Categories Traveldraft Tags

Candi Kidal, Tempat Persemayaman Raja Anusapati

Denah Candi Kidal persegi empat, bangunan candi terdiri atas batur yang rendah, kaki, badan dan atap. Tangga naik untuk masuk ke dalam bilik candi berada di sebelah barat dan di kanan-kiri tangga dihiasi makara serta di setiap sudut kaki candi dihiasi singa.

Candi Kidal berada di Desa Rejokidal, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang. Candi ini adalah candi peninggalan Kerajaan Singhasari dan merupakan candi Hindu yang berada di Kabupaten Malang.

Candi Kidal dibangun sebagai tempat persemayaman Raja Anusapati, yaitu raja kedua dari kerajaan Singhasari, yang wafat pada tahun 1248 M. Menurut catatan sejarah, dibangun pada 1248 M, bertepatan dengan berakhirnya upacara pemakaman Cradha untuk raja Anusapati, dan selesai pada 1260 M.

Pada awal penemuannya, candi Kidal ditemukan oleh pihak Belanda pada tahun 1925. Hal ini terbukti dengan tersimpannya arca Siwa, yang seharusnya berada di candi Kidal telah tersimpan di Royal Tripical Institute Amsterdam.

Candi yang memiliki relief dengan cerita Garudeya ini telah mendapat rekonstruksi pada tahun 1990, makna dari relief Garudeya ini adalah tentang pembebasan perbudakan. Material utama candi ini adalah batu andesit dengan dimensi geometris vertikal.

Candi  terbuat dari batu andesit dan berdimensi geometris vertikal. Bangunan kaki candi membentuk bujur sangkar nampak agak tinggi dengan anak tangga kecil-kecil. Ukuran tubuh candi lebih kecil dibandingkan luas kaki serta atap candi sehingga terlihat ramping. Pada kaki dan tubuh candi terdapat hiasan medalion.

Atap candi terdiri atas 3 bagian dengan bagian paling atas mempunyai permukaan cukup luas tanpa hiasan atap seperti ratna atau stupa. Masing-masing lapisan disisakan ruang agak luas dan diberi hiasan. Konon, pada awal pembuatannya, tiap pojok lapisan atap candi ditempatkan berlian kecil.

Candi Kidal dilengkapi dengan hiasan kepala raksasa yang nampak menyeramkan dengan matanya melotot penuh. Mulutnya terbuka dan nampak 2 taringnya yang besar dan bengkok memberi kesan dominan. Adanya 2 taring tersebut juga merupakan ciri khas candi corak Jawa Timuran.

Di sudut kiri dan kanan terdapat jari tangan yang siap menerkam. Relief raksasa tersebut dimaksudkan sebagai penjaga bangunan suci candi. Menurut catatan sejarah, candi Kidal merupakan candi paling tua dari peninggalan candi-candi di Jawa Timur.

Hal ini karena periode Airlangga (11-12 M) dan Kediri (12-13 M) tidak meninggalkan sebuah candi, kecuali candi Belahan dan Jolotundo yang sesungguhnya bukan merupakan candi melainkan pentirtaan (pemandian).

Ciri khas candi ini adalah adanya narasi cerita Garuda terlengkap yang terpahat pada kaki candi. Cara membacanya dengan berjalan berlawanan arah jarum jam, dimulai dari sisi sebelah selatan.

Relief pertama menggambarkan Garuda menggendong 3 ekor ular besar, relief kedua melukiskan Garuda dengan kendi di atas kepalanya, dan relief ketiga Garuda meyangga seorang wanita di atasnya.

Di antara ketiga relief tersebut, relief kedua adalah yang paling indah dan masih utuh. Menurut kesusasteraan Jawa Kuno, Garudeya, ketiga relief tersebut menggambarkan perjalanan Garuda dalam membebaskan ibunya dari perbudakan dengan penebusan air suci “amerta”.

Cerita Garuda itu mengandung pesan moral dan legenda. Dalam filosofi Jawa, candi juga berfungsi sebagai tempat ruwatan raja yang telah meninggal supaya kembali suci dan dapat menitis kembali menjadi dewa. Ide ini berkaitan erat dengan konsep “Dewa-Raja” yang berkembang kuat di Jawa saat itu.

Berkaitan dengan prinsip tersebut, dan sesuai dengan kitab Negarakretagama, maka candi Kidal merupakan tempat di-ruwat-nya raja Anusapati –anaknya Kendedes bersama Tunggul Ametung– dan dimuliakan sebagai Siwa. Namun sayangnya, sebuah patung Siwa yang indah dan diduga kuat berasal dari candi Kidal sampai sekarang masih tersimpan di museum Leiden-Belanda.

Konon, Anusapati sangat berbakti dan mencintai ibunya. Dia ingin ibunya lepas dari penderitaan dan nestapa salama hidupnya, menjadi suci kembali dan wanita sempurna.

Relief Garudeya pada candi mengambarkan bakti Anusapati kepada ibunya Kendedes yang cantik jelita namun nestapa hidupnya. Bila diterjemahkan dalam kehidupan sekarang, pesan moral tersebut tampaknya masih aktual: bakti seorang anak kepada orang tua –terlebih lagi kepada ibu yang melahirkan— tak akan lekang dan lapuk oleh waktu.

Struktur dan Data Bangunan Candi Kidal

Denah Candi persegi empat, bangunan candi terdiri atas batur yang rendah, kaki, badan dan atap. Tangga naik untuk masuk ke dalam bilik candi berada di sebelah barat dan di kanan-kiri tangga dihiasi makara serta di setiap sudut kaki candi dihiasi singa.

Pada tiap-tiap sisi kaki candi kidal dipahat fragmen ceritera Garudeya yaitu ceritera yang melambangkan kebebasan. Di sisi kaki candi sebelah selatan digambarkan seekor garuda dan para naga, sebelah timur garuda membawa guci amarta dan di sebelah utara garuda bersama ibunya yaitu sang Winata.

Bilik candi terdapat pada badan candi dan di bagian atas pintu masuk bilik candi dihiasi kepala kala. Hiasan kepala kala dijumpai pula di atas relung-relung yang ada di sisi selatan, timur dan utara badan candi.

Atap candi Kidal dihiasi motif tumpal, artefik dan pelipit-pelipit. Bangunan candi dikelilingi susunan batur yang berfungsi sebagai pagar. di candi Kidal pernah ditemukan patung perwujudan raja kedua Singgasari yaitu raja Anusapati sebagai Siwa Mahadewa. Patung tersebut sekarang berada di Museum Royal Tropical Institute di Negeri Belanda.

Candi Kidal didirikan pada tahun 1260 Masehi bertepatan dengan 12 tahun sesudah wafatnya raja Anusapati. Menurut Nagarakertagama, candi Kidal berfungsi sebagai tempat pendharmaan raja Anusapati yang wafat pada tahun 1248 Masehi.

Dari adanya pahatan relief Garudeya yang berasal dari Parwa I KItab Mahabarata (Adiparwa) dan adanya patung perwujudan Siwa Mahadewa maka dapatlah diketahui bahwa candi Kidal bersifat Hindu.

Lokasi Candi Kidal. Desa Rejokidal, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang-Jawa Timur. Bahan dan Ukuran: Bahan: Batu Andesit, Panjang : 10,80 meter Lebar : 7,40 meter Tinggi : 12,26 meter

Candi Kidal pernah dipugar pada tahun 1986-1990. Hasil pemugarannya seperti yang dapat kita lihat pada saat sekarang.