cangkul tersebut untuk menggemburkan tanah, dan membuat saluran air ke sawah-sawah mereka.

Cangkultersebut dapat dibeli di toko, atau mereka juga bisa membuatnya sendiri. Untuk membersihkan ladang atau sawah dari tumbuhan yang mengganggu tanaman, orang Bima menggunakan alat yang disebut cila, yang memiliki tangkai agak pendek dan ujung lebih besar.

Cila juga digunakan oleh orang Bima untuk berburu, di samping mereka juga menggunakan anjing buruan.

Dalam perikanan, mereka memiliki berbagai macam peralatan, diantaranya adalah sejenis jala yang bernama ndala, kodong, krakat dan lainnya. Ndala dibuat dari benang yang dipintal, dan dipasang pemberat yang berbahan timah.

Mereka melemparkan jala ke air, kemudian ditarik secara perlahan setelah pemberat sampai di dasar air. Ndala bisa digunakan di perairan darat maupun laut

Ada lagi alat perikanan lain, yaitu sejenis pancing. Orang Bima menggunakan alat tersebut yang berbeda antara di perairan darat dan laut. Mereka menggunakan sejenis pancing yang disebut kawi untuk memancing ikan di sungai.

Sementara untuk menangkap ikan-ikan kecil di laut, orang Bima menggunakan sai, yakni sejenis pancing untuk di laut. Alat tersebut terbuat dari anyaman bambu yang ditancapkan di laut agak dangkal

Ada lagi alat lain yang bernama kodong. Alat tersebut terbuat dari bambu yang dianyam menjadi benda menyerupai sangkar burung yang memanjang ke bawah.

Di bagian bawah diberi lubang yang bentuknya lancip sebagai jalan masuknya ikan kecil atau udang-udang. Kemudian ada lagi krakat, bentuknya sama dengan jala. Hanya saja krakat tidak menggunakan pemberat berbahan timah tadi.

Krakat hanya digunakan untuk menangkap ikan di laut saja. Sementara alat untuk peternakan tidak terlalu banyak karena orang Bima melepaskan ternaknya secara bebas di hutan.

Pada bidang kerajinan, peralatan yang digunakan orang Bima diantaranya adalah tandiman, yakni alat untuk menenun. Alat untuk membuat benang disebut gantian yang terbuat dari kayu setebal 30 cm, dan panjangnya 80 cm. Di atasnya dibuat tempat pemutar benang.

Sebelum kapas dibuat benang, kapas dibersihkan terlebih dahulu dari kotoran atau biji-bijian dengan menggunakan alat yang terbuat dari kayu. Alat tersebut berfungsi sebagai pemeras kapas.

Selain tandiman, orang Bima juga membuat alat kerajinan tangan lain berupa pisau kecil. Kebanyakan alat-alat tersebut dibuat sendiri oleh keluarga pada masyarakat Bima.

B. Moda Transportasi Orang Bima

Salah satu alat perhubungan darat yang digunakan oleh orang Bima adalah dokar atau benhur, dan gerobak.Sedangkan untuk perairan jarak dekat adalah lopi.

Dahulu roda dokar terbuat dari bungkil karet yang diambil dari ban motor, sekarang sudah diganti dengan ban motor. Perubahan tersebut telah mengganti penamaan dari dokar menjadi dokar ban.

Dokar atau benhur digunakan sebagai alat angkut jarak dekat saja. Sedangkan untuk jarak jauh sudah digantikan dengan alat perhubungan modern, seperti bus, truk, mobil dan lainnya.

Dokar ditarik oleh kuda yang kakinya dipasangkan sepatu kuda. Kuda Bima terkenal dengan kekuatannya, sehingga banyak digunakan untuk menarik benhur.

Membuat benhur merupakan gabungan dari pertukangan kayu dan pandai besi. Bagian-bagian dokar yang terdiri dari kayu meliputi badan, bum dan roda. Sementara bagian yang terbuat dari besi meliputi as, pir, tiang atap, dan tangga naik. Oleh karenanya, perusahaan pembuatan benhur menampakkan pertukangan kayu dan pandai besi.

Mula-mula yang dibuat adalah bagian dari benhur itu misalnya badan, langit-langit, linstring, gendongan dan tali elong. Bila bagian-bagian tersebut selesai, barulah diikat menjadi sebuah benhur.

Kini tinggal mencari kuda yang cocok sebagai penarik benhur tersebut. Semua benhur ukurannya sama, kecuali dokar ban ukurannya lebih besar. Bila dibandingkan dengan dokar yang ada di Lombok, dokar Bima atau benhur pembuatannya lebih rendah dan alat-alat atau pakaian kudanya lebih sederhana dan kecil

Benhur merupakan alat transportasi yang amat penting bagi masyarakat Bima, baik dulu maupun saat ini. Meskipun benhur bersaing dengan ojek, bemo atau transportasi lainnya, tapi keberadaan dan penggunaannya masih eksis.

Salah satu perkampungan di Bima, yakni kampung Sedia banyak dijumpai benhur. Bahkan hampir semua rumah di kampung tersebut memiliki benhur.

Di wilayah Kota Bima, benhur begitu ramai dijumpai di jalan-jalan arteri dari dan ke kawasan pasar ikan, pelabuhan, lintas Gajah Mada, dan lintas selatan. Sedangkan di wilayah Kabupaten Bima, benhur masih diyakini sebagai transportasi unggulan di semua kecamatan.

Adapun alat perhubungan laut di Bima selain perahu dan kapal, yang paling banyak adalah sampan. Orang Bima menyebutnya lopi, yang digunakan sebagai alat transportasi jarak dekat.

Sementara untuk jarak jauh antar pulau, orang Bima menggunakan perahu. Namun, pembuatan perahu hampir semuanya dilakukan oleh para pendatang, orang Bima sendiri tidak membuatnya.

Di pelabuhan Bima terdapat banyak perahu dari suku bangsa pendatang, seperti suku Makassar, Bugis, Mandar dan Bajo. Di pelabuhan tersebut, suku bangsa pendatang melakukan transit barang dagangan.

Untuk membuat sampan digunakan alat-alat seperti kapak. Kayu yang akan dibuat sampan terlebih dulu dibentuk bagian luarnya, yakni bagian bawah samping kiri dan kanan. Bagian dalam atau ruangan sampan dibuat dengan cara membakarnya. Setelah selesai bagian dalamnya, baru dibentuk lebih baik serta dihaluskan.

Kayu yang menjadi bahan sampan tidak pelru menggunakan kayu yang terlalu kuat, misalnya menggunakan kayu kedondong, suren, bahkan ada juga yang dibuat dari kayu randu.

Meskipun dibuat dari kayu yang tidak terlalu kuat, tapi setelah dilapisi tir atau aspal, sampan sudah dapat dianggap siap untuk dipergunakan.

C. Anyaman dan Tenunan Orang Bima

Kerajinan tangan yang terdapat di suku Bima meliputi berbagai jenis kerajinan. Pengerjaan tersebut dilakukan juga sebagai salah satu mata pencaharian masyarakat Bima.

Jenis kerajinan tangan yang dihasilkan orang Bima berbentuk anyaman, tenunan, barang dari rotan dan sebagainya. Sebagai pekerjaan di waktu senggang untuk mendapatkan penghasilan tambahan, maupun sebagai mata pencaharian utama untuk mendapatkan penghasilan mereka.

Hasil kerajinan anyaman dari Bima cukup terkenal. Mereka membuat anyaman dari daun pandan dan lontar yang dibuat menjadi tas, songkok dan benda-benda rumah tangga.

Bahan-bahan tadi sebelum dipakai untuk dianyam harus dipotong-potong dan dikeringkan terlebih dahulu. Orang Bima juga membuat kursi dan lainnya dari rotan. Bahan-bahan yang dipergunakan ada yang dibeli, ada pula dari tanaman milik sendiri.

Hasil kerajinan tenunan dari Bima juga cukup terkenal, khususnya dari Bafe yang sudah dikenal sejak lama. Tenunan mereka terkenal dengan nama tembe nggoli.
Tenunan orang Bima dibuat dari benang yang dipintal sendiri. Benang yang dibuat oleh mereka disebut benang nggoli, dan kain yang ditenun dari benang tersebut dinamakan tembe nggoli.

Sayangnya kini kerajinan di Bima sudah mulai berkurang karena kehadiran industri tekstil yang jauh lebih murah dibandingkan dengan hasil tenunan yang dihasilkan oleh masyarakat Bima. Tetapi di beberapa tempat yang ada di Bima, produksi kerajinan tersebut masih eksis.

Kerajinan tenun pada masyarakat Bima sudah sudah ada sejak abad 15. Kerajinan tersebut dikenal dengan istilah muna ro medi. Dari catatan seorang Portugis bernama Tome Pires yang datang ke kawasan Bima tahun 1513 mencatat, pedagang dari Bima membawa hasil kerajinan tangan orang Bima ke Maluku dan Malaka. Hasil kerajinan tangan yang dibawa yaitu weri (ikat pinggang), tembe dan samboto (daster).

Di Bima termasuk juga di beberapa daerah Nusa Tenggara Barat, kaum wanita yang memegang peranan dalam kerajinan tangan yang merupakan usaha rumah tangga. Dalam pekerjaan tersebut, para ibu dibantu oleh anak-anak gadisnya. Kaum pria hanya mengerjakan dalam pengumpulan bahan-bahan, membersihkan serta meraut bahan seperti bambu dan kayu.

Saat ini terdapat beberapa sentra kerajinan di beberapa daerah di Bima. Misalnya kain tenun terdapat di Ntobo dan kawasan Donggo Kota Bima. Orang Bima di kelurahan Ntobo cukup dikenal sebagai pengrajin hasil tenunan.

Produk tenunan yang paling terkenal adalah samboto dan weri. Saking terkenalnya, dahulu kala di lingkungan istana sering mengenakan samboto dan weri dari Ntobo.

Kerajinan lainnya juga terdapat di pusat Kota Bima dan kini juga telah banyak kerajinan lainnya yang mengangkat corak maupun dekorasi khas Bima. Beberapa rumah di kawasan tersebut sudah menjadi sentra perajin kain tenun.

Di samping itu juga, terdapat sarung tenun kerajinan tangan orang Bima. Sarung tenun tersebut terbuat dari benang kapas. Sarung tenun ini memiliki ciri khas, yaitu terdapat corak warna-warna yang cerah hasil tenunan dari tembe nggoli memiliki corak dan motif

Ada motif yang biasa dikenakan untuk sehari-hari. Ada pula corak-corak tertentu yang hanya dikenakan untuk acara-acara resmi. Pada masyarakat Bima, sarung sudah lazim dikenakan oleh pria dan wanita.