Categories Traveldraft Tags

Hutan Hujan Sumatra, Keanekaragaman Hayati

Hutan Hujan Tropis di Sumatra atau Hutan Hujan Sumatra saat ini sudah mengalami degradasi akibat berbagai aktivitas manusia yang tidak mengerti tentang hutan tropis. Hutan inipun sudah sangat terancam. Hal ini bisa mengancam ekosistemnya yang ada di dalamnya. Hutan yang memiliki luas 2,5 juta hektar ini terdiri dari 3 Taman Nasional, yaitu Taman Nasional Gunung … Read more

Hutan Hujan Tropis di Sumatra atau Hutan Hujan Sumatra saat ini sudah mengalami degradasi akibat berbagai aktivitas manusia yang tidak mengerti tentang hutan tropis. Hutan inipun sudah sangat terancam. Hal ini bisa mengancam ekosistemnya yang ada di dalamnya.

Hutan yang memiliki luas 2,5 juta hektar ini terdiri dari 3 Taman Nasional, yaitu Taman Nasional Gunung Leuser, Taman Nasional Kerinci Seblat, dan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan. Keragaman jenis satwa dan tumbuhan di hutan tropis ini sangat tinggi yang memiliki heterogenitas habitat, sehingga menyebabkan muculnya keanekaragaman jenis yang tinggi.

Hutan Hujan Tropis Sumatra merupakan hutan tropis yang masuk dalam daftar situs warisan dunia melalui program World Heritage Committee yang diselenggarakan UNESCO, atau juga disebut dengan UNESCO’s World Heritage Sites (Situs Warisan Dunia UNESCO).

Program tersebut dibentuk supaya tempat-tempat yang sangat penting dapat dilestarikan untuk generasi mendatang. Dengan masuknya hutan tropis di Sumatra ke dalam warisan dunia, maka hutan ini termasuk budaya, alam serta benda-benda yang ada di dalamnya menjadi warisan bagi generasi berikutinya.

Berawal dari kekhawatiran terhadap kepunahan berbagai macam spesies yang ada di dalam hutan tropis Sumatra, seperti hewan Harimau Sumatra, Gajah Sumatra, dan Badak Sumatra.

International Union for Conservation of Nature (IUCN) mendorong kawasan hutan Sumatra agar masuk dalam daftar situs terancam. Dalam monitoring selama 5 tahun terakhir, IUCN dan UNESCO menemukan, bahwa hutan hujan tropis Sumatra harus segera direstorasi. Pembangunan jalan, aktivitas pertanian, dan perkebunan yang dilakukan masyarakat adalah ancaman utama bagi hutan ini.

Juli 2004 lewat sidang World Heritage Committee ke 28 di Suzhou RRC, Hutan Tropis Sumatra diterima sebagai Situs Warisan Dunia oleh UNESCO (Tropical Rainforest Heritage of Sumatra)

Alasan utamanya karena sebagai kawasan Hutan Lindung dan rumah bagi sekitar 10.000 jenis tanaman. Di dalamnya termasuk 17 genus endemik, lebih dari 200 spesies mamalia, dan 580 spesies burung dan 465 berdomisili dan 21 merupakan endemis.

Di antara jenis mamalia, 22 adalah orang utan, yang tidak ditemukan di tempat lain di Indonesia dan 15 hanya terbatas ke wilayah Indonesia, termasuk Sumatra yaitu orang utan Sumatra. Hutan Hujan Tropis Sumatra ini juga memberikan bukti dari evolusi biogeografi pulau.

Berbagai jenis tumbuhan endemik seperti, kantong semar, bunga terbesar di dunia Rafflesia Arnoldi, dan bunga tertinggi Amorphophallus titanum tumbuh di hutan ini. Tak hanya itu, hutan ini juga menjadi sumber mata pencarian masyarakat sekitar hutan, di antaranya suku Mentawai dan suku Anak Dalam.

Warisan Dunia yang Terancam

Pada sidang World Heritage Committee UNESCO di Saint Petersburg, Rusia, 24 Juni hingga 6 Juli 2012 terungkap, bahwa Hutan Hujan Tropis Sumatra masuk ke dalam daftar UNESCO sebagai salah satu dari 38 Warisan Dunia Yang Terancam. Selain telah mengancam ekosistem, budaya yang terkandung di dalamnya terutama jika terdapat artefak ikut terancam. Dalam sidang tersebut dibahas seputar upaya untuk menjaga dan melestarikan situs-situs tersebut.

Ancaman bagi ekosistem dan budaya yang terkandung di dalamnya akibat perusakan yang dilakukan tertentu. Aktivitas yang berakibat pada kerusakan hutan ini, seperti penggundulan hutan, penambahan hutan untuk pertanian dan pembuatan jalan, serta perburuan.

Keanekaragaman hayati yang hidup di sana terancam punah bila tak segera dilindungi. Selain itu, hutan hujan tropis Sumatra berperan penting dalam stabilitas suplai air, ekologi, dan ekonomi, serta menekan pengaruh kekeringan dan kebakaran. Jika tidak dapat mengatasi ancaman itu, situs terancam itu akan terlempar dari daftar situs warisan dunia.

Padahal sebelumnya, dalam sidang UNESCO yang ke-34 di Brazilia, Brazil pada 25 Juli hingga 3 Agustus 2010, ada upaya dari pemerintah Indonesia untuk melindungi situs tersebut. Atas pertimbangan Komite Warisan Dunia UNESCO, PBB untuk Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan, memutuskan tidak memasukkan Warisan Dunia Hutan Tropis Sumatra dalam Daftar Warisan Dunia yang Terancam.

Namun, kondisi saat ini sudah berubah. Hal ini menjadi pesan bagi pemerintah Indonesia untuk terus melindungi dan melestarikan Hutan Hujan Sumatra supaya tak dihapus dari daftar situs warisan dunia. Tapi yang lebih penting adalah menjaga agar tetap berfungsi selayaknya Hutan yang memberikan banyak manfaat bagi kehidupan bumi.