Categories Traveldraft

Suku Mentawai, Suku Bangsa di Sumatra Barat

Kepulauan yang dihuni Suku Mentawai terletak di sebelah barat pulau Sumatra. Kepulauan Mentawai terdiri atas Pulau Siberut di Utara, Pulau Sipora di bagian tengah, dan Pulau Pageh di bagian Selatan

Kepulauan yang dihuni Suku Mentawai terletak di sebelah barat pulau Sumatra. Kepulauan Mentawai terdiri atas Pulau Siberut di Utara, Pulau Sipora di bagian tengah, dan Pulau Pageh di bagian Selatan memiliki luas permukaan sekitar 65.255 km2

Thomas Raffles menyebut Kepulauan Mentawai sebagai “the garden of Eden” yang berarti taman surga. Bagaimana tidak, kepulauan ini diliputi oleh hutan tropis yang dilintasi oleh sungai-sungai berair jernih.

Hutan sekaligus rumah bagi tumbuh-tumbuhan dan hewan-hewan unik yang belum tentu dapat ditemukan di belahan bumi lainnya seperti: beyuk (kera besar) dan lutung (kera berbulu hitam).

Secara geografis, letak kepulauan Mentawai berhadapan dengan Samudera Hindia. Jarak kepulauan Mentawai dari Pantai Padang lebih kurang 100 kilometer. Secara turun temurun, suku Mentawai hidup dalam sebuah Uma. Uma merupakan rumah orang mentawa. Suatu Uma merupakan bangunan yang besar. Panjang Uma mencapai hingga 25 meter dan lebarnya berkisar 10 meter.

Kerangka Uma terbuat dari kayu bakau, lantainya dari batang nibung, dinding rumahnya dari kulit kayu, sedangkan atapnya dari daun sagu. Fungsi dari Uma sendiri adalah sebagai balai pertemuan umum untuk upacara dan pesta adat bagi anggota-anggotanya yang semuanya masih terikat hubungan kekerabatan menurut ada.

Masyarakat Mentawai banyak tinggal di kampung-kampung. Kampung yang terletak di pinggir sungai pedalaman meski ada yang berada di pinggir pantai. Tiap kampung terdiri dari tiga sampai lima wilayah yang disebut perumaan, yang berpusat pada satu rumah adat yang besar atau Uma.

Agama/kepercayaan masyarakat Mentawai adalah Arat Sabulungan. Arat berarti adat dan Sabulungan berarti bulu. Agama ini memiliki pandangan bahwa segala sesuatu yang ada, benda mati atau hidup memiliki roh yang terpisah dari jasad dan bebas berkeliaran di alam luas. Saat ini agama masyarakat Mentawai sudah bervariasi.

Suku Mentawai bersifat patrinial dengan struktur sosial bersifat egalitarian, yaitu setiap anggota dewasa dalam uma mempunyai kedudukan yang sama kecuali “sikerei” (atau dukun) yang mempunyai hak lebih tinggi karena dapat menyembuhkan penyakit dan memimpin upacara keagamaan.

I. Sistem Kepercayaan dan Pandangan Hidup Suku Mentawai

Bagi masyarakat adat Mentawai perhitungan waktu dibagi ke dalam “siklus kehidupan”, yaitu: Lahir, Muda. Perkawinan, Sakit, Kematian.

Pada dasarnya, orang-orang Mentawai menganut kepercayaan nenek moyang yang diturunkan secara turun temurun. Upacara adat utama disebut “Puliaidjar”, upacara pemanggilan roh leluhur dengan media pengorbanan hewan ternak seperti babidan ayam diikuti dengan sesajen, bunga, dan lonceng.

Orang yang memimpin upacara ini disebut “kerei”. Kerei memulai upacara dengan menari melingkar, melompat-lompat ke udara, menangis meratap untuk memanggil leluhur.

A. Arat Sabulungan

Orang Mentawai memiliki kepercayaan tentang kesaktian yang dimiliki oleh roh leluhur mereka. Kepercayaan yang disebut Arat Sabulungan. Arat berarti adat dan Sabulungan berarti buluh/daun.

Masyarakat Mentawai banyak tinggal di kampung-kampung. Kampung yang terletak di pinggir sungai pedalaman meski ada yang berada di pinggir pantai. Tiap kampung terdiri dari tiga sampai lima wilayah yang disebut perumaan, yang berpusat pada satu rumah adat yang besar atau Uma. Suatu Uma merupakan bangunan yang besar dan megah.

Panjang Uma mencapai hingga 25 meter dan lebarnya berkisar 10 meter. Kerangka Uma terbuat dari kayu bakau, lantainya dari batang nibung, dinding rumahnya dari kulit kayu, sedangkan atapnya dari daun sagu.

Fungsi dari Uma sendiri adalah sebagai balai pertemuan umum untuk upacara dan pesta adat bagi anggota-anggotanya yang semuanya masih terikat hubungan kekerabatan menurut adat.

Masyarakat Mentawai memiliki pandangan agama atau kepercayaan tentang kesaktian yang dimiliki oleh roh leluhur nenek moyang (Ketsat) mereka. Kepercayaan itu dalam masyarakat Mentawai disebut Arat Sabulungan. Arat berarti adat dan Sabulungan berarti bulu/daun

Agama ini memiliki pandangan bahwa segala sesuatu yang ada, benda mati atau hidup memiliki roh yang terpisah dari jasad dan bebas berkeliaran di alam luas. Adapun saat ini masyarakat Mentawai sudah banyak yang memeluk agama lain seperti Islam dan Kristen.

Dalam pemahaman masyarakat Mentawai, Arat Sabulungan berarti bukan manusia saja yang memiliki jiwa. Hewan, tumbuh-tumbuhan, batu, air terjun sampai pelangi, dan juga kerangka suatu benda memiliki jiwa. Selain jiwa, ada berbagai macam ruh yang menempati seluruh alam semesta, seperti di laut, udara, dan hutan belantara.

Dalam konsep keagamaan yang mereka kenal ada beberapa diantaranya yaitu Simagre nama yang berhubungan dengan kegaiban yaitu roh yang menyebabkan orang hidup.

Sabulungan yaitu roh yang keluar dari tubuh terkadang dianggap keluar sebentar (misalnya ketika sedang terkejut). Ada juga roh yang tidak pergi jauh dari tempat tinggal manusia seperti di bumi, dalam air, udara pepohonan besar, di gunung, di hutan dan sebagainya. Bahkan didalam uma terdapat satu roh penjaga yang disebut kina.

Selain itu masyarakat juga meyakini bahwa roh jahat yang kerjanya menyebarkan penyakit dan mengganggu manusia, roh ini disebut sanitu. Sanitu berasal dari roh manusia yang matinya tidak wajar (gentayangan) seperti mati bunuh diri, dibunuh, kecelakaan (misalnya jatuh dari pohon) dan mati karena sakit yang tak kunjung sembuh.

Selain itu, masyarakat Mentawai meyakini bahwa jiwa manusia atau magere terletak di ubun-ubun kepala. Saat orang tersebut tidur maka jiwa tersebut akan sering berpetualang-mimpi.

Ketika jiwa tersebut keluar dan bertemu roh jahat maka tubuh orang tersebut akan sakit. Jika tubuh meminta pertolongan pada leluhur maka tubuh akan meninggal, jiwa tidak akan lagi masuk ke tubuh dan menjadi ketcat (roh). Saat jiwa sudah menjadi roh, tubuh tetap memiliki jiwa yaitu pitok.

Masyarakat Mentawai “takut” terhadap pitok karena pitok dipercaya mencari tubuh lain agar tetap berada di bumi. Untuk mengusir pitok masyarakat mentawai banyak menggelar upacara

Ada dua keyakinan masyarakat Mentawai dalam agama kepercayaan Arat Sabulungan yaitu keyakinan akan adanya hubungan gaib antara hal-hal yang walaupun beda fungsi, mirip wujud, warna, atau bunyinya. Kedua keyakinan adanya kekuatan gaib yang sakti tapi tidak berkemauan atau bajou dalam alam sekitar manusia.

Dalam kepercayaan masyarakat Mentawai terdapat masa nyepi, atau menghentikan aktivitas hidup untuk sementara; masa Lia dan Punen. Lia adalah menghentikan aktivitas hidup dalam rangka–keluarga inti, dan biasanya–menyangkut masa-masa yang penting sepanjang hidup, seperti membangun lalep, atau rumah tangga inti, kelahiran, perkawinan, masa ada anggota keluarga sakit, kematian, dan membuat perahu.

Punen adalah nyepi dalam rangka masyarakat keseluruhan dan biasanya menyangkut masa sebelum dan sesudah membangun uma, kecelakaan, saat berjangkitnya wabah penyakit menular, dan pada waktu terjadi kecelakaan atau karena pembunuhan, yang mengakibatkan banyak orang mati.

Dalam melaksanakan Lia atau Punen, masyarakat tidak boleh “bekerja”. Bahkan saat ada kematian, jenazah tak boleh diurus dulu tetapi dibiarkan saja dan hanya ditutup daun. Aktivitas makan dan minum masih bisa dilakukan.

B. Harmonisasi Kehidupan Dan Alam

Orang-orang Mentawai memperlakukan alam dengan seimbang, dengan kondisi yang saling mendukung satu sama lain. Mereka percaya bahwa dengan melakukan tindakan yang merusak atau merugikan alam, maka akan merusak keharmonisan kehidupan di dunia.

Sebagai contoh kearifan lokal yang terdapat pada suku mentawai adalah sebagai berikut: sebelum menebang pohon, menyembelih atau membunuh hewan untuk menjadi santapan atau sebelum mencangkul tanah, orang-orang disana melakukan beberapa upacara terlebih dahulu, upacara sebagai penjelasan dan permohonan terhadap alam bahwa tindakan mereka semata-mata dilakukan sebagai pemenuhan kebutuhan pokok.

Sebuah interaksi metafisik antara manusia dengan alam yang berbahasa dengan caranya tersendiri. Orang-orang Mentawai melakukan hal tersebut dengan penuh kesadaran dan telah dilakukan sejak berabad-abad lamanya.

Dalam hukum adat masyarakat Mentawai terdapat pandangan mengenai hutan. Masyarakat Mentawai memiliki kepercayaan bahwa kawasan seperti hutan, sungai, gunung, perbukitan, hutan, laut, dan rawa memiliki penjaga yaitu mahluk halus isebut lakokaina. Mereka yakin lakokaina ini sangat berperan dalam mendatangkan, sekaligus menahan rezeki.

Dalam melakukan kegiatan berburu, pembuatan sampan, merambah/membuka lahan untuk ladang atau membangun sebuah uma maka biasanya dilakukan secara bersama oleh seluruh anggota uma dan pembagian kerja dibagi atas jenis kelamin.

Setiap keluarga dalam satu uma membawa makanan (ayam, sagu, dll) yang kemudian dikumpulkan dan dimakan bersama-sama oleh seluruh anggota uma setelah selesai melaksanakan kegiatan/upacara.

II. Kehidupan Sosial dan Budaya

Kepulauan Mentawai dihuni oleh sekitar 60.000 populasi yang sebagian besar merupakan masyarakat adat. Mereka tinggal dalam kebudayaan warisan leluhurnya.  Walaupun orang-orang Mentawai memilih untuk terisolasi secara sosial dan ekonomi, mereka lahir, hidup dan mati dalam kebebasan.

Para nenek moyang orang Mentawai diyakini telah bermigrasi pertama ke wilayah tersebut di suatu tempat antara 2000 – 500 SM (Reeves, 2000), sedangkan penjajah pertama dinyatakan, dalam dokumentasi awal oleh John Crisp, tiba pada pertengahan 1700 di untuk mendirikan sebuah pemukiman pertanian lada.

Orang-orang Mentawai tidak memakai banyak penutup tubuh, badan mereka dihias oleh tato-tato yang sarat dengan makna kehidupan. Tato yang dikenal dengan sebutan “titi”. Desain tato bervariasi tergantung pada desa mereka.

Tato menandakan kekuatan, kejantanan/kecantikan, karakter, dan juga merepresentasikan pengalaman hidup masing-masing orang. “Pakaian” masyarakat adat Mentawai juga kaya dengan aksesoris pendukung seperti: kalung, gelang, bunga dan dedaunan sebagai penghias tubuh sesuai dengan keadaan alam mereka.

Para lelaki mengenakan Kabit yakni penutup bagian tubuh bawah yang terbuat dari kulit kayu. Sementara bagian tubuh atas dibiarkan telanjang. Untuk para wanita, mereka menutup tubuh bagian bawah dengan memakai untaian pelepah daun pisang hingga berbentuk seperti rok. Sementara untuk tubuh bagian atas, mereka merajut daun rumbia hingga berbentuk seperti baju.

A. Arsitektur dan Pola Hunian Suku Mentawai

Rumah dalam bahasa orang Mentawai disebut “uma”. Uma berbentuk rumah panjang yang dibangun di atas tiang-tiang dan dibangun tanpa paku atau menggunakan teknik konstruksi tanggam sambungan atau ikatan.

Pusat upacara di rumah ditandai dengan tiang siegge legeu, yang berdiri ke kanan arah pintu masuk ruangan dalam (1). Ada kepercayaan bahwa pahlawan pembela budaya tinggal di bawah tihang dan bila rumah disucikan pada saat penyelesaian, inilah tempat bakkat katsaila ditempelkan. Yang terakhir adalah jimat rumah utama, terdiri dari segumpal daun-daun suci yang mempunyai pengaruh “mendinginkan” rumah dan penghuninya.

Dalam tata ruang, terdapat beranda yang beratap (2) yang berfungsi untuk kegiatan sehari-hari dan bersantai; ruang luar (3) untuk ruang makan bersama, pesta, dan dansa. Ruang dalam (4) yang merupakan tempat bagi para wanita mengadakan pertemuan keluarga dan sekaligus tempat para tamu wanita menginap di ruangan tersebut.

Masing-masing rumah memiliki beranda yang luas yang digunakan untuk upacara dan menari. Satu uma mungkin dapat menjadi rumah bagi selusin keluarga karena luas.

Tiap keluarga mempunyai hunian sendiri-sendiri yang disebut “sapou” terletak di dekat perkebunan mereka, dan di situ pula mereka hidup sehari-hari, datang bersama-sama ke uma untuk upacara dan berpesta. Pada waktu tersebut, kehidupan keluarga menjadi bagian dari kelompok secara keseluruhan.

Rumah panjang Mentawai tidak berpatokan pada arah mata angin, uma dipercaya akan membawa kemakmuran bila mendapat persetujuan dari roh leluhur. Sebelum pembangunan uma dimulai, terlebih dahulu dilakukan upacara interaksi dengan alam sekitar, seperti: tempat dibersihkan, lalu memanggil burung tertentu, hewan tertentu, membaca cuaca dan iklim.

Hal tersebut dilakukan untuk mengetahui kelayakan tempat tersebut sebagai hunian. Orang-orang Mentawai mampu membaca bahasa alam tersebut dengan baik.

B. Kedudukan dan Status Sosial

Masyarakat Mentawai mempunyai kedudukan yang sama kecuali sikerei. Sikerei adalah dukun yang mempunyai kemampuan untuk berkomunikasi dengan roh, memiliki kemampuan untuk mengobati orang sakit dan memimpin upacara-upacara adat masyarakat Mentawai.

Dalam proses menentukan keputusan apapun pada masyarakat Mentawai, uma adalah tempat berkumpul untuk memusyawarahkan keputusan yang akan diambil. Pada setiap uma terdapat tokoh-tokoh adat yang memimpin yaitu:

1. Rimata

Rimata adalah jabatan untuk kepala suku yang memimpin setiap uma ditiap masing-masing uma. Selain itu, Rimata memimpin kegiatan/upacara adat yang berlangsung di sukunya tersebut seperti kegiatan/upacara perkawinan dan menetapkan waktu punen sebagai waktu istirahat suci.

Waktu punen akan ditetapkan maka pada saat punen dilaksanakan seluruh masyarakat Mentawai tidak boleh melakukan aktivitas yang menyangkut dengan kehidupan. Kondisi tersebut dilakukan saat uma mengadapi atau mengalami peristiwa penting.

2. Sikaute Lulak dan Sikamuriat

Sikaute Lulak dan Sikamuriat merupakan dua orang pembantu Rimata. Sikaute Lulak dan Sikamuriat mempunyai tugas mengumpulkan daging buruan suci dan membagikannya secara adil dan merata kepada masyarakat Mentawai dengan ketentuan bagian sedikit lebih banyak untuk rimata karena tugasnya menjaga benda-benda suci tadi.

3. Sikerei

Sikerei atau disebut dukun adalah anggota masyarakat yang mempunyai kelebihan khusus yaitu kepandaian untuk mengobati orang sakit. Pekerjaan menjadi seorang sikerei adalah pekerjaan sosial karena sikerei tidak pernah memungut bayaran.

Saat sikerei mengobati seseorang dari suku lain, dia tidak meminta pungutan atau bayaran kepada orang tersebut. Seseorang menjadi sikerei jika ada orang yang sakit. Apabila tidak ada orang yang sakit, sikerei akan beraktivitas seperti masyarakat pada umumnya di Mentawai yaitu berladang, menangkap ikan dan sebagainya.

Dalam masyarakat Mentawai, sikerei mempunyai pengaruh yang cukup besar dalam kehidupan masyarakat Mentawai termasuk salah satunya adalah sikerei banyak terlibat dalam acara-acara seperti penebangan pohon baik untuk bahan uma, rusuk dan lelep ataupun bahan pembuatan perahu serta pembukaan lahan perkebunan baru dan juga meminta izin kepada roh penguasa hutan atau gunung apabila ada warga suku yang akan berburu.

Permohonan izin merupakan bentuk agar terhindar dari kemurkaan roh leluhur dan memperoleh hasil yang besar.

C. Sistem Kekerabatan Dan Garis Keturunan Suku Mentawai

Sistem kekerabatan dalam keluarga yang dianut oleh masyarakat Mentawai adalah sistem adat virilokal yaitu suatu keluarga yang terdiri dari inti senior dengan keluarga-keluarga inti dari anak laki-laki.

Semua tinggal dalam suatu area perumahan sebagai wilayah suku. Hal tersebut juga disebut dengan patrilokal. Meski masyarakat Mentawai terdiri dari suku yang masing-masing patrilokal, hal itu bukan berarti mereka adalah satu kelompok, artinya satu keturunan yang berasal dari satu keturunan di zaman dahulu kala, baik sebagai kelompok kecil maupun kelompok besar.

Sebab suku bangsa Mentawai hanya menghitung keturunan mereka atau mengenal keturunan mereka dari tujuh generasi yaitu tiga generasi di atas Ego dan tiga generasi di bawah Ego.

Suku-suku di Mentawai (penduduk asli) menghitung garis keturunan dari orang laki-laki yaitu mulai dari teteu (kakek Ego) seterusnya sampai kepala Togatteteu (cucu laki-laki Ego).

Hal tersebut yang menyebabkan mereka masuk pada kategori menganut prinsip Patrileneal. Alasanya adalah karena kaum wanita sukubangsa Mentawai adalah “orang dari luar” dan orang yang “akan keluar” dari kelompok suku.

Pengertian ini mengandung arti bahwa wanita sebagai orang luar adalah wanita yang dibawa masuk ke dalam lingkungan suku laki-laki karena berstatus istri. Wanita yang akan keluar adalah anak dan cucu perempuan mereka yang telah menjadi istri dari suaminya yang beresal dari suku lain.

Namun demikian wanita yang keluar dari lingkungan suku karena perkawinan tadi bukan berarti suku asalnya melebur atau berganti menjadi suku suaminya, melainkan sukunya tetap disandang karena di suatu waktu wanita tersebut akan kembali kepada sukunya sendiri.

Selain itu, masyarakat Mentawai memiliki tradisi yang khas dalam melaksanakan upacara pernikahan. Mereka tidak melaksanakan pernikahan di Mesjid atau Gereja tapi mereka melakukan pernikahan di Uma (rumah adat suku Mentawai).

Dalam proses pernikahan adat Mentawai, kepala suku menjadi wali. Acara pernikahan dilaksanakan dalam waktu 5 hari 5 malam. Saat seorang laki-laki Mentawai akan melaksanakan pernikahan maka pertama kali yang akan dilakukan adalah meminang calon istri.

Kakak perempuan si laki-laki (biasanya laki-laki) akan datang ke rumah perempuan yang datang ke rumah si perempuan. Saat datang ke rumah perempuan, kakak perempuan laki-laki membawa kain sebagai tanda meminang, apabila calon perempuan telah menerima kain tersebut maka baik perempuan atau laki-laki tidak boleh selingkuh. Jika melanggar maka akan mendapatkan sanksi, misal denda sebuah ladang.

Dalam kurun waktu satu atau dua bulan setelah pernikahan maka akan ada acara pembelian. Pihak perempuan akan mendatangi pihak laki-laki untuk membicarakan pembelian.

Dalam proses pembelian ditunjuk seorang wali dari pihak perempuan, hal tersebut merupakan bentuk kedua belah pihak tidak boleh saling berhadapan. Setelah ada kesepakatan maka pihak perempuan datang mengambil barang dan kemudian oleh orang tua diberi nasehat-nasehat.

Kemudian diselenggarakan acara Pangurei yaitu acara adat dimana kedua suami istri memakai pakaian adat atau disebut juga pesta pernikahan dan pihak perempuan yang menyiapkan pesta.

Setelah 2-3 hari pihak laki-laki datang ke rumah perempuan untuk mengantarkan pakaian yang dipakai saat Pangurei. Kegiatan ini disebut Parurut mungu. Beberapa hari setelah itu mereka pulang ke rumah laki-laki

Apabila ada perceraian, seorang istri akan mengadu kepada kedua orang tuanya. Kemudian, orang tuanya akan mendatangi sang suami dan akan dikenakan denda. Sang istri akan pulang ke rumah orang tuanya

Apabila mereka mempunyai anak, maka anak laki-laki ikut ayah dan anak perempuan akan ikut ibu. Jika sudah terjadi perceraian tidak ada lagi kata rujuk dan masing-masing dari mereka boleh menikah lagi. Laki-laki boleh memiliki istri lebih dari satu orang.

D. Pakilia, Menyambut Keluarga (Baru) di Mentawai

Pada masyarakat Mentawai Pakilia diadakan pada saat upacara pernikahan. Namun Upacara ini tidak bisa dilaksanakan setiap ada pernikahan berlangsung.

Di provinsi Sumatra Barat terdapat satu suku yang memiliki banyak kekhasan. Suku tersebut adalah suku Mentawai. Suku Mentawai terdapat di kepulauan Mentawai yang terdiri dari pulau-pulau yaitu Siberut, Sipora, Pagai Utara dan Pagai Selatan.

Upacara pakilia bisa dilaksanakan dengan ketentuan bahwa orang yang akan melaksanakan memahami susunan dan sukat yang akan dikumandangkan oleh sikebbukat uma dan yang tahu itu tinggal satu suku yaitu suku Sikaraja.

Pakilia adalah upacara menyambut keluarga (baru) pada sebuah keluarga atau suku. Pakilia akan mulai dilakukan setelah pemberkatan pernikahan di gereja. Upacara pakilia dilakukan bagi masyarakat Mentawai yang beragama Katolik.

Sesudah dari gereja maka pihak sikebbukat uma dan juga sabajak dan sakamaman mulai mempersiapkan bahan-bahan untuk prosesi Pakilia. Seperti ayam yang masih muda (simanosa) empat ekor, katsaila empat buah, gendang (gajeumak), ayam jantan satu ekor.

Pelaksanaan upacara Pakilia dilaksanakan pada saat pengantin dan pendamping yang memakai pakaian adat Mentawai berbaris satu bajar. Bagian depan, nomor satu dan dua adalah pendamping yang memakai pakaian adat. Nomor tiga adalah pengantin perempuan dan yang terakhir adalah pengantin laki-laki.

Permulaan upacara Pakilia dilakukan dimulai dari jembatan rumah mempelai laki-laki karena mempelai perempuan akan ikut keluarga mempelai laki-laki. Ini berdasarkan garis keturunan ayah atau patrilineal. Pendamping dan mempelai akan diberikan katsaila dan tangan kiri masing-masing diberikan ayam simanosa di bagian tangan kanan masing-masing.

Sebelum berjalan dengan iringi bunyi gajeuma, sikebbukat uma memotong ujung paruk ayam agar mengeluarkan darah. Darah itu akan dititikkan pada salah satu bagian di wajah pendamping dan mempelai. Bisa di kening, bisa di pipi kiri atau kanan, atau juga bisa di hidung.

Saat semua siap, sikebbukat uma akan memegang ayam jantan dan mengucapkan sukat pakilia sambil mengangkat ayam jantan. Sukat yang mau dikumandangkan sikebbukat uma tersebut yang tidak diketahui dan dipahami oleh sikebbukat uma lain.

Sukat yang diucapkan sikebbukat uma adalah:
Ekeu kina Toiten,
Sibalu takkakna,
Elek simaoingo buana,
Abe kabuntenna
Simatoroimianan, elek sigereibagana
Sigerei bagamai.

Ekeu kina oinan
Elek atak tirikna
Rapakerek tubum
Ubun sikatirikna
Elek abe kamongana
Elek rokui-rokui
Elektak sigerei bagana
Sigeri bagamai.

Ekeu kina repdep
Raik-raik gajuna
Elek abe kabuntenna
Elek simakuiramman
Elektak simairam mata
Maila matamai
Tak sigerei bagana
Sigerei bagamai
Luluou…….

Cara pengucapan dan gaya membaca sukat diatas berbeda dari biasanya dan makna sukat tersebut yaitu paragraf pertama menceritakan tentang sebatang pohon kelapa yang punya tangga dan berbuah lebat dan manis

Artinya dalam kehidupan sehari-hari dalam berumah tangga meniti kehidupan perlahan dan pertahap untuk menciptakan keluarga yang rukun dan sejahtera, bahagia.

Paragraf kedua menceritakan tentang air sungai yang mengalir dari hulu menuju hilir dan pintu muara sungai. Artinya dalam kehidupan berumah tangga selalu ada awal dan akhir kehidupan yang diwarnai berbagai macam cobaan, namun selalu satu tujuan yaitu kehidupan yang baik.

Paragraf ketiga menceritakan tentang sejenis pohon tebu yang tumbuh di tepi sungai. Artinya dalam kehidupan berumah tangga jangan membuat rasa malu karena sikap dan tingkah laku yang tidak baik sehingga membuat keluarga dan saudara menjadi malu. Namun menjadi panutan dan kebanggan keluarga sehingga panutan atau contoh yang diberikan itu menjadi kebanggaan keluarga.

Sesudah Sukat dilapalkan, gajauma berdentang. Pendamping dan pengantin mulai berjalan dengan cara menginjit-nginjitkan kaki. Dalam berjalan pendamping mempelai tidak memakai sandal agar memudahkan mereka menginjitkan kaki diatas papan yang telah disediakan. Lama berjalan dengan menginjitkan kaki ini bisa mencapai setengah jam atau satu jam. Tergantung jarak antara jembatan dan jenjang rumah.

Selama proses berlangsung pihak keluarga, saudara dan famili membuat yang lucu-lucu agar menimbulkan rasa tawa dan semarak. Mereka bergoyang dengan mengambil pasangan, atau ada yang bergoyang dengan membawa kuali, sendok gulai atau hal lainnya. Hal itu dilakukan agar upacara menjadi lebih meriah.

Proses tersebut akan terhenti saat pendamping yang paling depan menginjakkan kakinya dijanjeng rumah yang disambut dengan teriakan Luluou secara serempak. Sikebbukat uma dan pihak keluarga laki-laki sudah ada di depan pintu menyambut keluarga baru tersebut

Ayam yang dipegang kedua pendamping dan mempelai dimasukkan dalam long ayam. Sementara katsaila dikumpulkan dan disematkan di atap rumah hingga membusuk. Semua keluarga yang hadir makan bersama sebagai tanda persatuan dalam keluarga, termasuk keluarga baru.

III. Sistem Mata Pencaharian Suku Mentawai

Beberapa aspek kebudayaan tradisional di Mentawai sangat mandiri. Dalam kesehariannya, orang-orang Mentawai bermata pencaharian dengan cara berburu, memancing ikan, mencari bahan makanan yang disediakan oleh alam, buah-buahan, sagu, tepung yang diekstraksi dari batang pohon palem, dsb. Pembagian kerja ditentukan oleh jenis kelamin.

Masyarakat Mentawai memiliki dua mata pencaharian utama, yaitu berburu dan berladang. Dimana dalam berburu mereka menggunakan peralatan seperti busur dan panah, dimana alat-alat tersebut dibuat sendiri dari kayu-kayu yang ada di hutan dengan cara-cara yang tradisional dan dilumuri dengan racun buatan mereka sendiri.

Dalam berladang, khususnya dalam berladang sagu, suku Mentawai juga menggunakan peralatan-peralatan tertentu. Seperti yang kita ketahui sebelumnya, dalam menanam sagu harus disertai dengan tahapan-tahapan tertentu. Seorang warga sedang berburu dengan busur dan panah, sambil mencoba mendengarkan suara buruan. Alat-alat serta sistem teknologi mereka pun dalam berladang dapat dikatakan masih tradisional seperti: tegle, suki, lading, kampak.

A. Mumone; Sistem Perladangan Di Mentawai

Berladang atau dalam bahasa Mentawai mumone merupakan salah satu upaya yang dilakukan masyarakat Mentawai untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Pembukaan lahan untuk ladang biasanya dilakukan oleh beberapa keluarga yang tergabung dalam satu uma.

Masyarakat Mentawai adalah masyarakat yang memegang teguh kehidupan adat dan tradisi. Salah satu pelaksanaan prinsip-prinsip adat adalah dalam mata pencaharian mereka.

Dalam sistem berladang masyarakat Mentawai, alam lingkungan harus dijaga. Masyarakat Mentawai tidak mengenal tentang “slash and burn” (tebang dan bakar) yang dapat menimbulkan polusi udara bahkan memicu kebakaran hutan. Berdasarkan kepercayaan masyarakat Mentawai yang turun temurun, membakar pohon di hutan akan mengakibatkan kemarahan roh-roh penjaga hutan dan akan mendatangkan penyakit bagi si pembakar atau keluarganya.

Masyarakat Mentawai memiliki kearifan tradisi sendiri dalam mengolah ladang, ada ritual khusus yang tak boleh ditinggalkan agar hasil ladang yang diinginkan maksimal. Berikut tata cara pembukaan ladang di Muntei, Siberut Selatan, hasil penelitian Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Padang.

Tahap pertama dalam rencana pembukaan ladang adalah musyawarah di tingkat uma. Musyawarah ini dihadiri oleh seluruh anggota uma, yaitu para tetua umadan anggota-angota yang lebih muda, terutama dari keluarga yang ingin membuka ladang. Musyawarah ini dipimpin oleh sikebukkat uma (kepala uma). Musyawarah tersebut bertujuan untuk mendapatkan kesepakatan mengenai lokasi dan luas lahan yang akan dibuka.

Tahap kedua melakukan survei lapangan untuk mengetahui hal-hal seperti areal mana yang cocok, bagaimana kesuburan tanahnya, berapa luas lahan yang akan dibuka serta batas-batasnya Survei ini bisa makan waktu dua minggu.

Tahap selanjutnya musyawarah lagi. Hasil survei dibicarakan di uma, terutama untuk memfinalkan lokasi, luas ladang dan kejelasan batas-batas lahan, sekaligus membicarakan kapan punen pasibuluake’ atau panaki, serta proses pembersihan semak belukar dilakukan.

Sebelum mulai membuka hutan atau menebang pohon-pohon, harus terlebih dahulu dilakukan upacara “Panaki yaitu sebuah ritual meminta izin kepada roh-roh penjaga hutan. Masyarakat adat Mentawai meyakini bahwa ada sebuah kekuatan di luar manusia yang telah menjaga hutan dan alam di sekitarnya.

Oleh sebab itu, setiap akan melakukan aktivitas di hutan termasuk menebang pohon harus terlebih dahulu meminta izin sebagai bentuk penghargaan manusia terhadap kekuatan di luar diri mereka yang telah ikut membantu menjaga alam bagi kelangsungan hidup manusia

Berladang merupakan aktivitas penting sebab merupakan salah satu cara pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari. Di Siberut, perladangan dibuka di sekitar kawaan hutan, dapat pada lokasi yang berbukit-bukit (leleu) dan juga pada lokasi yang datar (su’suk).

Namun meskipun demikian berdasarkan pengetahuan tradisional, ada beberapa kriteria atau pertimbangan yang harus dipenuhi ketika akan membuka kawasan perladangan antara lain:

  1. Tidak boleh membuka perladangan di lokasi yang curam, hal ini dilakukan untuk menghindari terjadinya longsor.
  2. Perladangan baru juga tidak akan dibuka di kawasan yang banyak terdapat pohon-pohon kayu yang bermanfaat untuk bahan bangunan atau rumah, sampan dan peralatan rumah tangga, dll.
B. Sampan; Transportasi dan Tradisi

Secara umum, akses masuk dan keluar perkampungan di daerah Mentawai ditempuh melalui jalur sungai. Mobilitas penduduk masyarakat Mentawai sebagian besar dilakukan lewat jalur sungai. Alat transportasi yang digunakan adalah Sampan. Khusus bagi masyarakat Mentawai yang tinggal di pulau Siberut.

Di provinsi Sumatra Barat terdapat satu suku yang memiliki banyak kekhasan. Suku tersebut adalah suku Mentawai. Suku Mentawai terdapat di kepulauan Mentawai yang terdiri dari pulau-pulau yaitu Siberut, Sipora, Pagai Utara dan Pagai Selatan.

Dalam beberapa pandangan tentang asal usul masyarakat Mentawai, ada yang mengatakan bahwa masyarakat Mentawai berada dalam garis orang polisenia. Menurut kepercayaan masyarakat Siberut, nenek moyang masyarakat Mentawai berasal dari satu suku/uma dari daerah Simatalu yang terletak di Pantai Barat Pulau Siberut yang kemudian menyebar ke seluruh pulau dan terpecah menjadi beberapa uma/suku.

Secara geografis, letak kepulauan Mentawai berhadapan dengan Samudera Hindia. Jarak kepulauan Mentawai dari Pantai Padang lebih kurang 100 kilometer. Secara turun temurun, suku Mentawai hidup sederhana di dalam sebuah Uma. Uma merupakan rumah yang terbuat dari kayu pohon. Arsitektur bangunan rumah Mentawai berbentuk panggung.

Masyarakat Mentawai banyak tinggal di kampung-kampung. Kampung yang terletak di pinggir sungai pedalaman meski ada yang berada di pinggir pantai. Tiap kampung terdiri dari tiga sampai lima wilayah yang disebut perumaan, yang berpusat pada satu rumah adat yang besar atau Uma.

Suatu Uma merupakan bangunan yang besar dan megah. Panjang Uma mencapai hingga 25 meter dan lebarnya berkisar 10 meter. Kerangka Uma terbuat dari kayu bakau, lantainya dari batang nibung, dinding rumahnya dari kulit kayu, sedangkan atapnya dari daun sagu.

Fungsi dari Uma sendiri adalah sebagai balai pertemuan umum untuk upacara dan pesta adat bagi anggota-anggotanya yang semuanya masih terikat hubungan kekerabatan menurut adat,

Secara umum, akses masuk dan keluar perkampungan di daerah Mentawai ditempuh melalui jalur sungai. Mobilitas penduduk masyarakat Mentawai sebagian besar dilakukan lewat jalur sungai.

Maka dari itu dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Mentawai alat transportasi yang digunakan oleh masyarakat Mentawai adalah Sampan. Khusus bagi masyarakat Mentawai yang tinggal di pulau Siberut.

Sampan adalah alat transportasi yang menjadi penting bagi kelangsungan hidup masyarakat Mentawai. Pada daerah Siberut, satu keluarga inti rata-rata dapat memiliki sampan 3 sampai 4 buah

Anak-anak sudah diberi sampan, tujuan dilakukan hal tersebut adalah upaya mengajarkan anak secara mandiri penggunaan alat transportasi masyarakat Mentawai yaitu Sampan.

Secara turun temurun, masyarakat Mentawai membuat sampan dengan cara dan menggunakan perlengkapan yang tradisional. Tahap mengerjakan pembuatan sampan adalah Tahap pertama adalah identifikasi jumlah, jenis dan ukuran sampan yang diperlukan. Memilih pohon yang akan ditebang dan dipakai untuk membuat sampan. Dalam proses penebangan harus dilakukan secara detail, matang dan hati-hati.

Hal itu dilakukan agar tidak salah menebang. Kesalahan dalam menebang akan menyebabkan kualitas kayu jelek dan jatuhnya pohon merusak yang lain.

C. Upacara Panaki dalam Proses Pembuatan Sampan

Upacara Panaki. Dalam proses pembuatan sampan, awal mula yang harus dilakukan adalah melakukan upacara panaki. Upacara ini bertujuan untuk memohon keselamatan bagi pekerja maupun keberkahan dalam proses mengerjakan membuat sampan.

Upacara tersebut terlihat dari pembacaan yaitu:
Ale sateteu samae
Ita sipumone
Anek alaket mui
Sakit leleuta
Anai ku alak kai
Putalipok mai sateteunu
Ubeu-beu kai, ulok-lok kai
Bak kisei kap kai
Areu ake’ kap rusatmanua
Areu ake’ lek kap palauru-lauru
Alepaatbai’akupanaki kai
Anek ubekta, puubekkam
Tak pei ubek kai
kap boiki muubek
Anek surak alutetmui

Terakhir adalah penebangan pohon dan pembuatan sampan yang dilakukan dengan menggunakan peralatan tradisional seperti kampak, parang dan beliung. Proses pembuatan sampan mulai dari penebangan pohon sampai prosespasigirit abak (menarik sampan sampai ke aliran sungai terdekat).

Saat melakukan pasigirit abak akan mengakibatkan sedikit banyak kerusakan di sekitar lokasi penebangan sampai ke aliran sungai terdekat tersebut. Maka di lokasi pembuatan sampan tersebut akan ditanami beberapa jenis tanaman seperti durian, langsat, nangka hutan dan bambu.

Selain sebagai pengganti tanaman yang telah ditebang, penanaman ini juga ditujukan untuk menghindari bahaya longsor terutama pada lokasi yang berbukit atau curam. Setelah proses pembuatan sampan selesai akan diadakan pesta atau punen sebagai ungkapan syukur atas keselamatan pekerjaan tersebut.

IV. Pengaruh Eksternal dan Kehidupan Mentawai Hari ini

Misionaris Katolik masuk ke daerah Mentawai pada tahun 1950-an dan sejak masuknya misionaris pula banyak orang-orang Mentawai masuk ke dalam agama Katolik. Walaupun demikian, dalam kehidupan keseharian mereka tetap menghargai upacara-upacara yang telah diwariskan oleh leluhur

Bagimana pun, setelah kedatangan pengaruh dari luar, maka upacara-upacara adat disana pun menjadi tercampur baur (terjadi proses sinkretisasi) antara kepercayaan local dengan kepercayaan baru.

Seiring dengan pengaruh luar yang gencar melakukan pergerakan di Mentawai, seperti dengan membangun sekolah dasar untuk para generasi muda disana, maka terjadi sebuah perubahan budaya dan kepercayaan diri pada masing-masing generasi muda di Mentawai.

Kebanggaan dan kehormatan tradisi nenek moyang tergerus oleh kekinian menjadi sebuah aib (rasa malu) yang melahirkan keminderan bahkan berangsur untuk dilupakan dan berganti haluan ke arah kehidupan modern.

Hal tersebut berakibat pada lahirnya generasi pseudo-modern yang di satu pihak tidak lagi mempercayai budaya adat istiadat nenek moyang dan di lain pihak mereka pun dilupakan oleh manusia lain di belahan dunia luar.

Sekarang, dunia modern sedang mengalami kebimbangan dalam menentukan arah dan sedang berusaha berdamai dengan alam maupun berdamai dengan sesama. Di sisi lain, tradisi dan adat istiadat lokal Mentawai yang sangat mengerti tentang keharmonisan alam dan perdamaian tertinggal di belakang tergerus oleh peradaban konsumtif modern bahkan oleh generasi mudanya, pun oleh “pemerintah”.

Kebudayaan Mentawai sedang berada di ujung jurang yang curam. Saat ini, jumlah masyarakat adat yang masih aktif berlatih kebiasaan budaya, ritual dan upacara Arat Sabulungan sudah terbatas dengan populasi yang sangat kecil dari kelompok adat, terutama terletak di sekitar Sarereiket dan Sakuddei daerah di selatan Pulau Siberut. Taman Surga kini sedang dalam bahaya, mereka sedang resah.

Dalam beberapa pandangan tentang asal usul masyarakat Mentawai, ada yang mengatakan bahwa masyarakat Mentawai berada dalam garis orang polisenia.

Menurut kepercayaan masyarakat Siberut, nenek moyang masyarakat Mentawai berasal dari satu suku/uma dari daerah Simatalu yang terletak di Pantai Barat Pulau Siberut yang kemudian menyebar ke seluruh pulau dan terpecah menjadi beberapa uma/suku.