Categories Traveldraft Tags

Suku Lio, Suku Banggsa di Nusa Tenggara Timur

Pulau Flores tak hanya memiliki kekayaaan alam yang luar biasa, tradisi juga merupakan ciri khas masyarakat yang mendiami Pulau Flores. Keanekaragaman adat istiadat dan budaya Suku Lio juga menjadi kekayaan yang tak ternilai harganya. Masyarakat di pulau ini hidup bersuku-suku, maka dari itu dikenal berbagai macam kebudayaan. Salah satu suku yang memiliki kekhasan dalam tradisi … Read more

Pulau Flores tak hanya memiliki kekayaaan alam yang luar biasa, tradisi juga merupakan ciri khas masyarakat yang mendiami Pulau Flores. Keanekaragaman adat istiadat dan budaya Suku Lio juga menjadi kekayaan yang tak ternilai harganya.

Masyarakat di pulau ini hidup bersuku-suku, maka dari itu dikenal berbagai macam kebudayaan. Salah satu suku yang memiliki kekhasan dalam tradisi adalah masyarakat Suku Lio.

Suku Lio menempati wilayah kabupatenm ende, yang merupakan salah satu kabupaten di Pulau Flores Provinsi Nusa Tenggara Timur. Masyarakat Suku Lio merupakan penduduk mayoritas yang mendiami kabupaten ini.

Nama Lio sendiri diambil dari ungkapan Sa Li, Sa Ine, Sa One. Ungkapan Li, Ine, One, bermakna sebaya, seibu, dan sekeluarga. Ungkapan ini menggambarkan prinsip persatuan yang dijunjung oleh suku Lio.

Hal ini tergambar dari kenyataan bahwa suku Lio hidup terkotak-kotakan dalam berbagai tanah persekutuan, akan tetapi mereka tetap satu suku bangsa, bahasa, kebudayaan, dan adat istiadat yang sama.

Masyarakat Lio terbagi ke dalam beberapa suku yang menetap di wilayah-wilayah persekutuan diantaranya, Suku Unggu yang menetap di wilayah Lio Utara, suku Seko yang menetap di Lio Selatan, suku Lise yang menetap di Lio Timur, dan suku Siga yang menetap di bagian Barat.

Dan juga ada beberapa suku kecil mendiami wilayah tanah persekutuan mereka sendiri. Dalam proses berkomunikasi sehari-hari masyarakat suku Lio juga mengenal bahasa percakapan sara Lio atau bahasa Lio.

Secara umum suku bangsa Flores merupakan Suku percampuran antara etnis Melayu, Melanesia, dan Portugis. Pulau flores yang merupakan koloni portugis di masa era awal invasi bangsa-bangsa asing ke Indonesia sehingga interaksi yang terjadi baik secara genetis dan kebudayaan berpengaruh besar terhadap perkembangan masyarakat di pulau tersebut

Begitupun dengan suku lio, masyarakat suku Lio terdiri dari dua jenis penganut agama yaitu penganut agama islam dan katolik. Penganut agama katolik merupakan mayoritas di suku lio. Agama ini dibawa oleh orang Portugis ke wilayah Flores. Sementara Islam dibawa oleh para pedagang dari Makasar.

Perbedaan ini tidak pernah menjadi penghalang yang berarti bagi masyarakat suku Lio. Bagaimanapun keteguhan masyarakat suku Lio terhadap prinsip persatuan yang mereka anut memiliki daya pemersatu bagi perbedaan-perbedaan itu.

Walaupun masyarakat suku lio sudah mengenal agama sebagai pegangan hidup yang utama, akan tetapi masyarakat suku lio juga masih mempertahankan kepercayaan lokal warisan leluhur seperti mempercayai adanya arwah nenek moyang yang tinggal di danau kelimutu. Dalam struktur kemasyarakatan suku Lio dipimpin oleh kepala desa/suku yang dikenal dengan istilah Mosalaki.

Segala bentuk permasalahan yang berkenaan dengan adat dan kemasyarakatan suku Lio dikonsultasikan kepada teta adat/kepala suku (Mosalaki). Hal ini biasa dilakukan di rumah adat yang juga menjadi pusat adat yang dikenal dengan Rumah Mosalaki atau Sao Ria.

Sebagian besar masyarakat suku Lio bermata pencaharian di bidang pertanian sebagian lain yang tinggal di pesisir pantai berprofesi sebagai nelayan.

Orang Lio juga mengenal beberapa upacara adat terkait dengan pertanian diantaranya upacara Paki tana neka watu adalah upacara musim tanam padi dan jagung, Joka Ju / Ju Angi adalah upacara untuk menolak bala dan hama tanaman, upacara Keti uta atau Ka poka adalah upacara yang dilaksanakan untuk menyongsong panen padi, dan upacara Ngguaria adalah pesta syukuran atas keberhasilan panen selama satu tahun.

Selain upacara dalam pertanian suku iLio juga mengenal upacara-upacara adat lain seperti, upacara empat hari bayi dilahirkan (Wa’u tana), upacara bayi boleh digendong orang lain (Ka Ngaga), upacara cukur rambut pertama anak laki-laki atau anak perempuan (Kongga/poro fu), upacara potong gigi anak laki-laki atau perempuan yang sudah cukup umue (Roso Ngi’i ) dan upacara pernikahan adat (Wudu Tu).

Setiap kebudayaan yang lahir dari kearifan suatu kelompok masyarakat selalu mengandung pesan yang terpendam di dalamnya. Pesan itulah yang kemudian manifestasi dalam bentuk kebudayaan yang menjadi tradisi atau adat istiadat dalam sebuah masyarakat

Begitupun dengan Suku Lio, kekayaan tradisi masyarakat suku ini menyiratkan berbagai pesan leluhur atas kehidupan seperti penyembahan terhadap Tuhan dan penjagaan terhadap alam.

Ngua Bapu; Pengetahuan Waktu Suku Lio

Sebagai salah satu ciri dari kebudayaan yang luar biasa adalah mengenal dan membuat perhitungan waktu. Orang Lio di Nusa Tenggara Timur mengenal sistem penghitungan waktu dan penanggalan yang khas, yang mereka buat, dan tentunya sesuai dengan “kebutuhan” mereka.

Sistem kalender Orang Lio disebut Ngua Bapu. Perhitungannya berdasar pada Bumi (Tana Watu) dan Langit (Wula Leja). Tana watu berarti sumber lahirnya kehidupan sedangkan Wula leja berarti kesuburan melalui curah hujan.

Penghitungan waktu ini juga didasarkan pada Wawi Toro bintang Antares yang terang-benderang pada gugusan Scorpio dan Wunu bintang Pleiades pada gugusan Bintang Tujuh atau Kartika.

Perhitungan kalender ini dimulai September-Oktober (Mapa-Wula Mapa More), pada bulan ini masyarakat Lio mengawali proses menanam benih. Di berbagai wilayah pada waktu ini dilakukan beberapa ritual diantaranya ritual Po’o Bhoro di Lise.

Upacara ini dimaksudkan untuk meminta kesuburan, pemurnian tanah dan “perkawinan kosmik” antara Du’a Gheta Lulu Wula dan Ngga’e Ghale Wena Tana, di Mbuli dilakukan ritual Ru’e Lime dengan maksud mengumpulkan bibit unggul seperti Pare, Jawa, Wete, Lolo, Lenga, Bue, Besi dan lain-lain.

Di wilayah Nua Ria-Detu Binga, Kecamatan Tana Wawo Kabupaten Sikka, juga dilaksanakan Upacara Loka Po’o seperti halnya di wilayah Lise. Di bulan-bulan ini seluruh masyarakat Lio yang tersebar di berbagai daerah secara serempak melakukan ritual penanaman benih meski dengan cara yang berbeda-beda

Bulan kedua adalah bulan November- Desember (Wula More-Wula Nduru) atau biasa disebut juga dengan musim masa tanam (tedo). Pada waktu ini seluruh masyarakat secara serempak melakukan penanaman benih padi. Pada masa ini dilakukan ritual Gewu Wini atau mengaduk benih padi.

Ritual ini dilakukan ole wanita Lio yang tertua. Para wanita itu bertindak sebagai pengatur dan penjaga benih padi unggul. Ritual ini dilakukan secara turun temurun dari setiap generasi.

Ritual ini dimaksudkan untuk menghormati Ibu Padi (Ine Mbu) yang dianggap sebagai sosok manusia yang menjelma menjadi demi kesejahteraan umat manusia. Bulan ketiga adalah Januari-Februari (Wula Beke Ria – Beke Lo’o) pada waktu ini dikenali sebagai musim kelaparan dan musim wabaha tanaman.

Masyarakat Lio mengandalkan padi ladang, jagung dan umbi-umbian untuk makan. Mereka biasa mengatasi hal ini dengan membudidayakan hasil bumi seperti Menanam Pala, Kopi, Kemiri, Kakao, Kelapa. Bulan ke empat adalah bulan maret (Wula Fowo), waktu ini dikenal musim penyakit Nggua Uta.

Pada musim ini curah hujan mulai berkurang dan wabah penyakit bermunculan. Biasanya di waktu ini dilakukan ritual Kapoka sebagai wujud syukur kepada Tuhan

Bulan lima adalah April – Mei (Wula Balu Re’e – Balu Jie), pada musim ini banyak masyarakat yang terserang wabah penyakit akibat iklim pancaroba. Memasuki bulan Mei (Wula Balu Ji’e) wabah penyakit mulai berkurang tetapi banyak roh-roh jahat bergentayangan

Bulan ke enam adalah Juni-Juli (Wula Base- Base Ae), pada bulan ini hasil lading dipanen secara serentak. Setiap panane harus selalu dilakukan ritual Wisu lulu atau ritual ucap syukur atas hasil panen. Dan terakhir adalah bulan Agustus (Wula Base Gega), musim ini merupakan musim yang baik untuk melangsungkan pernikahan dan merekahnya pohon randu.

Sistem kalender orang Lio merupakan warisan leluhur yang menyiratkan pesan yang mendalam untuk seluruh generasi penerus Suku Lio. Melalui kearifan ini para leluhur mencoba menyampaikan esensi dari pepatah Watu, “Tana, Ae soli Nggua Bapu, Ana Mamo Sekolengo” yang berarti keharusan menjaga keharmonisan alam dan budaya yang diwariskan leluhur.

Dengan sistem penanggalan ini Suku Lio menciptakan keseimbangan dalam hidup. Pengaturan waktu, mengatur secara alamiah bagaimana siklus kehidupan berputar dan manusia menikmati dan mensyukuri hal tersebut dengan selalu menjaga bumi dan seisinya.

Upacara Pati Ka Dua Bapu Ata Mata, Nusa Tenggara Timur

Kekayaan alam Kabupaten Ende menjadi salah satu potensi yang tak ternilai. Siapa yang tidak kenal dengan Danau Kelimutu yang ternama itu. Objek wisata dengan panoramanya yang indah, kawah-kawah yang konon bisa berubah warna, tidak hanya Nusantara bahkan tempat ini kelasnya dunia.

Cerita dari Danau Kelimutu tidak hanya sebatas untuk memanjakan mata saja. Masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan Danau Kelimutu mempunyai “cerita dan cara” sendiri untuk menunjukan bagaimana Danau ini sebagai bagian dari kesatuan budaya dan kehidupan mereka.

Suku Lio-ende yang tinggal di sekitar kawasan Danau kelimutu adalah masyarakat yang turut menjaga Danau Kelimutu. Masyarakat Suku Lio-Ende “percaya” bahwa Danau kelimutu merupakan tempat tinggal para arwah leluhur mereka sehingga masyarakat Suku Lio-Ende menganggap Danau Kelimutu adalah tempat yang sakral.

Masyarakat juga diharuskan memberi penghormatan kepada para leluhur yang tinggal di Danau Kelimutu dan juga mensakralkan tempat tersebut.

Salah satu bentuk penghormatan itu adalah dengan menggelar upacara penghormatan terhadap leluhur Danau Kelimutu yang disebut dengan Upacara Ka Dua Bapu Ata Mata.

Upacara ini dilakukan dengan cara menyajikan makanan khusus setelah panen (Pati Ka) kepada arwah leluhur yang konon menghuni 3 danau: Tiwu Ata Mbupu, Tiwu Nua Muri Koo Fai, dan Tiwu Ata Polo sebagai bentuk komunikasi dan penjagaan relasi dengan leluhur, alam semesta dan kekuatan adikodrati.

Upacara Ka Dua Bapu Ata ini erat dengan kepercayaan masyarakat terhadap legenda dari Danau Kelimutu. Masyarakat percaya bahwa jiwa atau arwah akan datang ke Danau Kelimutu setelah ia meninggal dan tinggal di kawah itu untuk selamanya.

Sebelum masuk ke dalam salah satu danau atau kawah, para arwah akan terlebih dahulu menghadap Konde Ratu, penjaga pintu masuk di Perekonde. Arwah tersebut masuk ke salah satu danau atau kawah yang ada sesuai dengan usia dan perbuatannya.

Maka, tidaklah aneh jika tempat yang “keramat” ini telah menjadi legenda yang berlangsung turun-temurun. Masyarakat setempat juga percaya bahwa tempat ini memang tempat yang disakralkan.

A. Prosesi Pati Ka Dua Bapu Ata Mata

Upacara Pati Ka Du’a Bapu Ata Mata dimulai dengan prosesi para partisipan ritual yang terdiri dari perwakilan masyarakat adat dan peserta lainnya baik dari kalangan pemerintah, TN Kelimutu, dan para wisatawan. Semua peserta prosesi menuju rute prosesi sekitar 700 meter ke arah Puncak Kelimutu dengan berjalan kaki dan diiringi musik tradisional Lio-Ende.

Semua peserta prosesi diharuskan mengenakan pakaian adat Lio-Ende. Kaum pria mengenakan kain sarung khusus hasil tenunan untuk lelaki (Luka) dan mengenakan destar dari berbahan batik (Lesu), serta tenun ikat (Semba) atau selendang. Sedangkan kaum perempuan memakai kain sarung tenun ikat (Lawo) dan baju adat (Lambu).

Para tetua adat (Mosalaki Pu’u) memimpin pelaksanaaan puncak ritual Pati Ka dari tempat yang khusus. Ritual diawali dengan pemberian makan kepada leluhur berupa sesajen yang terdiri dari daging babi, nasi beras merah, sirih pinang, dan moke (minuman yang terbuat dari aren). Para Mosalaki Pu‟u meletakkan sesajen di atas batu yang menjadi mesbah atau altar sesajian.

Ritual tersebut diiringi dengan pengucapan doa oleh seorang perwakilan mosalaki dan diakhiri dengan tarian Gawi Sodha oleh para Mosalaki Pu‟u sambil mengelilingi lokasi altar sesajian. Setelah prosesi ini selesai, upacara dilanjutkan dengan tari-tarian tradisionla dan nyanyian dari sanggar-sanggar seni yang ada di lingkungan masyarakat Lio-Ende.

B. Nilai-nilai dan Perkembangan

Ritual ini tidak hanya memiliki keluhuran dari aspek cultural saja. Jika dilihat lebih dalam, kandungan nilai-nilai spiritual dan filosofis di dalam ritual ini mengambil peran yang sama dengan nilai cultural dari upacara ini.

Secara spiritual, masyarakat mencoba menunjukan kepercayaan dan keyakinan terhadap Tuhan. Lainnya adalah penjagaan terhadap alam yang coba diwujudkan dengan pensakralan Danau Kelimutu sebagai cagar alam yang harus dilestarikan.

Kini, upacara ini memiliki potensi lain yaitu menarik wisatawan untuk menyaksikan dan ikut berkontribusi dalam ritual ini. Dengan demikian, upacara Pati Ka Dua Bapu Ata Mata memiliki potensi pariwisata.

Saat ini upacara ini dilaksanakan setiap tanggal 14 Agustus setiap tahunnya. Upacara ini juga mendapat dukungan dari pemerintah setempat sebagai salah satu kearifan yang berpotensi mengangkat citra Danau Kelimutu itu sendiri.