Image by Tropenmuseum
Categories Traveldraft Tags

Kebudayaan Nias | Explore Indonesia

Suku Nias adalah suku bangsa atau kelompok masyarakat yang mendiami pulau Nias, Provinsi Sumatra Utara. Gugusan pulau-pulau yang membujur di lepas pantai barat Sumatra yang berbatas Samudra Hindia. Kurang lebih hanya lima pulau besar yang dihuni; Pulau Nias, Tanah Bala, Tanah Masa, Pulau Tello, dan Pulau Pini. Dari kelima pulau besar itu, Pulau Nias lah … Read more

Suku Nias adalah suku bangsa atau kelompok masyarakat yang mendiami pulau Nias, Provinsi Sumatra Utara. Gugusan pulau-pulau yang membujur di lepas pantai barat Sumatra yang berbatas Samudra Hindia.

Kurang lebih hanya lima pulau besar yang dihuni; Pulau Nias, Tanah Bala, Tanah Masa, Pulau Tello, dan Pulau Pini. Dari kelima pulau besar itu, Pulau Nias lah yang memiliki penduduk yang cukup padat dan menjadi pusat dari kegiatan ekonomi serta pemerintahan.

Dalam bahasa setempat, orang Nias menyebut dirinya ono niha, ono berarti anak atau keturunan, sedangkan niha artinya manusia. Sedangkan pulau Nias disebut sebagai tano niha, Tano berarti Tanah dan niha artinya manusia

Ada beberapa pendapatmengenai asal usul leluhur masyarakat suku Nias, baik yang bersumber dari hoho (tradisi lisan yang berbentuk syair dan dinyanyikan). Mengenai asal usul orang Nias yang memiliki banyak versi sering kali menjadi bahan polemik di kalangan masyarakat Nias

Berikut adalah dua versi asal mula masyarakat Nias yang paling banyak dipercayai sebagai asal usul kehidupan di masyarakat suku Nias. Hoho yang ada dan berkembang di Pulau Nias menceritakan bahwa manusia pertama yang tinggal di Pulau Nias adalah sowanua atau juga disebut ono mbela.

Ono mbela adalah keturunan dari penguasa langit yang turun ke bumi dengan menggunakan liana lagara, jenis tumbuhan yang merambat di pohon. Konon, sebagian dari mereka ada yang bisa mencapai tanah dan sebagian lagi tersangkut di atas pohon. Yang memilih tinggal di pohon disebut sebagai sowanua/ono mbela (manusia pohon). Para Ono mbela ini dikenal memiliki rambut dan kulit yang berwarna putih, memiliki paras cantik, dan bermata biru.

Mereka yang jatuh ke tanah, menurut hoho, mereka menyelamatkan diri tinggal di gua-gua. Mereka kemudian tidak lagi disebut dengan ono mbela, tetapi dipanggil nadaoya yang berarti manusia yang tinggal di gua. Secara fisik pun mereka berbeda, nadaoya dikenal memiliki ukuran tubuh yang lebih besar dan memiliki kulit yang sedikit gelap.

Versi ini diperkuat oleh data-data arkeologis prasejarah berdasar pada temuan artefak-artefak di gua-gua, salah satunya di Gua Togi Ndrawa yang berada di Desa Lolowanu Niko‘otano, Kecamatan Gunung Sitoli diketemukan alat-alat tulang dan alat batu.

Versi lain mengenai asal muasal kehidupan di Nias adalah bahwa orang nias berasal dari Sigaru Tora’a (pohon hayat/kehidupan) yang terletak di Teteholi ana’a. Sama halnya seperti versi pertama, mitologi orang Nias ini terdapat pula dalam hoho yang mencertiakan bahwa alam semesta dan segala isinya berasal dari beberapa warna udara yang di aduk Lowalangi.

Lowalangi pada awalnya menciptakan Sigaru Tora’a yang buahnya dierami seekor laba-laba emas. Dari buah itu kemudian lahir sepasang dewa; Tuhamora’aangi Tuhamoraana’a (laki-laki) dan Burutiroangi Burutiraoana’a (perempuan)

Asal usul masyarakat Nias, dalam tradisi masayarakatnya juga sering dikatikan dengan cerita Raja Sirao yang memiliki tiga istri yang masing-masing menurunkan tiga putra dan memperebutkan tahta Raja Sirao ayah mereka. Untuk menyelesaikan kisruh ini, Raja Sirao kabarnya mengadakan sayembara bagi putra-putranya itu untuk mencabut toho (tombak) yang dipancangkan di lapangan Istana. Siapa yang sanggup mencabutnya dialah yang berhak menjadi raja.

Dari semua putranya, justru yang paling bungsu, Luo Mewona, yang dapat mencabutnya. Saudara-saudaranya yang kalah dalam sayembara kemudian diasingkan dari Teteholi ana’a ke bumi, tepatnya di pulau Nias. Dari sembilan putra Sirao yang diasingkan ke Bumi (Pulau Nias) hanya lima orang yang sampai di pulau Nias dan akhirnya menjadi leluhur orang Nias.

Lainnya mengalami “sedikit masalah” ketika sampai ke bumi. Ada yang jatuh menembus bumi dan menjelma menjadi naga penopang bumi bernama Da’o Zanaya Tano Sisagoro. Ada yang jatuh ke dalam air dan menjadi hantu sungai yang disebut hadroli. Ada yang tersangkut pohon dan menjelma menjadi hantu hutan yang sering disebut Bela. Dari tradisi lisan tersebut kemudian diselimuti menjadi kearifan-kearifan lokal yang berupa larangan dan anjuran yang berlaku di kalangan orang Nias.

Tentang kepercayaan orang Nias, terdapat dua pendapat. Pertama ialah berhubungan dengan konsep kematian suku Nias yang percaya bahwa tak ada kehidupan lain setelah kematian. Tetapi versi ini bertentangan dengan banyaknya adu (patung) yang dipercaya sebagai tempat singgahnya leluhur orang Nias yang telah meninggal. Orang Nias dalam versi ini hanya mengenang menghormati leluhur terutama atas jasa-jasa mereka.

Versi lain mengatakan bahwa masyarakat suku Nias menyembah dan memuja dewa Lowalangi, Laturadanö, Zihi, Nadoya, Luluö dan sebagainya. Dewa-dewa tersebut tidak berwujud dan memiliki sifat dan fungsi yang berbeda-beda. Selain itu, masyarakat suku Nias juga menyembah arwah leluhur yang berdiam di dalam berbagai benda berwujud seperti patung, batu, atau pepohonan.

Dari segi kekerabatan, masyarakat suku Nias menggunakan sistem marga yang mengikuti garis ayah (patrilineal). Marga-marga ini berfungsi sebagai tanda yang menunjukan garis keturunan dan muasal seseorang.

Mata pencaharian orang Nias pada masa lalu sangat bergantung pada alamnya. Mereka melakukan sistem ladang berpindah. Lahan-lahan pertanian itu dibuka dan kemudian digarap dengan ditanami berbagai jenis tanaman yang berguna. Setelah hasil kebun itu dipanen dan tanah dinilai sudah tidak lagi produktif, mereka kemudian mencari atau membuka lahan baru hingga lahan yang ditinggalkan akan menjadi subur kembali dengan sendirinya.

Selain itu, masyarakat suku Nias pada masa lalu juga berburu. Berburu berkaitan dengan kepercayaan bahwa pemilik segala yang terdapat di hutan adalah Bela. Maka dalam melaksanakan perburuan selalu didasarkan pada pemberian persembahan kepada Bela. Kegiatan berburu ini dilakukan secara perorangan maupun berkelompok.

Dalam kegiatan kelompok ini sudah diatur dalam adat mengenai sistem pembagian pekerjaan, bagi hasil, dan larangan-larangan yang tidak boleh dilanggar ketika sedang berburu.

Masyarakat suku Nias juga beternak, mereka terutama memelihara babi. Karena babi sangat penting dalam hal kebutuhan upacara adat dan kebutuhan persembahan dalam ritual keagamaan suku Nias. Kini, orang-orang Nias telah banyak melakukan jenis-jenis pekerjaan lainnya, tetapi bertani, berladang, dan beternak masih merupakan kegiatan utama yang mereka kerjakan.

Keunikan suku Nias terletak pada Tradisi Megalitik, arsitektur rumah dan hombo batu atau lompat batu. Hombo batu merupakan Tradisi yang dilakukan oleh seorang lelaki sebagai media penguji fisik dan mental

Batu yang harus dilompati memiliki tinggi tak kurang dari 2 meter dengan panjang sekitar 90 cm dan lebar sekitar 60 cm. Pada masa lalu, jika seorang putra berhasil melewati batu tersebut dengan selamat, hal ini akan menjadi sebuah kebanggaan dalam keluarga dan bagi desa.

Pulau Nias di lepas pantai Sumatra itu juga dikenal dengan rumahnya yang megah dan gaya arsitekturnya yang khas. Bangunan besar dengan atap menjulang merupakan ciri tersendiri; sebuah tradisi arsitektur yang tidak didapati di bagian lain Nusantara. Selain itu jalan-jalan di Nias berlapis batu berukuran besar, dan kebudayaan megalitik yang masih kuat.

Tano Niha atau “Tanah Manusia” merupakan pulau kecil seluas 5.625 km2. Terletak sekitar 120 Km dari Sumatra Barat, di lingkaran terluar sebelah barat Kepulauan.

Nias memiliki keunikan budaya yang mengagumkan karena keagungan upacara adat, arsitektur, seni dan budaya yang luar biasa; kesemuanya itu “tertata baik” walau pun mereka melakukan hubungan dengan dunia luar. Di masa lalu, masyarakat Nias dibagi ke dalam beberapa tingkat kemasyarakatan:· Pertama, Si Ulu, yaitu raja, kepala adat, termasuk juga kaum bangsawan.

· Kedua, Sato, yaitu masyarakat biasa.

· Ketiga, Sawuyu, yaitu budak.

Tingkat tertinggi kedudukannya dalam tatanan sosial masyarakat Nias adalah raja. Istilah Si Ulu atau “Penguasa” hanya digunakan oleh raja. Meski kerajaan telah tiada dan sistem kasta telah dihapuskan, pengaruh di masa lalu itu masih terasa kuat hingga hari ini.

Perlindungan bagi Si Ulu dipercayakan kepada para kesatria terbaik di “Tanah Manusia”. Setiap saat mereka dipersenjatai dengan pedang yang dilengkapi gigi buaya dan taring babi.

Julukan yang tersemat pada Si Ulu adalah “anak dari surga” atau “titisan dewa bumi”. Permintaan terakhir sang raja sebelum ajal menjemput haruslah dituruti. Selain itu emas-emas atau barang beharga lainnya harus dikubur bersamanya.

Masyarakat Nias memiliki kepercayaan bahwa, di atas langit terdapat sembilan tingkatan surga. Pada tingkatan paling atas bersemayam Lowalangi, Dewa Surga. Sementara sembilan tingkatan di bawah bumi dikuasai oleh Latura, Dewa Kematian.

Dalam ritual kepercayaannya, Masyarakat Nias menggelar upacara pengorbankan hewan sebagai perayaan yang ditujukan bagi Lowalangi, Dewa Surga.

Persembahan lainnya seperti telur, hasil bumi, tuak, dan air ditujukan bagi roh para leluhur dan alam. Ritual lainnya nampak pada upacara pemakaman, dengan memberi perhatian khusus pada kepala suku.

Jasad ditempatkan pada sebuah altar dan dicuci dengan daun-daunan sebagai wewangian, sehingga kedatangan arwah yang kembali ke rumah dapat dikenali dari wewangian tersebut.

Masyarakat Nias menggelar nyanyian penguburan dan tari-tarian yang berlangsung selama empat hari. Selama itu tidak boleh ada kegiatan selain upacara tersebut. Pada hari ketiga, jasad mulai dikuburkan dan untuk mencegah arwah kembali, maka sebuah patung kayu “Adu” dibuatkan di dekat makam agar memungkinkan arwah tinggal di dalamnya.

Pulau ini secara budaya dibagi ke dalam tiga wilayah, yaitu Utara, Tengah, dan Selatan; di setiap wilayah terdapat berbagai macam seni, bahasa, dan adat istiadat. Setiap pemimpin desa ditunjuk oleh majelis desa yang disebut “Orahua”.

Di masing-masing desa terdapat batu persemayaman (darodaro) yang dibuat untuk menyemayamkan arwah yang telah terpisah dari jasadnya. Tugu ini dipahat dan dihiasi relief dengan rupa seperti manusia

Arsitektur rumah di “Tanah Manusia” terkenal dengan fondasinya. Terdiri dari pengaturan rumit tiang tegak agak miring. Bangunan ini dirancang untuk tahan guncangan gempa bumi.

Hal ini dapat dilihat dari bangunan yang memiliki tingkat kelenturan karena tiangnya tidak dipancangkan ke tanah melainkan bersandar di atas fondasi batu.

Rumah-rumah di Nias dibuat dari bahan kayu yang diberi corak seperti kapal perang. Atap yang curam dengan bagian atap yang dapat dibuka, berfungsi memasukkan sinar matahari ke ruang dalam serta memberikan sirkulasi udara yang baik

Atap ini memiliki kekhasan tersendiri karena tidak ditemukan di bagian Nusantara lainnya. Atap rumah dibangun tinggi dari bahan serat palem, namun seiring masuknya pengaruh modernitas mulai ditinggalkan dan beralih ke atap seng. Rumah kepala suku disebut “omo sebual”.

Bangunannya berbeda dengan rumah masyarakat pada umumnya. Hal ini dapat dilihat dari arsitektur rumah dengan banyaknya “piagam” penghargaan perang dan patung di sekitarnya.

Dari segi tata ruang, Masyarakat Nias membangun desanya dalam dua jajar rumah (kiri dan kanan). Di tengah dua jajaran rumah terdapat sebuah ruang kosong sebagai jalan utama “ewali” dengan lantai batu.

Tugu batu prasejarah terletak di depan pelataran sebagai tempat berkumpul masyarakat kelas menengah-keatas.

Tugu batu tersebut dikenal sebagai dinding batu alias “oli batu”. Tugu-tugu tersebut menunjukkan kelas pemilik rumah. Sebagai tanda penghargaan jasa masa lalu serta peringatan abadi bagi orang yang mengadakan pesta penghargaan. Batu tersebut merupakan contoh tingkatan sosial di masyarakat desa dalam pendirian menhir “fa’ulu” oleh ketua adat.

Hak mendirikan tugu ditentukan oleh majelis desa yang anggotanya mempertimbangkan pada dasar-dasar berikut:

· Mokho, yaitu kekayaan;
· Molakhomi, yaitu kepemimpinan;
· Fa’asia, yaitu usia atau umur;
· Onekhe, yaitu kecerdasan atau kemahiran

Batu ini terdiri dari bentuk seperti menhir, bangku panjang, dan bangku bundar. selai rumah huni, di Nias juga mengenal istilah rumah pertemuan umum yang disebut “bale”. Letaknya di dekat rumah kepala suku di seberang lapangan “gorahua newali”.

Dahulu, ketika masih sering terjadi peperangan dan penyerbuan, desa dilindungi oleh pagar dari tiang bambu runcing dengan selokan yang dalam di belakang pagar.

Hal ini tentu saja menjadi benteng pertahanan yang jitu pada masanya. Sebuah pertahan dalam terdiri dari dinding batu tebal dengan satu pintu masuk yang dijaga oleh sebuah rumah jaga.

Nias Tengah merupakan tempat lahirnya budaya Nias. Di luar desa banyak tersebar patung-patung leluhur atau juga falus yang disebut “edu”. Dilengkapi dengan ukiran berbentuk organ seksual dengan maksud untuk kesuburan. Rumah-rumah di Nias Utara dibedakan oleh denah lantai dasar yang khas dengan bentuk lonjong

Atapnya terdiri dari struktur yang lebih ringan dengan ruangan bawah atap tanpa penghalang. Memungkinkan lantai tingkat di atas sebagai lantai tempat tinggal utama.

Nias sampai sekarang masih merayakan pesta dengan pertandingan, tari-tarian, dan upacara. Di antara acara yang ada yaitu tarian perang, sebuah pertunjukkan kebudayaan yang spektakuler, kaya akan simbolisme dan warna. Di masa lalu, “lombo batu”, yaitu upacara melompati susunan batu yang tinggi, merupakan sebuah upacara persiapan untuk melakukan penyerangan ke benteng musuh.

Sekarang, lombo batu hanya merupakan kegiatan atletis yang menunjukkan kemampuan dan keahlian seseorang. Orang-orang di Nias sampai sekarang melakukan kegiatan mematung dan melukis, mengolah logam, memahat ornamen seperti pada emas, perak, kuningan, dan alumunium. Di samping itu, kebanyakan orang-orang di sana hidup dengan mencari ikan, berburu, bertani, dan beternak unggas.

Seiring masuknya kepercayaan baru seperti Kristen yang dibawa oleh penjelajah dari Eropa dan Islam yang dibawa oleh para pedagang Timur Tengah dan Asia Selatan, maka simbol-simbol, yang menurut pandangan mereka—orang Kristen dan Islam—merupakan kepercayaan lama, mulai dihilangkan

Banyaknya “pelancong” juga ikut andil menularkan hal-hal baru yang lambat laun telah mengubah wajah Tano Niha. Patung-patung dan peninggalan leluhur mulai “dihancurkan”. Sebagian ditinggalkan oleh mereka sendiri.

Mereka yang muda lebih banyak memilih pergi ke kota-kota untuk mengadu nasib. Dan sayangnya, banyak peninggalan budaya Nias yang mulai diperjual-belikan atau bahkan dicuri oleh para kolektor dari dalam dan luar negeri yang tak ternilai harganya.

Inilah Wajah perjalanan sejarah dan budaya di Nias “Tanah Manusia”. Bukan hal yang mustahil bila kejadian pembredelan kebudayaan di daerah lain bernasib sama dengan Nias: diasingkan, dilarang, ditonton, dicuri dan kemudian tanpa disadari hilang. Wujudnya saja yang tetap ada, tapi budaya sebagai sebuah sistem gagasan mungkin perlahan telah ditinggalkan.

Pariwisata Nias sesungguhnya tumbuh karena keindahan alam dan keunikan budayanya. Melestarikan aset ini merupakan fungsi utama kepariwisataan Nias. Bila keunikan alam dan budaya ini hilang, maka hilang pulalah kepariwisataan itu.

Konsep kepariwisataan Nias harus berbasis pada masyarakat dan budaya. Kepariwisataan seperti ini menempatkan manusia Nias sebagai subjek dan pemanfaatannya sebesar-besarnya diperuntukkan bagi masyarakat. Prinsipnya dari masyarakat, oleh masyarakat dan untuk masyarakat.

Wisatawan datang untuk melihat Nias yang sesungguhnya dan kehadiran mereka dapat menjadi sumber “mata air” kehidupan. Meskipun kekayaan budaya itu melekat dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Nias, namun disadari atau tidak, saat ini berada dalam proses transisi dari era tradisional menuju era modernisasi.

Perubahan paradigma yang dihadirkan melalui kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi serta pembangunan berlangsung jor-joran. Ketidakwaspadaan bisa menyebabkan nilai dan apresiasi berbagai kekayaan budaya Nias terkikis, bahkan punah. Semoga saja kita bisa berlaku lebih bijak.