Categories Traveldraft Tags

Mak Yong; Teater Tradisional Melayu

Mak Yong dan Randai kini telah mencoba bangkit agar menjadi teater yang layak untuk tampil di atas-atas panggung pentas. Keduanya dipercaya tetap mempertahankan ciri dari teater tradisional rakyat yang kaya akan nilai-nilai sosial beserta ke-khasan budaya Melayu.

Mak Yong adalah teater tradisional yang menjadi warisan budaya Suku bangsa Melayu. Seni pertunjukan ini berkembang terutama di Semenanjung Malaya.

Mak Yong merupakan teater yang menggabungkan drama tari, musik serta instrumen. Musik dan lagu terkadang menjadi penyampai makna tertentu.

Mak Yong kini telah mencoba bangkit agar menjadi teater yang layak untuk tampil di atas-atas panggung pentas. Teater Melayu ini dipercaya mampu mempertahankan ciri dari teater tradisional rakyat yang kaya akan nilai-nilai sosial beserta ke-khasan budaya Melayu.

Teater yang cukup terkenal di antara orang-orang Melayu ini telah berkembang di Thailand, Malaysia, dan Indonesia dan diperkirakan muncul pada abad ke-17 Masehi.

Mak Yong mungkin telah mendapat pengaruh dari budaya Thailand dan juga budaya Jawa. Di Indonesia, teater Mak Yong tersebar di Kepulauan Riau, Sumatra Utara, hingga wilayah Kalimantan.

Istilah Mak Yong diperkirakan berasal dari Mak Hyang, yang merupakan sebutan lain untuk Dewi Padi yang di wilayah Jawa lebih dikenal dengan nama Dewi Sri.

Tema dalam pertunjukan sepertinya telah dikembangkan dari berbagai cerita dan bentuk seni pertunjukan yang telah lebih dahulu hadir, seperti Teater Menora di Muangthai, Wayang Kulit, Teater Bangsawan, Cerita Panji, dan beberapa cerita lisan lainnya yang terdapat dalam khasanah Melayu.

Tema, Topeng, dan Perlengkapan Mak Yong

Lakon Mak Yong yang berkembang di Indonesia menggambarkan perjalanan putra mahkota yang tengah berjuang mengarungi kehidupan dengan bantuan Dewa. Inti dari ceritanya menggambarkan “pertarungan” antara kebaikan melawan kejahatan.

Peran yang dimainkan dalam Teater melayu ini biasanya meliputi Seorang Raja (Pak Yong), Putra Mahkota (Pak Yong Muda), Ratu (Mak Yong), Putri (Putri MakYong), Penasihat Raha (Ci Awang), Inang Bongsu (inang paling muda), Peramal (Tok Wak), Abdi Dalam, dam Tokoh Penjahat (Pembatak).

Selain itu juga ada peran para dewa, raksasa, dan juga jin serta unsur alam yaitu binatang seperti burung, gajah, ular, dll). Semua peran atau tokoh yang dimainkan laki-laki biasanya menggunakan topeng, kecuali tokoh yang dimainkan oleh perempuan. Di Malaysia seni pertunjukan dimainkan oleh wanita karenanya tidak terdapat topeng.

Tokoh Penasihat yang digambarkan sebagai seorang tua yang arif biasanya menggunakan topeng berwarna merah sedangkan sosok dewa menggunakan topeng berwarna putih. Selain itu juga ada topeng yang menggambarkan penjahat, binatang, jin dan sebagainya.

Di samping penggunaan topeng juga terdapat perlengkapan lainnya, seperti cambuk (bilai, femiat), bambu atau rotan (yang dibawa raja atau tokoh pangeran), tongkat kayu, sebuah layang-layang, tombak panjang, gajang atau kain pengikat, jala atau kain panjang, serta tempat air.

Penyajian Pertunjukan Mak Yong

Pertunjukan terlebih dahulu dimulai dengan dengan sebuah upacara yang disebut buka tanah atau buka panggung. Upacara ini ditujukan untuk mengusir energi-energi negatif yang dapat mengganggu jalannya acara.

Berikutnya adalah betabik yaitu lagu dan tarian pembuka, kemudian upacara menghadap rebab yang berlangsung kurang lebih 15 menit, lalu sedayung, tarian lingkaran. Setelah itu acara pun dimulai, sesudah lagu dan tempo berjalan.

Instrumen yang sering digunakan meliputi rebab di Malaysia dan menggunakan serunai di Riau. Selain itu juga terdapar sepasang gedombak (gendang), dua talempong (gong kecil), breng-breng (gong pipih), canang (gong gantung), juga ceracap (tepuk bambu).

Pada masa lalu, pertunjukan ini digunakan sebagai sarana untuk menyebarkan nilai- nilai sosial, pemerintahan dan keagamaan. Di Malaysia, MakYong bahkan sempat menjadi “teater istana” dan mendapat perhatian khusus dari pemerintah yang berkuasa.

Mak Yong juga dipercaya sebagai media penyembuhan baik lewat lagu, tarian dan ritual lainnya selama gelaran berlangsung. Pada perkembangannya, kini Seni pertunjukan Melayu ini merupakan teater yang sedang ditunggu kebangkitannya kembali.