Categories Traveldraft Tags

Suku Toraja; Bangsawan Yang Berdiam Di Negeri Atas

Sebagian besar suku Toraja menempati pegunungan bagian utara Sulawesi Selatan, Indonesia. Populasi-nya diperkirakan sekitar 1 juta jiwa, dengan 500.000 di antaranya masih tinggal di Kabupaten Tana Toraja, Kabupaten Toraja Utara, dan Kabupaten Mamasa. Pada awalnya Suku Toraja menempati wilayah -wilayah pantai Sulawesi, namun akhirnya mereka pindah ke dataran tinggi. Proses adaptasi yang cukup menarik, tentunya … Read more

Sebagian besar suku Toraja menempati pegunungan bagian utara Sulawesi Selatan, Indonesia. Populasi-nya diperkirakan sekitar 1 juta jiwa, dengan 500.000 di antaranya masih tinggal di Kabupaten Tana Toraja, Kabupaten Toraja Utara, dan Kabupaten Mamasa.

Pada awalnya Suku Toraja menempati wilayah -wilayah pantai Sulawesi, namun akhirnya mereka pindah ke dataran tinggi. Proses adaptasi yang cukup menarik, tentunya dengan berbagai alasan yang membuat mereka secara rasional lebih memilih untuk pindah dari pesisir menuju dataran tinggi di utara lalu menetap di gunung Kandora, dan di daerah Enrekang. Orang-orang inilah yang dianggap merupakan nenek moyang suku Toraja

Ada yang mengira bahwa tempat asal suku Toraja dari Teluk Tonkin yang terletak antara Vietnam utara dan Cina selatan. Pendapat tersebut pun masih memiliki beberapa bantahan. Sebetulnya, orang Toraja hanya salah satu kelompok penutur bahasa Austronesia.

Jika dilihat dari Suku Tana Toraja yang pada hari ini masih mendiami daerah pegunungan, mereka seperti “mempertahankan” gaya hidup Austronesia yang asli dan cenderung memiliki kemiripan dengan budaya yang ada di Nias.

Nama Toraja sendiri sebenarnya merupakan kata dari Bahasa Bugis yaitu to riaja yang mana berarti “orang yang berdiam di negeri atas”. Identitas mereka yang kita kenal bernama Toraja merupakan pemberian dari perintah kolonial Belanda yang memberikan nama itu pada tahun 1909.

Versi lain menyebutkan bahwasanya kata Toraja awalnya bernama toraya. Kata tersebut merupakan gabungan dari dua kata yaitu “to” yang berarti orang dan “raya” yang berasal dari kata maraya yang berarti besar. Artinya jika digabungkan menjadi suatu padanan makna orang-orang besar atau bangsawan. Seiring dengan berputarnya roda kehidupan lama-lama penyebutan nama Toraya berubah menjadi Toraja.

Sementara itu kata Tana yang berada di depan kata Toraja memiliki arti sebuah negeri. Sehingga pada hari ini tempat pemukiman Suku Toraja dinamai Tana Toraja atau negeri tempat orang-orang besar berada.

Pada masa kolonial Belanda, Tana Toraja dibagi menjadi lima daerah, yang dipimpin oleh bangsawan-nya masing-masing. Daerah-daerah Makale, Mengkendek, dan Sangala dipimpin masing-masing oleh seorang bangsawan yang bergelar Puang.

Daerah Rantepao dipimpin bangsawan yang bergelar Parengi, sedangkan daerah Toraja Barat dipimpin bangsawan bergelar Ma’dika.

Dalam hubungan sosial, masyarakat Suku Toraja di Tana Toraja mengenal pembagian kasta seperti yang terdapat di dalam agama Hindu-Bali. Kasta atau kelas ini dibagi menjadi 4 (empat): Kasta Tana’ Bulaan, Kasta Tana’ Bassi1, Kasta Tana’Karurung, Kasta Tana’ Kua-kua.

Suku Toraja menarik garis keturunan dalam kelas sosial melalui ibu atau matrilinear. Mereka tidak diperbolehkan untuk menikahi perempuan dari kelas yang lebih rendah tetapi diizinkan untuk menikahi perempuan dari “kelas” yang lebih tinggi, ini bertujuan untuk meningkatkan status pada keturunan berikutnya.

Dalam hal kepercayaan, mereka memiliki kepercayaan asli suku Toraja yaitu Alukta atau kita kenal sebagai agama kepercayaan Aluk Todolo yang kemudian ditetapkan pemerintah menjadi salah satu sekte dalam agama Hindu Bali.

Mayoritas penduduk suku Toraja masih memegang teguh kepercayaan nenek moyangnya, Aluk Todolo (60 %) maka adat istiadat yang ada sejak dulu tetap dijalankan hingga hari ini. Hal ini terutama pada adat yang berpokok pangkal dari upacara adat Rambu Tuka’ dan Rambu Solok. Dua pokok inilah yang merangkaikan upacara-upacara adat yang masih dilakukan dan cukup terkenal.

Suku Toraja memiliki pegangan dan arah hidup untuk menjadi manusia (manusia=”tau” dalam bahasa toraja) sesungguhnya dalam konteks masyarakat toraja. Pandangan tersebut memiliki empat pilar utama yang mengharuskan setiap masyarakat toraja untuk menggapainya, antara lain: Sugi’ atau Kaya, Barani atau Berani, Manarang atau Pintar, dan Kinawa dalam artian memiliki nilai-nilai luhur, agamis, bijaksana.

Keempat pilar di atas tidak dapat di tafsirkan secara bebas karena memiliki makna yang lebih dalam dari pada pemahaman kata secara bebas. Seorang toraja akan menjadi manusia yang sesungguhnya ketika dia telah memiliki dan hidup sebagai Tau.

Sosial dan Sistem Kekerabatan Suku Toraja

Sosial dan Sistem kekerabatan Suku Toraja tak sebatas aturan tentang hubungan darah dalam suatu keluarga, melainkan sebagai pra-sarana untuk menguatkan kelompok sosial, politik dan berbagai segi kehidupan.

Kekerabatan orang Toraja bisa dilihat dari komposisi di setiap desa yang biasanya terbentuk dari suatu keluarga besar. Bahkan setiap Tongkonan memiliki nama keluarga yang dijadikan sebagai nama desa. Dari sini kita bisa melihat bahwa peran kekerabatan dan keluarga salah satunya adalah turut untuk memelihara persatuan desa.

Sehingga sebelum adanya pemerintahan resmi dengan bentuk pemerintah kabupaten Tana Toraja, masing-masing desa melakukan pemerintahannya sendiri. Dalam situasi tertentu, ketika satu keluarga Toraja tidak bisa menangani masalah mereka sendiri, beberapa desa biasanya membentuk kelompok; kadang-kadang, beberapa desa akan bersatu melawan desa-desa lain.

Dalam hal pembagian peran, sistem kekerabatan dalam masyarakat Toraja terbagi atas keluarga inti. Ayah adalah penanggung jawab keluarga dan diganti anak laki-laki bila meninggal. Sedangkan ibu hanya mendidik anak dan menjaga nama baik keluarga. Masyarakat Toraja menggariskan keturunannya berdasarkan garis ayah dan ibu atau dalam istilah umum Bilateral.

Seperti pada umumnya, hubungan kekerabatan dapat terbentuk berdasarkan dua hal, yaitu: Pertalian darah atau disebut kandappi, dan dari sebuah perkawinan rampean. Dan dalam tatanan masyarakat Toraja, unsur terkecil dalam sistem kekerabatan disebut Siulu (keluarga batih).

Praktik umum untuk memperkuat hubungan kekerabatan adalah dengan melakukan pernikahan dengan sepupu jauh (sepupu keempat dan seterusnya). Karena suku Toraja melarang pernikahan dengan sepupu dekat (sampai dengan sepupu ketiga) kecuali bagi bangsawan, konon ada yang berpendapat untuk mencegah ‘penyebaran harta’ dan perselisihan keluarga.

Hubungan antar keluarga diungkapkan dengan darah, berbagi rumah leluhur, perkawinan, kematian secara praktis ditandai oleh pertukaran kerbau dan babi dalam ritual upacara adat. Pertukaran tersebut tidak hanya membangun hubungan politik dan budaya antar keluarga tetapi juga menempatkan masing-masing orang dalam hierarki sosial.

Siapa yang menuangkan tuak, berapa jumlah potongan daging yang diperbolehkan untuk masing-masing orang, di mana tempat setiap orang boleh atau tidak boleh duduk, siapa yang membungkus mayat dan menyiapkan persembahan, dan bahkan piring apa yang harus digunakan atau dihindari.

Sehingga hubungan kekerabatan berlangsung secara timbal balik, dalam artian bahwa keluarga besar saling menolong dalam pertanian, berbagi dalam ritual kerbau, dan saling membayarkan hutang.

Karena sistem kekerabatan masyarakat Suku Toraja berdasarkan Bilateral maka setiap orang menjadi anggota dari keluarga ibu dan ayahnya. Dengan demikian, seorang Anak mewarisi berbagai hal dari ibu dan ayahnya, termasuk tanah dan bahkan utang keluarga.

Nama anak diberikan atas dasar kekerabatan, dan biasanya dipilih berdasarkan nama kerabat yang telah meninggal. Nama panggilan untuk bibi, paman dan sepupu biasanya disebut atas nama ibu, ayah dan saudara kandung.

Keunikan dalam kekerabatan orang Toraja adalah mereka tetap akan melakukan adopsi walaupun mereka sudah mempunyai anak. Hal itu dikarenakan Suku Toraja mempunyai keyakinan bahwa semakin banyak anak akan semakin banyak pula Toding atau Kerbau yang akan ikut di kubur saat orang tua angkatnya meninggal dunia.

Pengangkatan anak dilakukan terhadap anak yang masih kecil (dianak bitti), anak yang sudah besar dan terhadap orang dewasa, baik laki-laki maupun perempuan, yang diambil dari kalangan keluarga atau bukan dari kalangan keluarga. Proses pengangkatan anak dilaksanakan secara terang dan tunai.

Hubungan kekerabatan anak yang diangkat dengan orang tua kandungnya tidak ter-putus. Bila terjadi sengketa warisan, maka sering diselesaikan melalui lembaga adat; duduk bersama di Tongkonan.

Dengan demikian, maksud dari sistem kekerabatan yang berfungsi sebagai penguat hubungan sosial dan politik dalam kehidupan masyarakat Toraja tetap terjaga dan makin kuat.

Suatu hubungan kekerabatan tak perlu menjadi retak atau putus hanya karena perkara hak waris. Karena dalam sistem bilateral semua anak memiliki hak yang sama dari ayah dan ibu, dan bagi anak angkat persoalan hak waris-nya masih mengacu pada orang tua kandungnya.

Aluk Todolo, Kepercayaan Suku Toraja

Aluk Todolo atau Alukta adalah aturan tata hidup yang telah dimiliki sejak dahulu oleh masyarakat Suku Toraja, Sulawesi Selatan. Aturan tata hidup tersebut berkenaan dengan, sistem pemerintahan, sistem kemasyarakatan dan sistem kepercayaan.

Dalam hal kepercayaan penduduk Suku Toraja telah percaya kepada satu Dewa yang tunggal. Dewa yang tunggal itu disebut dengan istilah Puang Matua (Tuhan yang maha mulia).

Penganut Aluk Todolo relatif terbuka terhadap modernisasi dan dunia luar. Mereka meyakini, aturan yang dibuat leluhurnya akan memberikan rasa aman, mendamaikan, menyejahterakan, serta memberi kemakmuran warga.

Walau terbuka bagi agama luar, warga sepakat, yang telah menganut selain Aluk Todolo wajib keluar dari Dusun Kanan. Tentu saja mereka tetap boleh berkunjung ke sana, tapi tak dapat tinggal lama.

Di luar penganut Aluk Todolo, sekalipun bangsawan dan memiliki banyak uang, mereka tidak boleh dikuburkan dengan ritual pa’tomate, upacara penguburan jenazah khas dusun itu.

Penganut Aluk Todolo menjunjung tinggi kebenaran dan kejujuran. Mereka begitu tegas menerapkan aturan leluhur. Berani melanggar berarti bakal menyengsarakan warga dusun, misalnya mendatangkan petaka gagal panen.

Semua kesalahan dan kecurangan berhadapan dengan hukum dan hal itu berlaku bagi semua, termasuk keluarga dekat, saudara jauh, atau pendatang.

Dalam mitos Toraja, leluhur orang Toraja datang dari surga dengan menggunakan tangga yang kemudian digunakan oleh suku Toraja sebagai cara berhubungan dengan Puang Matua, dewa pencipta

Alam semesta, menurut kepercayaan Aluk Todolo, dibagi menjadi dunia atas (Surga) dunia manusia (bumi), dan dunia bawah. Pada awalnya, surga dan bumi menikah dan menghasilkan kegelapan, pemisah, dan kemudian muncul cahaya.

Dewa-dewa Toraja lainnya adalah Pong Banggai di Rante (dewa bumi), Indo’ Ongon-Ongon (dewi gempa bumi), Pong Lalondong (dewa kematian), Indo’ Belo Tumbang (dewi pengobatan), dan lainnya.

Hewan tinggal di dunia bawah yang dilambangkan dengan tempat berbentuk persegi panjang yang dibatasi oleh empat pilar, bumi adalah tempat bagi umat manusia, dan surga terletak di atas, ditutupi dengan atap berbentuk pelana.

Di dalam menjalankan ritualnya, mengenal dua macam yaitu: Upacara kedukaan disebut Rambu Solok dan Rambu Tuka sebagai upacara kegembiraan.

Upacara Rambu Solok meiliputi tujuh tahapan, yaitu: Rapasan, Barata Kendek, Todi Balang, Todi Rondon, Todi Sangoloi, Di Silli, Todi Tanaan. Dan upacara Rambu Tuka juga meliputi 7 (tujuh) tahapan, yaitu; Tananan Bua’, Tokonan Tedong, Batemanurun, Surasan Tallang, Remesan Para, Tangkean Suru, Kapuran Pangugan.

To minaa adalah pendeta Aluk Todolo yang dianggap sebagai pemegang kekuasaan di bumi yang kata-kata dan tindakannya harus dipegang baik dalam kehidupan pertanian maupun dalam upacara pemakaman.

Kepercaan Aluk Todolo bukan hanya sistem kepercayaan, tetapi juga merupakan gabungan dari hukum, agama, dan kebiasaan. Aluk Todolo mengatur kehidupan bermasyarakat, praktik pertanian, dan ritual keagamaan.

Tata cara Aluk Todolo bisa berbeda antara satu desa dengan desa lainnya. Satu hukum yang umum adalah peraturan bahwa ritual kematian dan kehidupan harus dipisahkan.

Suku Toraja percaya bahwa ritual kematian akan menghancurkan jenazah jika pelaksanaannya digabung dengan ritual kehidupan. Kedua ritual tersebut sama pentingnya.

Aluk Todolo pernah menjadi tali pengikat masyarakat Toraja yang begitu kuat, bahkan menjadi landasan kesatuan sang torayan yang sangat kokoh sehingga kemanapun orang toraja pergi akan selalu ingat kampung halaman, dan rindu untuk kembali ke sana.

Ikatan batin yang Sangtorayan yang begitu kokoh tentu saja antara lain adalah buah-buah dari tempaan Aluk Todolo itu. Karena itu kita patut prihatin bila aluk todolo itu kini nyaris lenyap diterpa arus dunia modern. Maka mari kita pikirkan bersama warisan leluhur yang begitu berharga ini.

Rambu Solok; Kedukaan dan Pesta Kematian Di Toraja

Mayoritas penduduk suku Toraja, hingga enam puluh persen masih memegang teguh kepercayaan nenek moyangnya, maka adat istiadat yang ada sejak dulu tetap dijalankan sekarang. Sebagai penganut Aluk Todolo masyarakat Suku Toraja mengenal dan masih melestarikan dua ritual besar dalam daur hidupnya, yaitu: Upacara kegembiraan yang disebut Rambu Tuka dan upacara kedukaan yang disebut Rambu Solok.

Upacara Rambu Solok adalah jawaban dari ketidakpastian akan misteri kehidupan setelah mati, agar terhapuskan segala kekhawatiran akan nasib si mati di alam baka. Karena ajaran Aluk Todolo menurut orang Toraja berisi konsep kepercayaan terhadap alam kehidupan setelah mati

Ajaran ini menganggap bahwa arwah seseorang setelah mati tidak hilang begitu saja melainkan kembali ke suatu tempat yang dianggap sebagai alam arwah atau sebagai tempat asal-usul leluhur mereka. Karena itulah, di dataran tinggi Tana Toraja, Provinsi Sulawesi Selatan, upaya untuk menguak misteri itu telah menciptakan sebuah prosesi religius yang begitu rumit, kompleks, dan memakan banyak tenaga serta biaya.

Pada awalnya, tata cara upacara Rambu Solok dalam kepercayaan Aluk Todolo, tergolong upacara yang rumit dan kompleks. Karena dalam upacara Rambu Solok meliputi tujuh tahapan, yaitu: Rapasan, Barata Kendek, Todi Balang, Todi Rondon, Todi Sangoloi, Di Silli, Todi Tanaan. Secara umum tujuan dari upacara yang termasuk kelompok Rambu Solok adalah untuk keselamatan arwah leluhur di alam puya dan kesejahteraan serta keselamatan manusia di dunia.

Namun, sejak masuknya agama Kristen, Katolik, dan Islam, beberapa bagian prosesi telah dihilangkan. Kini, secara umum, ada empat bagian prosesi yang masih terus dilakukan, yaitu Mapalao, penerimaan tamu, penyembelihan kerbau, dan penguburan.

Dalam pelaksanaan upacara Rambu Solok tersebut dipergunakan berbagai sarana termasuk beberapa peninggalan budaya megalitik yang dapat tahan lama, seperti menhir, lumpang batu, dan karopik. Berdasarkan fungsinya dapat diketahui jenis peninggalan yang dipergunakan sebagai sarana pemujaan untuk keselamatan arwah leluhur di alam puya, yaitu menhir jenis pesungan banek, menhir jenis simbuang, lumpang batu, karopik, dan kandean dulang.

Selain itu puluhan ekor kerbau dan babi mesti dikorbankan dengan melibatkan massa secara kolosal dan membutuhkan dana puluhan hingga ratusan juta bahkan milyaran rupiah.

Mapalao adalah proses membawa jenazah ke pusat prosesi, yaitu di rumah adat Tongkonan. Mapalao dilakukan dengan mengarak keranda jenazah dari rumah tinggal menuju Tongkonan keluarga. Di sanalah, jenazah disemayamkan sementara waktu di sebuah Lakean yang terletak di ujung Tongkonan.

Selang beberapa jenak keluarga menerima kedatangan para tamu untuk memberi penghormatan terakhir kepada almarhum. Kedatangan tamu akan ditandai bunyi lesung yang ditabuh sejumlah wanita.

Para tamu datang dalam kelompok-kelompok kerabat sambil membawa hewan seperti kerbau dan babi untuk disumbangkan. Kemudian tuan rumah segera membawa mereka ke Lantang dan menyediakan hidangan. Di saat yang sama, alunan kidung kesedihan dari penari Renteng sengaja dilantunkan untuk menggambarkan sejarah hidup almarhum.

Kemudian, hewan yang telah diterima keluarga, baik dari sumbangan maupun keluarga sendiri akan dihitung oleh panitia yang terdiri dari keluarga, aparat desa, dan masyarakat adat. Untuk disembelih satu persatu di depan Tongkonan dan keranda jenazah.

Setelah semua rangkaian upacara telah dilewati maka saatnya dilakukan penguburan. Kuburan suku Toraja berada di atas bukit-bukit batu, bukan di bawah tanah. Hal ini berkaitan dengan kepercayaan akan keselamatan arwah leluhur di alam puya, yang sangat tergantung kepada pemenuhan syarat-syarat yang dibutuhkan sesuai dengan ketentuan adat.

Seperti berbagai tahapan upacara, bekal berupa korban persembahan dan bekal kubur dan perlakuan-perlakuan lainnya setelah seseorang meninggal. Sehingga ada keyakinan bahwa semakin menantang proses penguburan maka semakin tinggi pula derajat keluarga yang meninggal.

Pelaksanaan penguburan dilakukan pada beberapa jenis kuburan baik secara langsung (kubur primer) maupun tidak langsung (kubur sekunder), baik mempergunakan wadah tertentu seperti erong maupun tanpa wadah seperti pada kubur jenis sillik.

Jenis Liang Sillik diperuntukkan bagi strata sosial yang berasal dari Tanak Kua-Kua (strata sosial rendah). Yaitu penguburan pertama tanpa menggunakan wadah tertentu. Sedangkan strata sosial menengah dan tinggi, dikuburkan pada jenis Liang Erong, Liang Tokek, Liang Pak, dan Patane, yang mempergunakan wadah erong, baik yang berfungsi untuk penguburan pertama maupun untuk penguburan kedua. Penguburan kedua hanya berlaku bagi para bangsawan tinggi dan keluarganya.

Kosmologi Toraja; Orang Toraja Terhadap Semesta

Kosmologi berasal dari istilah Yunani; cosmos, yang berarti semesta dan juga bisa berarti keteraturan susunan atau juga ketersusunan yang baik. Lawannya adalah chaos, yang bisa dimaknai dengan keadaan kacau balau. Kosmologi lebih jauh berbicara tentang pemahaman untuk mencari struktur dan hukum-hukum yang mendalam ketika berbicara ke-semesta-an.

Dalam pengertian yang lebih luas mengenai konsep dan struktur kosmos, seperti strata vertikal mengenai `surga’ (dunia atas), `bumi’ dan ‘dunia bawah’, atau aturan-aturan horizontal yang mengacu pada`cardinal point’ (titik pusat) termasuk juga catatan mengenai lokasi antara gunung dan laut. Kesemuanya itu dirangkum dalam simbolik dan divisualisasikan pada wujud bagian per bagian.

Pandangan terhadap ruang semesta di beberapa budaya Nusantara, mendasarkan pada unsur-unsur alam seperti gunung, sungai, matahari terbit, matahari tenggelam, laut, dan lain-lain.

Masyarakat Nusantara lazimnya memiliki kecenderungan ‘tidak mempersoalkan’ bumi bulat atau datar dalam alam kepercayaan mereka, akan tetapi ada sebuah pemahaman yang jauh lebih dari sekedar bentuk; bahwa bumi adalah bagian dari tiga konsep utama dalam pembagian Dunia Atas, Tengah, dan Bawah.

Kosmologi Toraja lebih jauh memandang bumi yang kita tempati ini sebagai dunia yang terdiri dari dataran, bukit, gunung dan sungai dan lain-lain yang ‘disangga’ oleh salah satu Dewa.

Hal tersebut berdasarkan atas kepercayaan Aluk Todolo yang memandang alam sebagai falsafah dalam kepercayaannya dengan meyakini bahwa: bagian utara dinamakan Ulunna Langi, merupakan penjuru paling utama dan tempat yang dianggap paling mulia

Bagian timur dinamakan Mataalo, dianggap sebagai bagian kedua dari penjuru bumi karena merupakan tempat lahirnya terang atau kehidupan dan kebahagiaan. Sementara bagian barat dinamakan Mattampu, adalah bagian ketiga dari penjuru bumi dimana matahari terbenam dan datangnya kegelapan; serta bagian selatan dinamakan Pollona Langi, bagian ini dianggap rendah dari penjuru bumi karena merupakan tempat melepaskan segala yang kotor.

Mengenai arah di mana arwah Todolo atau nenek moyang berada dan para Deata atau Dewa yang berada masing-masing di Barat dan Timur, mendasarkan pada arah matahari terbit dan matahari tenggelam. Kedua arah tersebut dalam kepercayaan Aluk Todolo, Timur arah kelahiran dan kehidupan, barat adalah arah kematian, sesuai dengan adanya matahari terbit dan tenggelam tersebut

Adanya kepercayaan terhadap para Dewa dalam kosmologi Toraja terkait dengan pandangan masyarakat Toraja terhadap tata-ruang jagad raya atau makrokosmos yang dipandang terdiri dari tiga unsur yaitu: langi’ (sorga), lino atau padang berarti bumi dan Deata to Kengkok atau Puang to Kebali’bi’ (Dewa Berekor) artinya bagian dibawah bumi.

Selain itu ada beberapa pendapat dari para antropolog tentang skema kosmologi masyarakat Toraja. Seperti halnya Tangdilintin, menurutnya skema kosmologi dari masyarakat Toraja digambarkan menjadi: Puang Matua (Sang Pencipta) di Utara, alias atas, alias langit. Kemudian tiga kelompok Deata berada di Timur. Lalu Tomembali Puang atau Todolo di Barat dan bumi tempat kehidupan manusia di bawah.

Sementara Jowa Imre Kis-Jovak peneliti dari Belanda, membuat intepretasi kosmologi dari Aluk Todolo menjadi: Ulluna Langi digolongkan ke dalam dunia atas, berada di titik Zenith atau puncak dari bola langit.

Permukaan bumi dipandang sebagai Dunia Tengah atau dalam bahasa Toraja disebut Lino sering pula disebut Padang, terletak pada bidang potong tengah bola langi’ yang berarti langit. Dalam hal ini langit diartikan udara atau Puya tempat tinggal jiwa. Di dunia tengah inilah terdapat kehidupan manusia termasuk di dalamnya tongkonan.

Menurut interpretasi Kis-Jovak dari hasil penelitian antropologisnya, dunia tengah dalam hal ini terletak di sebelah timur Gunung Bamba Puang dan pohon-pohon palem sebagai pintu keluar-masuk para Dewa di sebelah barat. Dunia Bawah terdiri dari Pong Tulak Padang dan roh-roh dalam tanah mendukung dunia tengah rumah dan kediaman manusia di muka bumi.

Menurut Kis-Jovak, di luar sistem bola langit di sebelah barat terdapat Pongko’, yang dalam cerita orang Toraja dipercaya merupakan asal orang Toraja, dibatasi oleh tasik atau laut dengan ketiga bagian dunia tersebut di atas.

Cakrawala adalah keseluruhan sebagai pembungkus dunia tengah, dipandang sebagai palullungan yang artinya atap. Dunia bawah dipikul oleh Tulakpadang artinya Ia yang memikul bumi dengan kepala dan pohon-pohon palem di tangannya. Ia menjaga keseimbangan dan bermukim 12 tingkat di bawah bumi.

Meski-pun demikian, kadang-kadang terjadi ketidak seimbangan yang dipercaya mengganggu hingga terjadi gempa bumi. Sementara itu Dunia Bawah dapat dicapai melalui lobang-lobang belahan dan jurang-jurang. “Rongga-rongga” dalam perut bumi ini merupakan suatu ciptaan yang luar biasa, mengagumkan dan ditakuti manusia.

Sungai Sa’dang–dipandang oleh masyarakat Toraja–mengalir dari utara ke selatan melintas Tana Toraja, kemudian berbelok ke arah barat. Hal ini menunjukkan bahwa arah air yang kebetulan dari utara ke selatan (tepatnya dari utara-timur ke arah selatan-barat) menjadi arah penting dalam orientasi kehidupan.

Hal tersebut dapat dianalisis menurut logika bahwa air menjadi sumber kehidupan mengalir dari daa atau utara ke arah lao’ atau selatan merupakan unsur utama dalam menanam padi selain pula sangat vital dalam kehidupan sehari-hari.

Unsur-Unsur bumi itu menjadi faktor penentu dalam kebudayaan suku Toraja, yang bisa kita lihat dari bentuk rumah khususnya tongkonan, tata-letak, denah, konstruksi, hingga kemudian mempengaruhi pola tata ruang sebuah wilayah. Dan pemahaman tentang kosmologi ini sangat nampak dan khas dalam masyarakat Toraja bahkan pada konsep tempat pemakaman yang berada di atas-atas bukit, bukan di bawah tanah.

Rapoport (1969) menyebutkan bahwa ciri yang kuat pada arsitektur vernakuler adalah adanya kosmologi dalam penataan lingkungan permukiman, orientasi kosmologi ini dapat ditandai dengan adanya ruang yang bersifat sakral (sacred) dan ruang yang bersifat profan (profane).

Meskipun secara teoritis berbagai bentuk pemahaman kosmologi di Nusantara ini mempunyai persamaan, namun masing-masing mempunyai ciri yang satu dengan lain yang berbeda; khas. Hal itu besar kemungkinan karena sifat manusia yang cenderung memiliki pandangan dan “interpetasi” berbeda di samping perbedaan letak geografis dan pengaruh alam.

Pemukiman Orang Toraja; Tongkonan dan Ruang

Struktur dan pola kampung yang terbentuk di Toraja sangat dipengaruhi oleh pola kehidupan masyarakat suku Toraja. Hal ini didukung dengan aktivitas masyarakat yang masih cenderung bergantung dengan alam.

Kabupaten Toraja Utara terdiri dari beberapa kampung tradisional dengan bentuk yang khas. Kampung-kampung tersebut merupakan warisan turun-temurun dari Nenek Moyang; tiap Tongkonan yang terus dipertahankan oleh keturunan-keturunannya.

Selain itu, keakraban masyarakat suku Toraja yang masih dipertahankan oleh masyarakat suku Toraja juga merupakan salah satu pembentuk struktur dan pola ruang kampung di Toraja.

Secara umum, bentuk perkampungan tradisional suku Toraja semuanya memiliki kesamaan, yaitu terdiri dari rumah Tongkonan dan deretan alang atau lumbung.

Dalam perkembangannya, kampung-kampung tradisional suku Toraja yang ada di Kabupaten Toraja Utara terbentuk karena warisan dari para leluhur tiap-tiap Tongkonan.

Kondisi fisik alam Kabupaten Toraja Utara merupakan kawasan perbukitan dan memiliki suhu udara yang cukup dingin.

Pada zaman dahulu, Nenek Moyang Tongkonan mendirikan rumah di atas tebing (kini menjadi area pekuburan) untuk menghindari musuh, kemudian seiring dengan perkembangan zaman Nenek Moyang Tongkonan Kesu lalu mendirikan Tongkonan pertama yang berada di lokasi yang ada saat ini.

Susunan kampung secara struktural memiliki sifat yang homogen.  Bangunan utama yang ada di kampung, yaitu rumah Tongkonan dan deretan alang memiliki pola yang sama dengan bangunan rumah tunggal yang ada disepanjang jalan menuju ke perkampungan.

Pola jaringan jalan kampung  terdiri dari pola jalan grid dan pola jalan tidak teratur. Pola jalan grid atau bersiku merupakan pola jalan yang terencana, sehingga membentuk grid-grid, demikian juga pada pola jalan yang berada di depan Tongkonan dan alang.

Sedangkan untuk jalan di depan rumah Tongkonan dan alang merupakan jalan dengan pola grid karena memang sejak awal berdirinya rumah Tongkonan dan alang menurut adat dan kepercayaan memang harus berada di posisi Utara dan Selatan, maka dengan sendirinya membentuk pola grid.

Selain itu, jaringan jalan lainnya seperti jalan menuju ke area pekuburan dan rante merupakan jalan dengan pola tidak teratur. Pola jalan tidak teratur ini biasanya terlihat pada kawasan yang mulai berkembang, yang ditandai dengan lebar jalan yang tidak sama.

Berdasarkan atas kepercayaan Aluk Todolo yang memandang alam sebagai falsafah dalam kepercayaannya (Sitonda 2007 : 30), memengaruhi faktor tata letak bagunan dengan meyakini bahwa: bagian utara dinamakan Ulunna Langi, merupakan penjuru paling utama dan tempat yang dianggap paling mulia

Bagian timur dinamakan Mataalo, dianggap sebagai bagian kedua dari penjuru bumi karena merupakan tempat lahirnya terang atau kehidupan dan kebahagiaan.

Sementara bagian barat dinamakan Mattampu, adalah bagian ketiga dari penjuru bumi dimana matahari terbenam dan datangnya kegelapan; serta bagian selatan dinamakan Pollona Langi, bagian ini dianggap rendah dari penjuru bumi karena merupakan tempat melepaskan segala yang kotor.