Bali 1915 | Image by Tropenmuseum
Categories Traveldraft Tags

Kebudayaan Bali | Explore Indonesia

Suku Bali merupakan suku bangsa yang berasal dari, dan, mendiami pulau Bali, yang dengan segala keindahannya kerap dijuluki Pulau Dewata atau Pulau Seribu Pura. Pulau Bali berada di sebelah timur Pulau Jawa. Sebagian besar yang tinggal di Pulau Bali adalah Suku Bali, namun suku Bali tersebar pula di seluruh Indonesia Asal mula Suku Bali diperkirakan … Read more

Suku Bali merupakan suku bangsa yang berasal dari, dan, mendiami pulau Bali, yang dengan segala keindahannya kerap dijuluki Pulau Dewata atau Pulau Seribu Pura.

Pulau Bali berada di sebelah timur Pulau Jawa. Sebagian besar yang tinggal di Pulau Bali adalah Suku Bali, namun suku Bali tersebar pula di seluruh Indonesia

Asal mula Suku Bali diperkirakan berasal dari Bangsa Austronesia dari Tonkin, Cina yang bermigrasi melalui kapal bercadik pada 2000 tahun sebelum Masehi. Hal ini dapat dilihat dari peninggalan-peninggalan purbakala yang tersebar di Bali berupa kapak persegi kreasi-kreasi seni seperti hiasan pada nekara dan sarofagus

Bangsa ini juga hidup secara berkelompok dan berada di bawah seorang pemimpin. Kelompok-kelompok inilah yang diperkirakan menjadi cikal-bakal desa-desa di Bali

Bangsa ini kemudian menurunkan penduduk asli pulau Bali yang disebut masyarakat Bali Mula atau ada juga yang menyebut Bali Aga yang berarti Bali Asli. Sebenarnya, masyarakat Bali Aga kurang senang ketika mereka disebut dengan panggilan Bali Aga, mereka lebih suka disebut Bali Turunan.

Suku Bali, Sistem Kepercayaan dan Pandangan Hidup

Sebelum masuknya agama Hindu yang merupakan agama mayoritas di Bali, masyarakat Bali menyembah leluhur yang disebut Hyang dan berpusat pada penghormatan terhadap kekuatan alam. Penghormatan terhadap leluhur tersebut diwujudkan dalam bentuk pengorbanan berupa sesaji.

Kebiasaan dari masyarakat Bali Aga adalah perlakuan terhadap orang yang telah meninggal. Sebagian dari mereka tidak menguburkan mayat keluarganya, tetapi menyimpannya sedemikian rupa di hutan. Mereka percaya bahwa nanti, roh-roh leluhur akan membawanya.

Kemudian, masuknya Agama Hindu memberikan perubahan besar terhadap segala aspek kehidupan di Bali. Pengaruh agama Hindu dapat dilihat dari banyaknya tempat peribadatan dan sistem sosial yang kental dengan budaya Hindu.

Sebagai masyarakat yang teguh memegang ajaran leluhur, kebudayaan Suku Bali Aga semakin terkikis oleh kebudayaan baru yang gencar masuk memenuhi sela-sela kehidupan Bali.

Terlebih saat Kerajaan Majapahit berhasil menaklukkan Kerajaan Bedahulu di Bali. Kemudian gelombang ketiga adalah ketika Kerajaan Majapahit takluk oleh Islam

Banyak orang-orang Hindu dari Jawa yang keberadaannya terdesak kemudian bermigrasi ke Bali. Di sinilah, gesekan budaya yang terus-menerus terjadi antara masyarakat Hindu Jawa dan Hindu Bali terjadi.

Pengelompokan tersebut tidak sepenuhnya saklek, hanya bertujuan untuk mempermudah dalam membedakan tradisi yang berkembang di masyarakat.

Di tengah modernisme dan industri pariwisata yang persat di Bali, masyarakat Bali Aga lebih memilih untuk mengasingkan dirinya dari hal-hal tersebut. Sampai sekarang masyarakat Bali Aga masih dapat ditemukan khusunya di Desa Tenganan dan Desa Trunyan, tetapi juga tersebar di desa Sembiran, Cempaga Sidatapa, Pedawa, Tiga Was, Padangbulia. Desa tersebut terpisah dari budaya luar.

Mereka hidup dalam area yang dikelilingi sebuah benteng yang menutup seluruh desa. Untuk memasuki kawasan tersebut dapat diakses melalui empat gerbang terbuka yang berada di utara, selatan, timur dan barat, mewakili empat arah mata angin

Akulturasi budaya yang terbentuk di Bali tidak serta merta menyeragamkan pola hidup masyarakat Bali. Dalam segi upacara, khususnya pada tata cara pemakaman seseorang menjadi perbedaan yang paling kentara dari ketiga budaya yang ada di Bali.

Masyarakat Hindu Bali melakukan pemakam dengan cara mengubur mayat, sedangkan masyarakat Hindu pendatang melakukannya dengan cara dibakar

Berbeda dari keduanya, masyarakat di Desa Trunyan yang kental dengan adat Bali Aga melaksanakan pemakaman dengan cara menggeletakan sedemikian rupa mayat kerabatnya di antara pohon banyan.

Suku Bali, Sistem Sosial dan Kekerabatan

Dalam keseharian, untuk membedakan suku Bali Aga dan masyarakat lainnya dapat dilihat dari penampilan. Masyarakat Bali Aga masih memanjangkan rambutnya, memotong dan mengasah giginya sehingga terlihat menghitam. Dalam upacara adat tertentu, masyarakat Bali Aga mengenakan busana khusus yang disebut teruna dan daha.

Masyarakat Bali yang mayoritas beragama Hindu mengenal sistem lapis sosial yang disebut catur varna (catur warna), yang membagi masyarakat Hindu Bali menjadi empat profesi secara fungsional-horizontal. Keempat kasta tersebut yakni brahmana, ksatria, waisya, dan sudra.

Dalam catur warna versi Hindu Bali, brahmana berarti pendeta atau pemuka agama; ksatria berarti pemerintah atau prajurit yang mengatur sistem pemerintahan; waisya berarti golongan pekerja atau petani; dan sudra berarti abdi yang utama dan setia mengabdi pada brahmana, ksatria, dan waisya.

Keempat warna ini secara teori dapat saling mengisi dan saling membutuhkan antara warna satu dengan yang lainnya. Maka, jika ada keretakan di antara profesi ini akan dapat merugikan semua pihak.

Semenjak kekalahan Kerajaan Bedahulu oleh Majapahit, terjadi pergeseran mengenai sistem sosial yang telah berlangsung lama tersebut. pemerintah saat itu mentapkan sistem kelas sosial baru yang disebut wangsa.

Wangsa tersebut tetap dengan istilah sama, yaitu brahmana, ksatria, waiysa, dan sudra. Tetapi berbeda dengan sistem warna pembagian wangsa cenderung genetis-horizontal. Pembagian kasta ini mirip dengan yang terjadi di India.

Sistem wangsa dimulai setelah Sri Kresna Kepakisan selaku raja pertama pasca kemenangan Majapahit bersama dengan pemerintah yang menduduki jabatan di kerajaan tersebut dikelompokan sebagai ksatria dan waisya.

Sedangkan Dang Hyang Nirartha dan Dang Hyang Astapaka selaku pemuka agama dikelompokan sebagai wangsa brahmana, yang kemudian keturunannya pun otomatis dikelompokan ke dalam kasta brahmana.

Selain mereka yang diperlukan dalam menegakkan pemerintahan yang baru, keturunan raja dan ksatria Bali Aga nyaris tidak berhak menyandang gelar ketiga wangsa tersebut.

Tetapi pada kemungkinan lain, seperti masyarakat Bali Aga umumnya, keturunan raja dan ksatria Bali Aga yang sejak awal tidak mengenal sistem kasta tetap menolak untuk memakai sistem wangsa tersebut.

Mereka yang tidak termasuk dari ketiga wangsa tersebut dikelompokkan sebagai sudra yang kemudian menyebut diri mereka sendiri sebagai jaba (luar), yang berarti golongan di luar ketiga kasta tersebut.

Dalam sistem kekerabatannya, masyarakat Bali selain dibentuk berdasarkan ketentuan adat juga dipengaruhi oleh klan-klan keluarga yang disebut dedia (keturunan), pekurenan atau kelompok kekerabatan yang terbentuk karena perkawinan dari keturunan yang merupakan keluarga inti.

Suku Bali, Bahasa Bali

Dalam kesehariannya, masyarakat Bali menggunakan bahasa Bali. Bahasa ini juga dipertuturkan di beberapa wilayah Lombok dan beberapa daerah di timur Jawa.

Pada masyarakat Bali, Bahasa Bali terdapat tingkatan dalam penggunaannya; Bali Alus yang dipergunakan untuk bertutur formal, Bali Madya untuk bertutur dalam bahasa pergaulan dan dan Bali Kasar.

Pada masyarakat Bali Aga, bahasa yang digunakan berbeda dengan masyarakat Bali pada umumnya karena masyarakat Bali Aga tidak mengenal tingkatan penggunaan bahasa.

Suku Bali, Sistem Sosial dan Ekonomi

Pada umumnya masyarakat Bali bermata pencaharian dari sektor pertanian, mereka bercocok tanam dengan teratur di ladang-ladang yang memiliki curah hujan cukup baik, peternakan dan bidang perkebunan ditemui sebagai usaha penting pada masyarakat pedesaan di Bali.

Perikanan darat maupun laut juga merupakan mata pencaharian masyarakat Bali. Kekinian sebagian masyarakat menggeluti bidang kerajinan meliputi anyaman, tenunan kain, ukir-ukiran, dan lain sebagainya.

Untuk masyarakat Bali Aga yang berbakat menghasilkan benda seni, mereka membuat anyaman bambu, lukisan lontar, dan ukiran. Salah satu yang khas dari kerajinan tangan Suku Bali Aga ialah kain tenunnya.

Kain tenun tersebut bernama kain gringsing yang pada prosesnya terkenal memiliki tingkat kesulitan yang tinggi. Selain itu, keunikan kain gringsing adalah semakin tua usianya warna kain tersebut bukan memudar, tetapi malah menjadi lebih kuat.

Dari segi teknologi, khususnya pertanian masyarakat Bali telah mengenal sistem pengairan yang disebut subak, sebuah sistem yang tidak hanya mengatur pengairan dan penanaman di sawah-sawah tetapi keseluruhan sistem dari segala aspek yang tercakup dalam lingkup pertanian.

Suku Bali, Sistem dan Istilah Gotong Royong di Bali

Berikut istilah-istilah gotong royong di Bali yang dikelompokan ke dalam bidang-bidang kehidupan dan keseharian masyarakat Bali.

A. Gotong Royong dalam Bidang Ekonomi dan Mata Pencaharian

Mesilih-bahu. Melisih bahu berasal dari dua kata dasar, yaitu: silih = pinjam, dan bahu = bahu (secara harfiah) dalam konteks ini yang dimaksudkan adalah bahu binatang ternak yang biasa digunakan dalam pertanian, semisal sapi dan kerbau.

Dengan begitu, kata mesilih-bahu ini berarti saling pinjam binatang ternak antarsatu petani dengan yang lainnya, biasanya dilakukan dalam kerjasama pengolahan tanah (pertanian) di sawah maupun tegalan. Kelompok yang terlibat dalam kerjasama ini berjumlah pada umumnya dua orang petani yang rumahnya saling berdekatan satu sama lain

Beberapa ketentuan dalam kerjasama ini yaitu saling meminjamkan ternak mereka untuk dipakai dalam pengolahan tanah sebagai penarik bajak. Selain itu ,biasanya seorang petani yang meminjamkan ternaknya pun bisa ikut membantu pengolahan tanah.

Sebagai imbalan dalam hubungan timbal balik (didasari prinsip resiprositas) maka petani yang memunyai kerja (meminjam ternak temannya) biasanya menyuguhkan makanan dan minuman, dan begitu pula sebaliknya

Bentuk kerjasama ini dapat berlangsung dalam beberapa musim tanam. Pekerjaan membajak melalui mesilih-bahu ini biasa dilakukan dari jam 5.00 sampai dengan jam 10.00 pagi) Dan setelah pekerjaan selesai maka ternak yang dipinjam dikembalikan ke yang punya.

Hasil dari kerjasama tersebut adalah lebih membantu petani yang punya kerja dan membutuhkan bantuan tambahan ternak dan selain itu akan menumbuhkan ikatan batin tertentu antar petani tersebut.

2. Meslisi. Kata ini berarti saling bergantian membantu. Pada intinya, meslisi ini sama dengan mesilih-bahu yaitu sama sama bekerja sama meminjamkan ternak dan membantu sesama petani, namun yang membedakan adalah dari jumlah peserta anggota kerjasama di mana dalam meslisi berjumlah antara 2-5 orang dan berasal dari umur yang sebaya serta tidak terpatok pada sesama desa, melainkan bisa dengan petani dari desa tetangga.

B. Gotong Royong dalam Bidang Teknologi dan Perlengkapan Hidup

Ngrombo. Kata ngrombo berasal dari kata dasar rombo yang berarti bantu. Cirri khas dari proses kerjasama ini terjadi karena suatu tingkat ketidakmampuan tertentu, misalnya karena usia lanjut, atau jenis pekerjaan terlalu berat.

Dari kata dasar rombo dapat terbentuk beberapa jenis kata bentukan lain, seperti: kerombo (artinya orang yang dibantu), pengrombo (artinya orang yang membantu), romboan (artinya menunjuk status seseorang sebagai penerima bantuan).

Dalam hal keanggotaan banjar di Bali, menurut status keanggotaannya dibedakan ke dalam dua jenis keanggotaan, yaitu: anggota ngarep (anggota penuh, anggota inti), yaitu anggota yang berstatus primer; dan ada anggota romboan (anggota tidak penuh, anggota yang perlu dibantu/berstatus sekunder). Dalam beberapa hal, sesuai dengan awig-awig (aturan) banjar, anggota romboan dibebaskan dari kewajiban tertentu.

Cakupan kegiatan ngrombo ini cukup luas, di antaranya:

  • bidang pertanian: mencangkul, menyiangi;
  • bidang persiapan perkawinan;
  • bidang religi: persiapan berbagai upacara keagamaan;
  • bidang perlengkapan hidup: membangun rumah, menggali sumur, memperbaiki tempat ibadah, membangun balai umum, dll.

Tujuan romboan adalah untuk memberi bantuan tenaga tambahan, sehingga pekerjaan yang dilakukan oleh orang atau kelompok yang memerlukan bantuan dapat diperingan dan dipercepat.

C. Gotong Royong dalam Bidang Kemasyarakatan

Metulung. Kata ini berasal dari kata tulung yang berarti tolong atau bantu. Dalam konteksnya, metulung berarti membantu seseorang yang sedang berada dalam keadaan bencana, malapetaka, atau kecelakaan.

Ciri khas dari metulung ini adalah sifatnya yang sangat spontan dan kondisi dari pihak yang ditolong memperlihatkan keprihatinan tertentu. Pihak yang ikut serta dalam metulung tergantung dari skala parahnya kejadian, bisa beberapa orang atau mungkin satu banjar.

Ngajakang. Kata ini berasal dari kata ajak, artinya mengajak. Ngajakang berarti menggotong-royongkan. Ciri khas dari jenis gotong royong ini adalah adanya suatu inisiatif dari pihak yang akan mengharapkan bantuan (yang memunyai kerja) untuk mengajukan permintaan (ngajak) kepada pihak-pihak yang akan membantu secara langsung maupun tidak langsung.

Dengan demikian, kegiatan ini tidak menunjukkan spontanitas melainkan adalah sebagai kegiatan yang direncanakan. Jumlah anggota yang ikut serta biasanya tergantung kebutuhan dan berasal dari hubungan ikatan keluarga atau banjar.

Orang yang diajak untuk membantu biasanya diberi imbalan atau kompensasi menurut jenis dan cara-cara yang berlaku pada masyarakat yang bersangkutan.

Ngedeng. Kata ini berasal dari kata kedeng, artinya tarik. Ngedeng artinya menarik. Dalam konteknya, ngedeng berarti menarik bantuan, baik berupa bantuan tenaga maupun materi. Ciri khas dari ngedeng adalah bahwa pihak yang menarik (ngedeng) itu adalah termasuk anggota atau warga dari suatu kelompok tertentu.

Dalam kegiatan ngedeng ini, tampak adanya dua jenis variasi, yaitu: individu ngedeng kelompok (seperti: ngedeng seka, ngedeng banjar, ngedeng patus); lalu kelompok ngedeng gabungan kelompok (seperti: banjar ngedeng soroh/desa).

Kegiatan ini berlaku dalam berbagai bidang kehidupan, seperti:

  • dalam bidang pertanian: (ngedeng seka memula, artinya menarik para anggota dari organisasi menanam padi);
  • dalam bidang kemasyarakatan: (ngedeng patus, artinya menarik tenaga ataupun materi dari organisasi patus dalam kegiatan ngaben);
  • dalam bidang kesenian: (ngedeng seka gong, artinya menarik organisasi penabuh gambelan gong);
  • dalam bidang teknologi dan perlengkapan hidup: (ngedeng seka, artinya menarik para anggota organisasi mengatap untuk membantu mengatapi rumah).

D. Gotong Royong dalam Bidang Religi dan Kepercayaan

Ngoopin. Kata ini berasal dari kata dasar oop, artinya bantu. Ngoopin artinya membantu atau menolong. Bantuan dalam kerjasama ini berbentuk tenaga kerja. Bentuk ngoopin ini sendiri bisa bersifat spontan atau direncanakan sesuai kebutuhan.

Suku Bali, Arsitektur dan Seni

Dari segi arsitektur orang-orang Bali tahu betul bagaimana mengatur tata letak ruangan dan bangunan yang tidak kalah dengan sistem Feng Shui. Arsitektur bagi orang Bali merupakan perlambangan yang bersifat komunikatif dan edukatif

Selain menawarkan keindahan alamnya, juga menawarkan berbagai pesona budayanya yang khas. Banyak sekali seni pertunjukan, arsitektur, galeri seni rupa dan pasar seni yang memberikan sajian tersendiri khususnya bagi pelancong.

Sebut saja Tari Bali, Tari Kecak, Tari Barong, Tari Legong. Dalam segi arsitektur, misalnya Gapura Candi Bentar, Bali Bengong, Balai Wanikan, Kori Agung, Kori Babetelan.

Suku Bali, Sistem Kalender Orang Bali

Kalender Suku Bali merupakan sistem penganggalan yang digunakan oleh masyarakat Hindu di Bali dan Lombok. kalender ini memiliki keunikan tersendiri, karena tidak mutlak merujuk pada astronomi tetapi tidak juga seperti kalender Jawa. Namun kalender Bali kurang lebih berada di antara keduanya.

Jika ditinjau dari sisi sejarah, kalender Bali merujuk pada sistem penanggalan Saka di India. Kalender Hindu ini memiliki 12 bulan dalam setahun. Setiap bulan terdiri dari 30 tithi (hari dalam kalender Hindu, waktunya variatif antara 20-27 jam), yang dibagi menjadi dua paruh waktu yaitu shuklaphaksa atau paro terang (dua minggu sebelum purnama, dimulai setelah bulan baru) dan khresnaphaksa atau paro gelap (dua minggu setelah purnama, berakhir pada bulan baru).

Sistem penganggalan tersebut dipakai hingga datangnya invasi dari Majapahit sekitar abad 14 Masehi. Kalender Saka Bali mendapat dari penanggalan Jawa yang menggunakan sistem pawukon (sebuah siklus waktu yang berlangsung selama 30 pekan. Satu pekan terdiri dari tujuh hari sehingga satu siklus wuku terdiri dari 210 hari).

Pada masa ini, besarnya pengaruh Majapahit di Bali membuat sistem penanggalan yang ada di Bali hampir sama dengan Kalender Jawa. Dapat dilihat dari prasasti-prasasti yang terdapat di Bali yang menggunakan sistem pawukon.

Tetapi setelah abad 17 ketika Bali tidak lagi berada di bawah rezim Majapahit, pada saat itu terbagi ke dalam lebih dari sembilan kerajaan kecil, dan setiap kerajaan kecil tesebut memiliki sistem penanggalan yang berbeda.

Pada abad 20, ketika Belanda melakukan invasi dan mengambil alih pemerintahan di Bali, berusaha menyatukan sistem kalender dari kerajaan-kerajaan kecil tersebut. Tujuan utamanya adalah kepentingan pariwisata, terutama untuk memastikan jadwal-jadwal upacara di Bali untuk promosi pariwisata.

Tetapi, para tetua Bali juga memiliki kepentingan yang sama untuk penyatuan persepsi tentang waktu upacara, sehingga terjadilah berbagai pertemuan antara ahli-ahli Belanda dengan para tetua Bali sekitar Tahun 1930-an. Hasil pertemuan ini berupa rekonstruksi kalender yang dinamakan Penampih Sasih Karo dan Kawulu.

Kalender hasil rekonstruksi ini tidak bisa digunakan untuk menghitung mundur tanggal dan tahun yang ada pada prasasti dan kitab-kitab pada masa lampau sebab perhitungannya telah mengalami perubahan.

Hal tersebut bertujuan untuk memudahkan penyesuaian jatuhnya purnama kartika (sasih kapat) dan purnama waisaka (sasih kadasa), sehingga kedua purnama tersebut jatuh pada musim yang tepat. Hal ini menjadi penting karena tradisi ritual di Bali mesti berkesinambungan dengan musim-musim yang tepat untuk melakukan aktifitas pertanian.

Sistem penangalan hasil konvensi tersebut dipakai hingga sekarang. Jika dilihat secara astronomi, Kalender Saka Bali bisa dikatakan merupakan penanggalan perpaduan sistem penanggalan syamsiah-kamariah (surya-candra), yaitu sistem yang merujuk pada matahari dan bulan sekaligus.

Dalam hasil kalender hasil konvensi tersebut telah disepakati bahwa 1 hari candra = 1 hari surya. Namun pada kenyataannya 1 hari candra durasinya tidak sama dengan 1 hari surya. Untuk itu, dalam setiap 9 wuku (63 hari) ditetapkan satu hari surya yang nilainya sama dengan 2 hari candra. Hal ini dinamakan pangunalatri.

Nama-nama bulan dalam Kalender Saka Bali antara lain: Kasa (30 hari), Karo (29 hari), Katiga (30 hari), Kapat (29 hari), Kalima (30 hari), Kanem (29 hari), Kapitu (30 hari), Kawulo (29 hari), Kasanga (30 hari), Kadasa (29 hari), Jiyestha (30 hari), Sadha (29 hari).

Tahun bari dalam Kalender Saka Bali diperingati dalam hari raya Nyepi. Uniknya jika dalam kalender pada umumnya tahun baru dirayakan pada awal bulan pertama, dalam Kalender Saka Bali tahun baru dirayakan pada tanggal 1 pada Sasih Kadasa (bulan kesepuluh), yaitu satu hari setelah bulan padam (tilem).

Daftar nama hari dalam satu minggu antara lain Redite, Coma, Anggara, Budha, Wrespati, Sukra, dan Saniscara. Nama-nama ini diambil dari dewa dewi dalam bahasa Sangskerta dalam kepercayaan Hindu.

Redite (Raditya) berarti Dewa Matahari; Coma berarti Dewi Bulan; Anggara (Anggaraka) berarti Dewa Perang; Budha (Rainan Budha Cemeng) yang berarti Dewa Kemakmuran; Wrespati berarti Dewa Petir; Sukra berarti Dewi Kecantikan; Saniscara berarti Dewa Pertanian.

Secara fungsi, Kalender Saka Bali memegang peranan penting dalam menentukan waktu yang tepat untuk melakukan suatu kegiatan, mulai dari membangun rumah, memulai aktivitas pertanian, upacara, hingga waktu yang tepat untuk berjudi.

Kalender Saka Bali tidak digunakan di Desa Tenganan. Desa Tenganan memiliki sistem penanggalan sendiri yang berbeda dengan sistem penanggalan Bali. Persamaan antara Kalender Tenganan dan dan Kalender Saka Bali terletak pada bilangan tahun dan penamaan bulan.

Dalam Kalender Tenganan, bilangan tahun terbagi menjadi tiga bagian yaitu tahun 1, tahun 2, dan tahun 3. Untuk mengklasifikasikan tiap tahun tersebut, maka bilangan tahun cukup dibagi 3. Jika hasilnya bersisa 1 maka disebut tahun 1, jika bersisa 2 maka disebut tahun 2, jika habis dibagi 3 maka disebut tahun 3.

Hal tersebut dipakai dalam kepentingan upacara adat yang ada di Desa Tenganan yang dilaksanakan pada Sasih Kalima. Upacara tersebut dinamakan upacara Sambah. Dalam tahun 1 dan 2, diadakan upacara Sambah biasa sedangkan pada sasih kalima tahun 3 diadakan upacada Sambah Muran.

Selain itu, hal yang paling mencolok adalah khusus pada tahun 3 terdapat penambahan bulan. Yaitu adanya bulan yang diselipkan di antara Sasih Kapat dan Sasih Kalima, bulan tersebut berjumlah 27 hari dan dinamakan Sasih Kapat Sep.

Suku Bali, Alat Komunikasi Tradisional Bali

Lazimnya sebuah organisasi tradisional di Bali memiliki sebuah Kulkul. Apabila terdengar suara kulkul maka hal itu sebagai pertanda panggilan kepada warga untuk berkumpul. Panggilan tersebut bisa karena kesepakatan sebelumnya atau karena situasi mendadak.

Masyarakat Bali terkenal sebagai masyarakat yang kaya akan warisan budaya. Mereka menerima warisan budaya secara tradisional. Artinya, antara satu generasi ke generasi berikutnya tetap terjalin hubungan yang erat dari sejak dahulu hingga sekarang ini. Hubungan itu pula yang pada akhirnya membentuk suatu wadah berupa organisasi tradisional seperti tempel, banjar, subak, dan kulkul.

Kulkul adalah alat bunyian yang umumnya terbuat dari kayu dan atau bambu. Di setiap kelompok masayarakat tradisional di Bali biasanya terdapat setidaknya sebuah kulkul. Selain di Bali, Kulkul–yang lazimnya disebut dengan kentongan–hampir terdapat di seluruh pelosok kepulauan Indonesia dan dijadikan alat komunikasi tradisional oleh masyarakat Indonesia.

Pada masa pemerintahan Belanda di Indonesia, kulkul lebih populer dengan nama “Tongtong.” Sedangkan pada zaman Jawa-Hindu kulkul disebut sasih atau bulan yaitu berupa tabuhan dengan lubang memanjang yang terbuat dari bahan perunggu; bejana perunggu.

Pada masyarakat Bali, istilah kulkul ditemukan dalam syair Jawa-Hindu Supamala. Beberapa lontar Bali juga menyebutkan keberadaan kulkul seperti Awig-awig Desa Sarwaada, Markandeya Purana, dan Diwa Karma. Keempat naskah kuno Bali ini mengungkapkan pentingnya kayu yang bermakna pikiran dalam kehidupan manusia yang biasa disebut dengan kulkul. Kayu erat hubungannya dengan manusia, sementara kayu adalah bahan dasar dari kulkul.

A. Ritual Pembuatan Kulkul Bali

Untuk menyebutkan suatu keadaan, umat Hindu Bali menggunakan istilah “ala ayuning dewasa” artinya dewasa yang baik dan dewasa yang kurang baik. Kedua hal ini sulit dipisahkan bahkan selalu berdampingan.

Demikian pula dalam pembuatan sebuah kulkul dari kayu biasa menjadi sebuah alat bunyian bernilai sakral dan keramat, harus mengalami pemrosesan yang cukup panjang. Dimulai dari mencari bahan, menebang kayu sampai kepada proses pembuatannya harus melalui serentetan upacara.

Para pembuatnya harus melakukan tahap-tahap upacara guna mencari dewasa yang baik dan menghindari dewasa yang kurang baik, dari awal hingga akhir pembuatan kulkul. Sampai kepada tahap melepaskan sebuah kulkul juga harus melalui sebuah upacara. Apabila tahapan upacara sudah dilaksanakan maka kulkul telah memiliki kekuatan magis dan dianggap sebagai benda suci serta keramat

Bagi masyarakat Bali, alat komunikasi ini memunyai nilai yang sakral. Nilai sakral sebuah kulkul ini didukung sepenuhnya oleh agama Hindu Bali yang diyakini masyarakat Bali secara umum. Nilai sakral tersebut terutama berada pada kulkul yang tersimpan di Pura-pura besar di Bali yang dianggap sebagai wujud nyata beryad-nya sehingga apabila terjadi penyimpangan dalam penggunaannya maka segera upacara penyucian harus dilakukan.

Oleh karenanya, kulkul diletakkan pada sebuah bangunan yang disebut “Bale Kulkul”, tepatnya cukup tinggi dan digantungkan pada sudut depan pekarangan pura atau banjar.

Secara teknis, kulkul terbuat dari seruas bambu berukuran cukup besar, di mana kedua belah buku ruasnya dilubangi, dan sepanjang badan bambu itu dibuat lubang memanjang. Adakalanya kulkul dibuat dengan dua alur lubang yang sejajar, satu lubang besar dan satu lubang yang lebih kecil

Ada pula yang terbuat dari dari potongan kayu, panjangnya kira-kira satu sampai dua meter, dikorek pula sepanjang badannya untuk membuat lubang memanjang, dan bagian dalamnya dibuat menggerongong. Kedua ujungnya ditutup atau tertutup oleh karena pengorekan bagian dalam kayu tersebut dijaga agar tidak sampai menembus kedua bagian ujungnya.

B. Jenis-Jenis Kulkul Bali

Ada empat jenis kulkul yang dikenal masyarakat Bali yaitu Kulkul Dewa, Kulkul Bhuta, Kulkul Manusa, dan Kulkul Hiasan. Kulkul Dewa adalah kulkul yang digunakan saat upacara Dewa Yadnya. Kulkul Dewa dibunyikan apabila akan memanggil para dewa. Ritme yang dibunyikan sangat lambat dengan dua nata yaitu tung…. tit…. tung…. tit…. tung…. tit dan seterusnya.

Kulkul Bhuta adalah kulkul yang digunakan saat upacara Bhuta Yadnya. Kulkul Bhuta dibunyikan apabila akan memanggil para Bhuta Kala guna menetralisir alam semesta sehingga keadaan alam menjadi aman dan tenteram.

Kulkul Manusa adalah kulkul yang digunakan untuk kegiatan manusia, baik itu rutin maupun mendadak. Di kedua kegiatan inilah saat membunyikan Kulkul Manusa. Kulkul Manusa terbagi atas tiga yaitu Kulkul Tempekan, Kulkul Sekeha-sekeha, dan Kulkul Siskamling. Ritme yang dibunyikan kulkul manusa lambat dan pendek, sedangkan pada kegiatan mendadak terdengar cepat dan panjang.

Kulkul Hiasan disebut karena kulkul ini diberi hiasan-hiasan untuk menambah keindahannya. Biasanya kulkul ini dianggap sebagai barang antik oleh wisatawan yang datang ke pulau Bali, sering dijadikan oleh-oleh atau buah tangan. Kulkul biasa banyak dijual di toko-toko, di pasar dengan harga relatif murah.

C. Fungsi Dan Peranan Kulkul

Kulkul memunyai fungsi yang berkaitan erat dengan kegiatan banjar. Berikut merupakan beberapa fungsi dari kulkul:

Tanda Pertemuan Rutin. Masyarakat Bali biasanya melakukan pertemuan rutin sebulan sekali pada setiap banjar. Menjelang hari pertemuan, didahului dengan memukul kulkul dengan sebuah alat pemukul dari kayu.

Suara kulkul akan terdengar sampai ke pelosok banjar. Suara tersebut merupakan panggilan kepada warga untuk segera berkumpul di tempat yang sudah disepakati bersama.

Tanda Pengerahan Tenaga Kerja. Selain sebagai tanda pertemuan, bunyi kulkul juga mengandung arti untuk pengerahan tenaga kerja. Pengerahan tenaga kerja tersebut ada yang sudah direncanakan, dan ada pula yang sifatnya mendadak.

Contohnya gotong royong membersihkan desa, mempersiapkan upacara di pura bagi masyarakat Bali, dan mencuci barang-barang suci adalah bentuk-bentuk pengerahan tenaga kerja yang sudah direncanakan. Pengerahan diawali dengan terdengarnya suara kulkul, warga pun segera berkumpul dan bersama-sama melakukan aktivitas membersihkan desa.

Sedangkan pengerahan tenaga kerja yang sifatnya mendadak umumnya menanggulangi kejadian yang tiba-tiba menimpa banjar. Kejadian itu dapat berupa kebakaran, banjir, orang mengamuk, dan pencuri. Bunyi kulkul terdengar cepat dan panjang. Ini sebagai isyarat supaya warga segera datang atau berjaga-jaga karena ada bahaya mengancam.

Tanda Gejala dan Bencana Alam. Di samping sebagai tanda pertemuan rutin dan pengeran tenaga kerja, kulkul sering kali digunakan ketika terjadi gejala alam seperti gerhana bulan yang akan disambut oleh seluruh banjar dengan membunyikan kulkul.

Masyarakat Bali berkeyakinan bahwa gerhana bulan terjadi karena bulan dimangsa oleh Kalarau. Bunyi kulkul yang menggema di seluruh Bali akan menghilangkan konsentrasi Kalarau sehingga ia akan melepaskan bulan kembali.

Contoh-contoh yang telah disebutkan menunjukkan warga patuh terhadap aturan banjar. Kepatuhan warga terhadap aturan banjar menunjukkan azas kebersamaan dan kekeluargaan. Di dalamnya terkandung nilai semangat gotong royong yang mendorong warga untuk menciptakan keharmonisan dan keselarasan dalam lingkungan banjar.

Hampir seluruh kegiatan yang dilakukan masyarakat Bali mengikutsertakan kulkul. Bahkan ‘pemanggilan’ para dewa dimulai dengan membunyikan alat ini. Kulkul juga hampir selalu hadir dalam setiap kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat Bali.

Dalam acara pagelaran atau pertunjukan seni, mulai dari pertunjukkan Gamelan Anyar, Tektekan, sampai pada seni karawitan, semuanya menggunakan kulkul sebagai pelengkap dari pertunjukan tersebut. Selanjutnya, kulkul juga digunakan dalam upacara-upacara adat yang dilakukan oleh masyarakat Bali.

Salah satunya adalah upacara adat seperti upacara mesabatan biu atau yang dikenal pula dengan perang pisang, yaitu upacara untuk menunjukkan seorang pemuda telah memasuki usia akil balig dan telah menjadi dewasa.

Selain itu, kulkul kerap kali digunakan dalam tradisi-tradisi masyarakat Bali. Sebagai contoh adalah penggunaan kulkul dalam tradisi “ngoncang”. Tradisi ngoncang merupakan tradisi memukul kulkul (kentongan) bambu keliling desa. Tujuan dari ritual ngoncang adalah memanggil para leluhur yang telah di-aben. Tradisi ngoncang ini merupakan tradisi turun-temurun yang dilakukan oleh para krama desa.

Tradisi ini memakai sarana kentongan atau kulkul bambu, dan dipukul sesuai irama, yang telah diatur oleh anggota sekaa ngoncang. Belakangan kulkul juga selalu hadir dalam setiap pembukaan atau peresmian acara dan digunakan sebagai simbol bahwa acara tersebut telah resmi dibuka.

Jadi, sebuah kulkul bisa dapat dikatakan bukan saja merupakan alat tradisional, melainkan juga suatu media komunikasi tradisional yang menjembatani komunikasi masyarakat Bali, baik antara manusia dengan dewa, manusia dengan penguasa alam, maupun manusia dengan sesamanya.

Selain itu kulkul juga diyakini mampu membentuk rasa persatuan dan kesatuan di dalam kehidupan masyarakat Bali. Dengan demikian, peranan kulkul sebagai media komunikasi tradisional masyarakat Bali sangatlah besar.

Kulkul berperan untuk menyampaikan simbol-simbol atau kode-kode yang dapat dimaknai secara langsung seperti ritme pukulan maupun nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya, seperti rasa persatuan dan kesatuan, kepada seluruh masyarakat Bali.

Kulkul diyakini mengandung kekuatan magis dan dianggap keramat oleh pendukungnya. Kulkul adalah alat komunikasi tradisional, antara manusia dengan dewa, manusia dengan penguasa alam, dan manusia dengan sesamanya.

Hal ini terlihat dari rasa kebersamaan dan kekeluargaan seluruh warga ketika mendengar bunyi kulkul. Oleh sebab itu, keberadaan kulkul pada masyarakat Bali perlu dilestarikan karena sangat membantu jalannya pelaksanaan pembangunan.