Categories Traveldraft

Anak Gunung Krakatau; Pesona dan Sejarahnya

Gunung Krakatau seolah sebuah cerita yang diwariskan. Tidak saja dapat memicu adrenalin, letusan maha dahsyatnya telah mengispirasi para sineas, dokumentator hingga sastrawan untuk mengabadikannya dalam kenangan.

Anak Gunung Krakatau seolah sebuah cerita yang diwariskan. Tidak saja dapat memicu adrenalin, letusan maha dahsyatnya telah mengispirasi para sineas, dokumentator hingga sastrawan untuk mengabadikannya dalam kenangan.

Gunung Krakatau menunjukkan kekuatannya di hadapan dunia. Gunung itu meletus pada tanggal 27 Agustus 1883 telah menyebabkan tsunami yang dahsyat hingga memakan korban sekitar 36.000 nyawa dan menghantarkan debu yang berhamburan hingga mencapai jarak 80 km.

Setelah ia meletuskan dirinya dan sempat menghilang, kini ia kembali dengan tubuh yang baru. Masyarakat sekitar menyebutnya dengan sebutan Anak Gunung Krakatau. Anak Gunung Krakatau tumbuh dengan pesona dan daya tarik yang tak kalah dari Gunung Krakatau yang terdahulu.

Anak Gunung Krakatau ini memiliki pesona alam yang indah, serta keunikan tersendiri yang mampu menyedot perhatian wisatawan. Wisata Anak Gunung ini membuat pengalaman berwisata yang mendebarkan sekaligus menakjubkan dengan misteri yang tersimpan di balik kemunculan “Anak Gunung Krakatau”. Misteri ini berawal dari sejarah meletusnya Gunung Krakatau 130 tahun yang lalu.

Gunung Krakatau purba diperkirakan memiliki ketinggian mencapai 2000 meter. Letusannya yang dahsyat terjadi pada zaman prasejarah. Dalam tradisi lokal Letusan Gunung Krakatau ini kemudian memunculkan tiga pulau yakni Panjang, Rakata, dan Sertung.

Ledakan dahsyat Krakatau kembali terjadi pada tahun 1883 hingga menghancurkan ¾ dari bagian gunungnya. Gunung Krakatau kemudian tenang kembali yaitu sejak Februari 1884 hingga Juni 1927.

11 Juni 1927 tercatat adanya erupsi yang memiliki komposisi magma basa menyembur di pusat kompleks Gunung Krakatau, peristiwa ini dinyatakan sebagai proses kelahiran dari Gunung Anak Krakatau. Gunung Anak Krakatau kemudian tumbuh menjadi besar dan tinggi, hingga membentuk kerucut yang telah mencapai tinggi 300 m dari muka laut disertai perluasan wilayah daratannya.

Catatan sejarah dari kegiatan vulkanik Anak Gunung Krakatau ini dari sejak munculnya pada 11 Juni 1930 tercaatat telah mengeluarkan erupsinya lebih dari ratusan kali baik itu yang bersifat eksplosif ataupun efusif. Umumnya titik dari letusan yang terjadi berpindah-pindah tapi masih berada pada area di sekitar tubuh kerucutnya.

Anak Gunung Krakatau ini akan mengalami erupsi umumnya terjadi 3-4 tahun sekali berupa letusan abu dan lelehan lava dengan waktu istirahat sekitar 1-8 tahun. Kegiatan erupsi terakhir Anak Gunung Krakatau terjadi pada 8 November 1992 sampai Juni 2000 dan tahun 2007, 2008, dan 2009 yaitu letusan berupa abu dan lelehan lava.

Potensi alam, pesona, dan juga misteri Gunungnya yang sedemikian rupa, semakin menambah daya tarik banyaknya pengunjung dan bahkan ilmuwan banyak yang menjadikan kawasan kompleks Gunung Krakatau ini sebagai laboratorium alami untuk kajian geologi, vulkanologi, biologi, dan juga untuk tujuan konservasi.

Bahkan ada juga beberapa yang telah merekomendasikan kompleks Gunung Krakatau ini sebagai satu dari tujuh keajaiban alam di dunia. Sungguh menarik datang berkunjung ke Anak Gunung Krakatau ini.

Nyali siapa pun yang berkunjung ke tempat ini akan di uji. Wisata yang mempesona, menegangkan namun sangat memuaskan.

Informasi Berkunjung ke (anak) Gunung Krakatau

Terletak di antara pulau Jawa dan pulau Sumatra membuat (anak) Gunung Krakatau mudah sekali untuk diakses dari beberapa wilayah. Untuk datang ke Anak Gunung Krakatau, wisatawan akan dimudahkan dengan berbagai fasilitas yang ada

Perlu kehati-hatian untuk datang ke Gunung Krakatau. Karena secara alami gunung ini masih dalam keadaan aktif yang bisa saja secara tiba-tiba bergetar atau terdengar menggemuruh. Hal ini dikenal dengan ‘batukan’ gunung merapi. Belum lagi jika sudah sampai di Krakatau, wisatawan bisa mendaki gunung tersebut hingga dapat menyaksikan bekas lelehan dari letusannya

Jalur pendakian Gunung Krakatau bukanlah jalur pendakian yang mudah. Wisatawan harus menghadapi kondisi tanah yang miring berpasir, dan sesekali udara yang tidak bersahabat. Waktu yang dibutuhkan untuk mendaki mencapai puncak sekitar 30-45 menit

Selain menyaksikan kawasan Krakatau, bagi wisatawan yang ingin menikmati suasana lainnya dapat juga memancing di sekitar kawasan Gunung. Gunung Krakatau yang hampir satu abad lebih tidak aktif ini memiliki berbagai biota laut yang dihuni beragam jenis ikan.

Dengan keadaan air lautnya yang bersih dan jernih tentunya akan sangat mendukung anda beraktivitas, misalnya berenang atau kegiatan snorkeling
Saat anda menyelam, pesona dan kehidupan dari biota bawah laut siap menyapa dan menyihir penyelam.

Ragam terumbu karang yang indah penuh warna serta aneka jenis ikan yang berenang secara bergerombol akan menjadi hal yang dapat anda temui. Bila beruntung, saat menyelam mungkin anda bisa menemui spesies fauna laut yang sangat terkenal karena cantik dan lucu dengan warna orange berpadu garis putih dan hitam, yakni ikan badut si Nemo (amphiprionocellaris)

Ikan Badut si “Nemo” ini biasanya hidup di antara terumbu karang yang beracun dan tidak akan lari ketika didekati penyelam. Selain itu masih banyak biota laut yang langka yang bisa anda temui sehingga dapat menghadirkan tantangan tersendiri bagi penyelam.

Anda juga dapat menikmati pemandangan bawah laut yang berupa bekas patahan berlekuk-lekuk (drop off). Di kedalaman kurang lebih 100-200 meter, terkadang penyelam akan menemukan fenomena alam gelembung gas metan

Tentu saja berkunjung ketempat ini membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Beberapa pilihan untuk tempat penginapan pun disediakan di kawasan ini. Penginapan terdekat terletak di Pulau Sibesi.

Penginapan di sini cukup sederhana yang dapat menampung 5-8 orang. Air bersih tersedia secukupnya. Makanan untuk tamu disediakan oleh pihak penginapan dengan biaya lumayan murah untuk sekali makan

Di sini tidak ada tiket masuk, yang ada hanya “biaya sewa” ranger di Krakatau sebesar Rp 50.000,-. Ataupun jika wisatawan yang datang adalah seorang petualang maka mereka bisa datang ke kawasan wisata sepanjang pantai barat Banten; Pantai Anyer, Pantai Carita, dan Pantai Tanjung Lesung untuk melakukan camping ground.

Namun, apabila wisatawan ingin penginapan dengan fasilitas yang lebih lengkap maka di kawasan tersebut telah disediakan beberapa home stay, resort, wisma,villa, dan hotel dengan berbagai tipe sesuai selera dan isi kantong Anda

Fasilitas yang ada sudah bisa dikatakan cukup lengkap dan terjamin, sehingga bagi wisatawan lokal maupun wisatawan mancanegara tidak perlu ragu jika ingin datang ke Gunung Krakatau

Ada beberapa catatan yang perlu diwaspadai oleh wisatawan; bahwa jika ingin datang berkunjung maka bawalah perbekalan yang secukupnya. Karena selain kondisi medan tempuh yang cukup menantang, juga tidak ada warung atau tempat yang menjual makanan di Gunung Krakatau

Selain itu wisatawan pun seharusnya menyiapkan mental dan kondisi tubuh yang baik, serta datang berkunjung pada waktu yang sudah diperhitungkan sekitar April-September dan bukan di bulan yang memiliki curah hujan yang tinggi. Hal ini diperhitungkan mengingat ombak laut dan angin yang bisa membahayakan

Tidak hanya itu, pengunjung disarankan pula untuk turun dari Gunung Krakatau sebelum pukul 15.00. Karena di waktu setelah itu pengunjung akan disulitkan dengan angin yang kencang, cahaya yang kurang, dan ombak sore atau malam yang berbahaya. Informasi tentang keadaan dan kondisi Anak Gunung Krakatau juga patut anda dapatkan sebelumnya.

Rute yang Dapat Anda Tempuh

Ada dua rute perjalanan yang bisa Wisatawan gunakan untuk menuju tempat wisata Gunung Krakatau;

Dari Lampung, dapat menggunakan bus jurusan Kali-Lampung Selatan. Kemudian anda bisa berlanjut ke Desa Canti. Hal yang sama juga berlaku jika anda berangkat dari Bakauheni, anda bisa menggunakan bus jurusan Kali

Dari dermaga di Desa Canti, biasanya banyak perahu motor nelayan yang bisa disewa untuk mengantarkan anda mengunjungi Gunung Krakatau kurang lebih waktu tempuhnya bisa mencapai 2,5 jam

Melalui Anyer, Pantai Carita, dan Tanjung Lesung. Rata-rata waktu yang ditempuh dari ketiga pantai tersebut kurang lebih selama 3 jam dengan menggunakan perahu motor atau speed boat

Dengan ragam jalur seperti ini maka wisatawan bisa dengan mudah datang ke Anak Gunung Krakatau. Tidak hanya itu jika wisatawan datang dari arah Jakarta, ditawarkan pula transportasi yang lebih lengkap dengan rincian sebagai berikut:

Kalideres – Pelabuhan Merak (ekonomi) ± Rp 20.000,00. Lama perjalanan sekitar 1.5 jam

Feri penyebarangan Merak – Bakahueni (ekonomi) ± Rp15.000,00
Bakahueni – Pelabuhan Tanjung Bom kurang lebih sekitar 2 jam, sewa kendaraan umum ± Rp150.000,00/mobil

Pelabuhan Tanjung Bom – Pulau Sabesi (untuk tempat singgah dan menginap) kurang lebih sekitar 2 jam, biaya penyewaan perahu untuk trip selama di Gunung Krakatau ± Rp 2.000.000,00 (2 hari 1 Malam).

Perahu trip kadang bisa menampung hingga 30 penumpang. Harga penyewaan perahu kadang tergantung rute, lamanya perjalanan, kapasitas muatan kapal, dan tentu saja keahlian anda dalam tawar menawar)
Kapal kayu Pulau Sabesi – Pulau Krakatau kurang lebih sekitar 2 jam.

Penginapan yang berada di Pulau Sabesi ± Rp 400.000,00 yang dapat menampung 20-30 orang, untuk kenyamanan mungkin berada dikisaran 10-15 orang

Sewa Ranger di Krakatau ± Rp 50.000,00

*Rincian Biaya tersebut di atas adalah perhitungan pada tahun 2013.