Categories Traveldraft

Candi Panataran; Sejarah, Struktur dan Fungsinya

Dari Kota Blitar, tempat kelahiran sekaligus pemakaman Bung Karno tokoh proklamator sekaligus Presiden Pertama RI itupun sangat dekat dan mudah dijangkau dengan kendaraan bermotor. Letaknya di dataran rendah dengan alam pedesaan dan persawahan yang subur.

Kompleks Candi Panataran merupakan salah satu percandian terbesar di Jawa Timur, membujur dari barat ke timur dengan arah hadap ke barat, semula dikelilingi pagar tembok dengan pintu masuk di sisi barat, dan sekarang tinggal sisa-sisanya saja.

Dari Kota Blitar, tempat kelahiran sekaligus pemakaman Bung Karno tokoh proklamator sekaligus Presiden Pertama RI itupun sangat dekat dan mudah dijangkau dengan kendaraan bermotor. Letaknya di dataran rendah dengan alam pedesaan dan persawahan yang subur.

Seperti kebanyakan candi yang lain, Candi Panataran, disebut demikian karena tempatnya di Desa Panataran, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar.

Dibanding dengan candi-candi lainnya di Jawa Timur, Candi Panataran termasuk lengkap unsur-unsurnya dan meliputi kurun waktu yang cukup lama. Di samping itu memang banyak hal menarik lainnya pada candi ini sehingga banyak dipelajari dan sering dikunjungi.

Lokasi Kompleks Candi Panataran berada di Desa Panataran, Kecamatan Nglegok, KabupatenBlitar, Jawa Timur.

Bahan dan Ukuran Kompleks Candi Panataran: Bahan utama dalah Batu Andesit dan Batu Bata, Luas Kompleks Candi Panataran adalah 13.400 m2. Bahan dan Ukuran Candi Induk: Panjang 33,50 meter, Lebar 29,50 meter, Tinggi  9,20 meter.

Halaman candi Panataran dibagi menjadi tiga bagian, halaman paling timur merupakan tempat paling suci karena di tempat ini berdiri candi induk yang hanya tinggal bagian badannya saja. Bagian bawah candi induk terdiri dari tiga buah teras.

Pada sisi tangga teras pertama terdapat patung penjaga pintu (dwarapala) berangka tahun 1239 Saka (1317 Masehi), di teras ini terpahat hiasan medalion dan ceritera Ramayana.

Teras ke dia reliefnya menggambarkan ceritera Kreshnayana sedangkan teras ke tiga hanya ada relief naga bersayap. Di halaman tengah terdapat bangunan-bangunan:

  • Dua Pondasi berbentuk persegi panjcang, dindingnya polos
  • Candi Naga, menggambarkan ceritera Samudramanthana
  • Candi angka tahun (1291 Saka = 1369 MAsehi) menjadi simbol Kodam Brawijaya.
  • Dua Dwarpala di teras pintu masuk halaman tengah.
  • Pada halaman paling barat (halaman depan) terdapat:
  • Dua dwarpala di kanan-kiri pintu masuk, berangka tahun 1242 Saka (1330 Masehi)

Di sudut barat laut halaan ada dasar suatu bangunan dari batu andesit, membujur dan memanjang dari utara ke selatan. Bangunan ini disebut Penodopo Agung.

Di dekat Pendopo Agung terdapat pondasi bangunan agak kecil dari batu andesit, berangka tahun 1297 Saka (1375 Masehi). Bangunan ini disebut Pendopo Teras, pada dinding-dindingnya terpahat relief dengan ceritera Bubuksah-Gagang Aking, Sang Setyawan dan Sri Tanjung. Di bagian bawah teras bangunan ada hiasan naga.

Pada arah tenggara dari candi Induk, terdapat sebuah pemandian (petirtaan) dengan hiasan relief ceritera binatang. Ditinjau dari reief ceritera-ceriteranya, Candi Penataran memiliki unsur agama Hindu dan Agama Budha.

Struktur Bangunan Candi Panataran

Candi Panataran merupakan satu kompleks yang terdiri dari pelbagai unsur yaitu pagar, halaman, pemandian, candi-candi, lantai-lantai (batu bangunan), arca-arca, relief, dan lain-lain.

Kompleks candi yang luasnya hampir 1,5 ha itu terdiri atas tiga halaman. Seperti halnya Candi Sukuh di Jawa Tengah dan pura di Bali tiga halaman itu dalam posisi berbaris, yang satu di belakang yang lain. Bagian yang paling penting atau paling suci terletak pada baris paling belakang.

Sebelum masuk halaman I, terdapat Gerbang yang dihiasi sepasang arca dan raksasa penjaga pintu (dwarpala) dengan sikap mengancam dan berpahatkan angka tahun 1242 saka (1330 M). Di halaman I terdapat dua batur sejenis pendopo yang dindingnya berhias dan sebuah batur a bangunan kecil. Bagian atas ketiganya itu sudah tidak ada lagi.

Adanya umpak-umpak batu memberi petunjuk bahwa bangunan di atasnya dahulu bertiang kayu dan beratap dengan bahan mudah lapuk. Di samping itu terdapat candi yang relatif masih utuh, bentuknya khas gaya candi-candi Jawa Timur dengan atapnya yang berundak menjulang tinggi.

Angka tahun 1291 saka (1389 M) yang terpahat nyata di atas pintu yang menyebabkan candi ini disebut Candi Angka Tahun. Di halaman I ini juga terdapat sepasang candi kecil.

Dari halaman I pindah ke halaman II akan dijumpai lagi sepasang dwarpala yang berukuran lebih kecil. Pada halaman II ini ada dua batur bangunan berbentuk empat persegi panjang dan satu candi yang disebut Candi Naga. Candi ini telah dipugar tahun 1917-1918 dalam keadaan tidak beratap lagi, rupanya juga terbuat dari bahan yang mudah lapuk.

Yang istimewa ialah hiasan naga yang melingkari tubuh candi disangga oleh sembilan tokoh dewata. Naga ini sangat mungkin perwujudan Sah Hyang Basuki yang mengikat gunung Mandara (giri) mengaduk lautan susu dalam usaha dewata untuk mencari tirta amarta (air kehidupan abadi) dalam cerita Samudra Mathana. Karena menonjolkan tokoh naga itulah mengapa candi itu disebut Candi Naga.

Di halaman III terdapat candi induk atau candi utama diantara semua candi yang terdapat di Kompleks Candi Panataran. Keadaaan sekarang tinggal bagian kaki saja, namun masih cuku rapi dan anggun berkat pemugaran di tahun 1917-1918.

Badannya yang masih menanti unsur-unsur kelengkapannya kini tertimbun di bawah dalam bentuk susunan percobaan. Kaki candi ini menyerupai punden berundak terdiri atas tiga teras yang dihubungkan oleh tangga. Pada alas arca penjaga terdapat angka tahun 1239 saka (1317 M). Candi induk ini kaya sekali akan hiasan berupa arca, relief, miniatur candi, lengkung-lengkung tepian tangga, hiasan sudut dan lain-lain.

Reliefnya sendiri bermacam-macam, ada yang dari rangkaian cerita, panil-panil atau ragam hias pengisi bidang. Ragam hias yang penting di sana adalah tumpal, binatang, sulur-sulur, medalion, garuda, dan lain-lain. Relief manusia dan hewan umumnya tampak samping seperti wayang kulit, gaya seperti itu juga menjadi ciri khas periode candi-candi Jawa Timur.

Bagian ini memang menarik untuk dilihat , diresapi dan dihayati sebab semua hiasan selain indah juga mengandung makna simbolis-filosofis yang menunjang suasana dan makna candi ini seutuhnya sebagai suatu bangunan suci.

Dari halaman III melalui jalan setapak kita dapat turun ke kolam dengan airnya yang jernih, yang pada dindingnya dipahatkan relief.

Relief Candi Panataran

Relief, apalagi yang berbentuk cerita, sungguh menarik sebab menyimpan ajaran moral seperti kepahlawanan, keikhlasan berkorban dan keagamaan. Salah satu batur bangunan di halaman I penuh hiasan relief mengelilingi seluruh dindingnya.

Yang sudah dapat diidentifikasikan oleh pakar kepurbakalaan ada tiga cerita, yaitu: Bubuksah dan Gagangaking, Sang SetyawanI dan Seri Tanjung. Pada dinding candi induk antara lain terdapat relief epos Ramayana (episode Hanuman Obong hingga gugurnya kumbakarna) pada teras pertama dan cerita Kresnayana pada teras kedua yakni tentang kisah-kisah Sri Kresna dan Rukmini sebagai penjelmaan Batara Wisnu dan Dewa Sri.

Menonjolnya tokoh Rama dan Kresna yang keduanya penjelmaan Wisnu dan juga tokoh Garuda sebagai wahananya dapat diduga bahwa tokoh Dewa Wisnu mendapat pemujaan khusus (mungkin yang utama) pada candi ini. Pada dinding-dinding kolam dipahatkan cerita binatang (fabel) dengan tokoh kura-kura, buaya, kerbau, dan lain-lain.

Candi Panataran dalam Sejarah

Berdasarkan Prasasti Pala berangka tahun 1119 Saka (1197 Masehi) yang terdapat di halaman candi induk, diketahui bahwa candi Panataran itu pada waktu dulu disebut Candi Palah. Prasasti Pala dikeluarkan oleh Raja Srengga dari kerajaan Kediri dan nampaknya angka tahun prasasti Pala mengacu pada pendirian Candi Panataran.

Nama Pala juga ditemukan dalam kitab Nagarakertagama yang menyebutkan bahwa ketika melakukan kirabnya keliling Jwa Timur, Raja Hayam Wuruk pada tahun 1283 saka (1361 M) juga singgah di sebuah bangunan suci yang bernama Pala.

Dengan adanya angka-angka tahun yang terdapat di Candi Penataran menunjukan bahwa Candi Penataran dibangun dan dimanfaatkan sejak jaman Kerajaan Kediri sampai dengan Kerajaan Majapahit (tahun 1197-1454 Masehi).

Prasasti yang ditemukan di halaman candi itu juga memberitakan bahwa raja Kertajaya (raja Kediri/Daha terakhir) setiap hari melakukan pemujaan kepada Batara di Palah.

Jadi nama Candi Panataran mungkin dahulu adalah Candi Palah. Setelah nama Candi Palah dilupakan, timbul nama Candi Panataran, sesuai dengan nama desanya.

Pada beberapa bagian candi ini terdapat angka tahun, seperti 1293 saka (1317 M) pada candi induk ,1242 saka (1330 M) pada Candi Angka Tahun, dan 1291 saka (1369 M) pada dwarpala di gerbang pertama.

Ini menunjukkan bahwa sekurang-kurangnya antara akhir abad ke-12 hingga pertengahan abad 14 (1197-1369 M) candi ini terus menerus berfungsi.

Meskipun data bangunan maupun data sejarah candi ini masih diupayakan terus kelengkapannya, namun dibandingkan dengan candi-candi lain, Candi Panataran sudah termasuk lengkap.

Makna dan Pelestarian

Candi Panataran adalah Khasanah budaya yang sangat erat akan nilai-nilai luhur, baik religius, filosofis, etika maupun estetika, lebih-lebih nilai historis. Walaupun menurut peraturan cagar budaya yang berlaku perlindungan dan pembinaanya secara resmi di tangan Pemerintah , namun tanpa dukungan masyarakat tentu saja tidak banyak yang dapat dicapai.

Pemeliharaan yang rapi, pertamanan yang bagus, tapi kalau masih terjadi Vandalisme, buang sampah seenaknya, pembobolan pagar, pencurian, aktivitas yang mengimpit lingkungan candi dan lain-lain pelanggaran bukan hanya mengganggu keindahan, juga nilai-nilai luhurnya pun pudar.

Marilah kita rawat bersama, kita nikmati bersama, kita dayagunakan bersama sesuai aturan dan caranya. Perlu kita ingat bahwa cagar budaya adalah kekayaan dan kebanggaan bangsa yang tak ada gantinya.