Categories Traveldraft

Candi Borobudur, Bentuk dan Perlambang Bhūmi Sambhāra Bhudhāra

Di antara banyaknya peninggalan-peninggalan candi di Indonesia, Borobudur khas, tidak ada ruang dalam yang biasanya merupakan unsur utama kebanyakan candi di Indonesia. Bentuknya hanya dapat dijelaskan sebagai gabungan dari sejumlah unsur asing dan tradisi arsitektur lama; punden berundak.

Di antara banyaknya peninggalan-peninggalan candi di Indonesia, Borobudur khas, tidak ada ruang dalam yang biasanya merupakan unsur utama kebanyakan candi di Indonesia. Bentuknya hanya dapat dijelaskan sebagai gabungan dari sejumlah unsur candi dan tradisi arsitektur lama; punden berundak.

Secara falsafah candi Borobudur melambangkan kosmos atau alam semesta, serta tingkatan alam pikiran dalam ajaran Buddha. Sebagai tempat peribadatan yang memiliki 504 arca Buddha, empat cerita yang digambarkan pada 1460 figura relief batu, Borobudur adalah bangunan dengan struktur yang khas dab tidak ada duanya.

Selain itu, secara arsitektur, bangunan candi Borobudur menjadi gnomon (alat penanda waktu) yang memanfaatkan bayangan sinar Matahari, serta memiliki nilai seni dan falsafah tinggi yang universal. Maka pantaslah setelah dipugar total, pada tahun 1991 UNESCO menetapkannya ke dalam Situs Warisan Dunia

Puncak Borobudur berupa sebuah stupa. Candi ini terdiri dari enam tingkat teras bujur sangkar, tiga tingkat berbentuk bundar melingkar (lingkaran konsentris) dalam bentuk 10 pelataran yang berdiri di atas dasar berukuran 123×123 meter pada tiap sisinya dengan tinggi 4 meter.

Luas bangunan mencapai 15.129 m2, tersusun dari 55.000 m3 batu, kurang lebih ada dua juta potongan batu-batuan. Panjang potongan batu mencapai 500 km dengan berat keseluruhannya dapat mencapai 1,3 juta ton.

Rata-rata ukuran batunya 25 cm x 10 cm x 15 cm. Tinggi candi dari permukaan tanah sampai ujung stupa induk 35 meter—dahulu mencapai 42 meter.

Struktur batu Borobudur tidak menggunakan perekat, tetapi menggunakan sistem interlock, sistem kuncian seperti balok-balok lego yang dapat menempel tanpa lem atau semen.

Candi Borobudur memiliki 504 stupa di kompleks-nya. Beberapa peneliti menganggap bahwa Borobudur adalah stupa itu sendiri, sedang semua unsur lain—yakni stupa-stupa yang lebih kecil, ratusan arca, dan ribuan relief—hanya merupakan ‘hiasan belaka’, tambahan-tambahan yang tanpa kehadirannya pun candi ini tidak akan kehilangan makna utamanya. Oleh karena tingkat-tingkat bawah tidak lebih dari sebuah landasan untuk ragam hias yang memahkotai puncak bangunan.

Penjelasan itu tampaknya kurang memperhatikan kesinambungan tingkat-tingkat bahwa yang berjenjang dengan bangunan berundak-undak zaman pra klasik yang dikaitkan dengan megalit dan mungkin dirancang untuk upacara-upacara yang berhubungan dengan pemujaan toh nenek moyang.

Para arsitek yang merancang Candi Borobudur telah mengambil tempat yang—seperti ditunjukkan oleh J. Dumarcay—sudah dipersiapkan dengan bentuk lahan yang berundak-undak (tahap satu).

Mungkin saja tempat ini dipilih secara kebetulan oleh penganut Buddha dan rancangan candi disesuaikan dengan bentuk lahan yang sudah ada semata-mata untuk menghemat waktu, tetapi penjelasan lain mengemukakan bahwa para arsitek Borobudur memilih tempat ini justru agar dapat mengaitkan diri mereka dengan perlambangan yang sudah didirikan di sini.

Hingga saat ini beberapa hal yang menyangkut candi Borobudur masih menjadi misteri yang membuat takjub. Bagaimana mereka menyusun dan mengangkut batunya, teknologi seperti apa yang digunakan dan Bagaimana Relief Candi Borobudur dibuat?

Asal-usul dan Jejak Kata “Borobudur”

Nama Borobudur sebagai ‘nama asli’ untuk candi yang terletak di Muntilan, Kab. Magelang (Jawa Tengah) ini masih menyimpan banyak penafsiran. Umumnya, nama-nama candi yang dikenal di Indonesia kebanyakan memang “bukan” nama asli atau nama yang dahulu diberikan.

Kurangnya sumber informasi yang sampai ke tangan para arkeolog, dimungkinkan candi-candi yang sekarang kita kenal, untuk penamaannya biasanya diambil dari nama wilayah atau tempat ditemukannya, beberapa nama mengambil fenomena yang terlihat, dan ada juga bersumber pada tradisi masyarakat setempat.

Salah satu pendapat menyatakan asal usul nama candi Borobudur berasal dari kata bhudara (gunung). Pendapat lain yang menyinggung letak candi Borobudur, berasal dari dua kata yaitu bara/vihara dan beduhur.Borobudur berarti biara di atas bukit atau biara yang terletak di tempat tinggi.

Kata “biara di Budur” lebih jauh terdapat dalam Kakawih karya Mpu Prapanca yang terkenal, Nagarakretagama (1365 Masehi).

Apakah yang dimaksud prapanca adalah candi Borobudur? Sejauh ini belum banyak buktinya, karena hampir dipastikan banyak candi-candi lainnya yang dibangun di atas bukit.

Babad Tanah Jawi yang diperkirakan ditulis awal abad ke-18, menyebut Borobudur dalam kaitannya sebagai wilayah tempat terjadinya persitiwa pemberontakan.

Borobudur sebagai nama candi seperti yang kita kenal saat ini, dipopulerkan oleh Raffles (1817) dalam bukunya “The History of Java” konon mengacu pada nama wilayah sekitar di mana candi ini berdiri, yaitu desa Boro/Bore. Sementara istilah Budur, dimaknainya “purba”.

J.G. de Casparis (1950) beranggapan bahwa kata “Budur” diambil dari istilah bhudhara yang dimaknai sebagai “gunung”. Pernyataan tersebut didasarkan pada prasasti Karangtengah dan Tri Tepusan yang memberikan informasi tentang penganugerahan wilayah sima (tanah bebas pajak) oleh Pramudawardhani untuk memelihara Kamulan, Bhumisambhara.

Maka diperkirakan bahwa nama asli Borobudur adalah Bhūmi Sambhāra Bhudhāra dalam bahasa Sanskerta berarti “Bukit himpunan kebajikan sepuluh tingkatan Bodhisattva”.

Masih mengacu pada prasasti yang sama, Casparis memperkirakan pembangunan candi Borobudur di kerjakan pada masa Raja Mataram yang bernama Samaratungga dari wangsa Syailendra sekitar tahun 824 M.

Diperkirakan pula bahwa pembangunan candi Borobudur menghabiskan waktu satu setengah abad, sehingga candi tersebut benar-benar rampung pada masa putrinya menjadi raja, yakni Ratu Pramudawardhani. Sejak saat itu candi Borobudur menjadi pusat ziarah penganut beragama Buddha sampai sekitar tahun 930 Masehi.

Namun pada abad ke-11, karena kondisi politik, candi Borobudur mulai terlupakan dan dibiarkan rusak diterpa bencana alam. Kemudian terkubur dan menjadi hutan belantara.

Borobudur dan Buddha

Buddha merupakan agama yang populer di Jawa Tengah hanya selama satu abad, mulai sekitar tahun 705 Masehi sampai 850 Masehi. Meskipun Popularitasnya relatif singkat, agama Buddha telah mendorong perkembangan sejumlah candi termasyhur. Borobudur, yang paling terkenal, sangat menarik baik karena keindahannya maupun karena keterangan yang diberikan mengenai evolusi aliran kepercayaan Buddha di Nusantara.

Pembangunan candi Borobudur bertepatan dengan kekuasaan Tanah Jawa dipegang oleh Samaratungga (Raja Mataram Kuna), maka tidak heran candi ini sering dihubungkan dengannya; Samaratungga adalah pendiri candi Borobudur. Diperkirakan pembangunan candi Borobudur kurang lebih menghabiskan waktu sekitar satu setengah abad, dan baru benar-benar rampung pada masa Pramodawardhani.

Ketika Borobudur di bangun pada abad ke-8 dan ke-9 Masehi, Agama Buddha tidak dalam keadaan tenang, melainkan mengalami masa pergolakan. Penganut Buddha sangat menghormati ahli-ahli filsafat yang telah mengembangkan teori keagamaan dan cara baru.

Bangsa Indonesia pasti telah menyumbang konsep-konsep kepada Buddha di samping membantu menyebarkan pemikiran dan ajarannya semata. Namun, hanya sedikit keterangan yang masih tersisa untuk menujukan apa isi pemikiran-pemikiran tersebut.

Pusat pengajaran Buddha di Jawa dan Sumatra pasti memiliki kepustakaan penting sebagaimana tempat lain, tetapi karena bahan untuk menulis tersebut—terutama dari lontar dan bahan lain yang—mudah rusak, tidak ada peninggalan sama sekali. Hanya beberapa teks pendek masih tersisa pada bahan lain seta naskah yang ditulis jauh sesudah masa kejayaan Borobudur, yang bisa memberi sedikit petunjuk mengenai isi kepustakaan mereka.

Bagaimanapun, Borobudur sepertinya sudah dilupakan selama berabad-abad lamanya. beberapa berpendapat karena kondisi politik saat itu, hingga terjadinya bencana.

Candi Borobudur dibiarkan terkubur dan wilayah sekitarnya menjadi hutan yang seolah tanpa kehidupan. Keberadaan candi ini mendapat perhatian masyarakat dunia tahun 1814 ketika “diketemukan” Gubernur Jenderal Inggris atas Jawa saat itu, Sir Thomas Stamford Raffles, .

Tahap-tahap Konstruksi Candi Borobudur

Borobudur sebenarnya merupakan kulit pembungkus dari batu yang menyelungkupi sebuah bukit. Air hujan yang terus merembes melalui celah-celahnya hampir menyebabkan keruntuhannya.

Pembangunan candi Buddha pada bukit Borobudur dimulai ketiga di jawa agama Hindu masih berkembang dengan sangat pesat. Oleh karena itu, stupa di puncak piramida dapat ditafsirkan sebagai panduan ikon pra-klasik dengan klasik.

Pembangunan Borobudur yang membutuhkan waktu sekitar 50 tahun, selama itu rancangannya mengalami perubahan. Pada tahap pertama mungkin dimulai sekitar tahun 780 Masehi. Sebuah tata susun kecil terdiri atas tiga undak kemudian dibangun dan di atasnya dibuat tata susun lain tetapi dihancurkan kembali. Pada awalnya mungkin dirancang seperti piramida berundak.

Pada tahap kedua dilakukan pelebaran pondasi Borobudur dan ditambah dengan dua undak persegi dan satu undak bulat. Tangga-tangga diganti dan dasar candi diperluas, sehingga kaki asli menjadi tersembunyi. Pada tahap ketiga, lebih banyak perubahan dasar dilakukan. Undak atas yang bulat dihilangkan dan diganti dengan tiga undak-undak bulat. Stupa juga dibangun di atas puncak bangunan.

Pada tahap-tahap terakhir, hanya dilakukan perubahan-perubahan kecil, diantaranya penambahan relief serta perubahan tangga dan lengkungan yang terdapat di atas pintu tangga. Meskipun demikian, lambang pada candi tetap sama dan perubahan yang dilakukan lebih bersifat hiasan yang memperindah candi.

Tentang Arca dan Mandala

Arca yang terdapat di kompleks candi kurang lebih berjumlah 504 buah. Penggabungan ragam hias di Borobudur tidak terbatas pada dua gaya. Denah candi, bila dilihat dari atas, jelas membentuk pola mandala.

Mandala adalah diagram penempatan dewa-dewa pada tempat-tempat tertentu membentuk cincin atau lingkaran dengan satu pusat. Diagram tersebut banyak jenisnya (lebih dari 2.000) dan serbaguna, termasuk fungsi-fungsi seperti membantu semadi, dan menggariskan tempat suci yang melarang kekuatan-kekuatan jahat masuk.

Candi Borobudur memiliki enam jenis arca Buddha yang berbeda. Di sebelah timur, terdapat tiga deretan dinding bertingkat tempat duduk arca Buda dalam Bumisparsamudra (sikap yang menandakan menaklukkan khayal). Di selatan ada tiga deret arca dalam Varamudra (Sikap Amal), Sebelah barat, tida deret patung menunjukkan Dhyanamudra (bersemadi), sementara yang di utara dalam sikap Abhaamudra (mengusir ketakutan).

Deret keempat pada semua sisi melukiskan Buda dalam Vitarkamudra (sikap memberi Khotbah). Sesudah tingkat ini ada tiga undak bulat yang di atasnya terdapat stupa-stupa berlubang yang di dalamnya terdapat Buda-Buda dalam Dharmacakramudra.

Posisi ini melambangkan Khotbah Sakyamuni yang pertama di taman rusa di Benares. Salah satu misteri Borobudur yang belum terpecahkan ialah bahwa yang sudah dikenal pada tempat lain. Buda tersebut tidak membentuk mandala mana pun.

Relief-Relief yang Bercerita

Dinding-dinding candinya dihias oleh gambar-gambar yang bercerita, tersusun dalam 160 panel. Panjang tiap panel relief candi Borobudur kurang lebih dua meter. Jika rangkaian dari cerita itu disusun secara berjajar, kurang lebih panjang seluruhnya bisa mencapai 3 km.

Relief candi Borobudur tersebut dapat dibaca sesuai arah jarum jam (mapradaksina)—daksina yang artinya timur—dimulai dan berakhir pada pintu di sisi timur pada setiap tingkatnya.

Penempatan relief Borobudur tampaknya juga mengikuti urutan yang sengaja dimulai dengan pelajaran yang paling jelas di kaki candi, terdiri atas hukuman dan pahala, sampai yang paling abstrak di tingkat paling atas yaitu “kenikmatan” menjadi Bodhisatwa.

Matra perlambangan terakhir pada Borobudur diperoleh dari relif-relief yang melukiskan teks-teks Buddha, yang menghiasi tembok dan dari keempat Serambi berbentuk persegi panjang. Pada tahap pertama pembangunan candi dibuat satu rangkaian relief pada bagian kaki.

Teks yang digambarkan di sini diambil dari Karmavibgangga (hukum sebab akibat), berupa penggambaran perbuatan-perbuatan baik dan pahalanya, namun lebih menitik beratkan pada hukuman-hukuman mengerikan yang akan diterima oleh mereka yang berbuat jahat seperti membunuh binatang, berkelahi, atau berzina.

Rangkaian ini kemudian ditutup dengan tambahan batu sebelum selesai dipahat. Alasan penambahan ini , menurut Dumarcay, berhubungan dengan tata susunan: para perancang salah menghitung lebar landasan yang diperlukan untuk mendukung candi sehingga terpaksa menambah batu, akibatnya rangkaian relief yang pertama tertutup. Sebagai gantinya, mungkin, dibuat lagi sebaris relief pada bagian dalam sisi pagar di undak pertama.

Tembok lorong pertama dihias empat empat rangkaian relief: dua di tembok pagar dan dua di dinding utama. Kedua seri pada tembok pagar pembatas diambil dari teks berjudul Jantaka, kisah kelahiran, berisi kisah-kisah kehidupan Sakyamuni, Sang Buda, dalam berbagai penjelmaan kembali sebelum kelahirannya yang terakhir sebagai anak manusia.

Tema cerita-cerita ini ialah pengorbanan diri sebagai cara mendapat pahala dan kelahiran yang lebih baik dalam kehidupan berikutnya, dengan mencapai nirwana sebagai tujuan akhir.

Bagian bawah dinding utama dihias lagi dengan satu rangkaian kisah kelahiran. Kali ini berisi adegan-adegan kehidupan orang lain selain Sakyamuni yang juga telah mendapat pencerahan.

Berbeda dengan Buddha Theravada yang percaya bahwa hanya satu orang mencapai pencerahan dalam zaman ini, penganut Buddha Mahayana percaya bahwa banyak orang sudah mencapai tingkat tersebut. Teks-teks ini dinamakan Avadana.

Bagian atas dinding utama, lorong pertama dihias relief-relief yang melukiskan kehidupan Sakyamuni (Siddharta Gautama) selama hidupnya sebagai pangeran yang menjadi guru dan pertama. Relief dimulai dengan calon Buda di surga sebelum penjelmaan kembali yang terakhir, dan berakhir dengan khotbahnya yang pertama di taman rusa di Benares.

Rangkaian kelima dan terakhir menempati tiga lorong paling atas Borobudur. Teks yang dipakai sebagai sumber ilham dinamakan Gandavyuha. Teks berisi cerita tentang seorang laki-laki muda, anak pedagang, bernama Sudhana yang pindah dari satu guru ke guru lain dalam upaya mencari pencerahan.

Sebagian besar relief memperlihatkan orang tersebut berkelana dengan berbagai kendaraan, seperti kereta dan gajah, serta adegan-adegan ia berlutut menghormati guru-gurunya, kalayanamitra (teman baik), termasuk laki-laki, perempuan, anak-anak, dan para Bodhisatwa.

Pada akhi pencariannya, Sudhana diterima di istana Maitreya, Buda Masa Depan, di puncak Gunung Semeru. Ia diberi pengajaran lagi dan menerima daya lihat. Rangkaian terakhir pada undak atas, mengambil lanjutan teks, dinamakan Bhadacari, berisi Sudhana bersumpah akan menjadi Bodhisatwa dan mengikuti jejak seorang Bodhisatwa lain bernama Samantabhadra.

Penempatan rangkaian terakhir di tingkat paling atas candi ini agaknya menunjukkan bahwa teks ini paling dihormati oleh para arsitek dan pembangun Borobudur.

Urutan relief tampaknya dirancang untuk mendorong pada peziarah mengikuti contoh Sudhana, sementara pada saat yang sama mendaki sebuah ‘gunung’ yang puncaknya dilukiskan sebagai kediaman kebijaksanaan tertinggi.

Bagaimana Relief Candi Borobudur dibuat?

Selain bentuknya yang tidak memiliki ruang, relief candi Borobudur adalah hal yang paling menarik.

Setiap panel diisi dengan adegan yang harus terdistribusi dengan baik—dan isinya ditentukan—untuk menghasilkan skenario yang paling efektif agar apa yang terlukiskan kembali membawa keluar pesan yang mendasarinya. Melalui kerja sama tim artistik, pekerja dan pendeta Buddhis. Panel -panel itu kemudian diisi relief seperti yang bisa kita lihat saat ini.

Para arsitek-desainer jelas harus memiliki akses ke sumber-sumber sastra lainnya. Semua peneliti telah menyepakati ini karena banyak adegan, seperti yang mengungkapkan dunia lain dari keberadaan di alam semesta, di antara mereka ada makhluk semi-ilahi lainnya.

Tampaknya para pembuat relief Borobudur itu harus benar-benar menggali inspirasi sesuai dengan yang diinginkan, dan juga membawa pemahaman mereka menjadi bentuk-bentuk lokal yang dipahami baik oleh mereka, maupun oleh kita sekarang.

Bagaimana Relief Borobudur dibuat, secara sederhana urutan pembuatan relief candi Borobudur sebagai berikut:

  1. Biarawan terlebih dahulu memahat judul cerita pada panel relif
  2. Seorang ahli menggunakan sepotong arang atau bahan lainnya untuk melukis adegan ang sesuai dengan judul.
  3. Seorang catrik, pemahat kemudian memahat bagian bagian yang menggambarkan tokoh dan panel umum.
  4. Seorang ahli kemudian mengukir bagian-bagian kecil pada tokoh atau ragam hias yang memerlukan detail lebih seperti perhiasan, pakaian, dan benda-benda kecil lainnya.
  5. Relief kemudian ditutupi plester putih.
  6. Seorang ahli kemudian mewarnai relief dengan warna-warna pastel.

Pinjam meminjam simbol antara kebudayaan lokal dan simbol umum dalam seni Buddha dan Hindu, telah membawa keseimbangan, dan juga komposisi yang lebih cocok untuk beberapa skenario. Pemahat juga tampaknya telah memiliki berbagai kebebasan untuk menerapkan pemikiran kreatif mereka dan kecerdikan artistik ketika itu tidak menyinggung masalah prinsip ketat agama.

Beberapa penampilan konvensional dan penampilan fisik, seperti pakaian, serta benda-benda mati misalnya kotak dan pot, kapal besar untuk makanan dan minuman, juga digunakan untuk menunjukkan cara hidup, fisik dari orang-orang, tetap menjadi bagian dari budaya tradisional bangsa Indonesia selama berabad-abad yang dapat memperlihatkan kejeniusan lokal sang seniman

Ada beberapa adegan yang seperti diulang-ulang, “monoton” dan kadang berlebihan. Akan tetapi, pengulangan, pertama-tama, memiliki manfaat tersendiri, selain menjadi metode tradisional untuk belajar dan menghafal fakta.

Selain itu, salah satu tidak harus mengabaikan praktik umum di antara umat Buddha dan Hindu, mengulang kata-kata suci atau suku kata berulang kali untuk mengaktifkan energi atau untuk mencapai wilayah satu-kemanunggalan pikiran.

Demikian juga, kita juga tahu praktik mengulangi dan mengalihkan bentuk sakral atau visi, seperti yang membentuk tema ‘Seribu Buddha’, ‘Seribu lingga’ dan ‘Seribu Wisnu’, di mana pengulangan yang konstan dianggap memiliki efek yang menggugah.

Jika kita mengikuti urutan searah jarum jam dari panel 1-160, jelas bahwa urutan itu yang dimaksudkan sebagai cara pendakian utama atas monumen Borobudur ini agar bisa membaca relief-relief yang telah dibuat oleh para pengrajin, pekerja, dan pendeta buddha itu, dahulu pada abad ke-10 Masehi.

Pastikan bahwa Awal cerita dimulai dan berakhir di pintu gerbang sisi Timur di setiap tingkatnya. Anda bisa membacanya (melihatnya) sesuai dengan arah jarum berputar.

Riwayat Pemugaran Candi Borobudur

Sebelum dipugar, Candi Borobudur hanya berupa reruntuhan seperti halnya artefak-artefak candi yang baru ditemukan. Pemugaran selanjutnya oleh Cornelius pada masa Raffles maupun Residen Hatmann. Periode selanjutnya pemugaran dilakukan pada 1907-1911 oleh Theodorus van Erp yang membangun kembali susunan bentuk candi dari reruntuhan karena dimakan zaman sampai kepada bentuk sekarang.

Van Erp sebetulnya seorang ahli teknik bangunan Genie Militer dengan pangkat letnan satu, tetapi kemudian tertarik untuk meneliti dan mempelajari seluk-beluk Candi Borobudur, mulai falsafahnya sampai kepada ajaran-ajaran yang dikandungnya. Untuk itu dia mencoba melakukan studi banding selama beberapa tahun di India. Ia juga pergi ke Sri Langka untuk melihat susunan bangunan puncak stupa Sanchi di Kandy, sampai akhirnya menemukan bentuk Candi Borobudur.

Ada pun landasan falsafah dan agamanya ditemukan oleh Stutterheim dan NJ. Krom, yakni tentang ajaran Buddha Dharma dengan aliran Mahayana-Yogacara dan ada kecenderungan pula bercampur dengan aliran Tantrayana-Vajrayana.

Robert von Heine Geldern (antropolog-etnolog Austria,) berdasarkan hasil penyelidikan yang ia lalukan menyatakan bahwa nenek moyang bangsa Indonesia sudah mengenal tata budaya pada zaman Neolitik dan Megalitik yang berasal dari Vietnam Selatan dan Kamboja. Pada zaman Megalitik itu nenek moyang bangsa Indonesia membuat makam leluhurnya sekaligus tempat pemujaan berupa bangunan piramida bersusun, semakin ke atas semakin kecil.

Salah satunya yang ditemukan di Lebak Sibedug Leuwiliang Bogor Jawa Barat. Bangunan serupa juga terdapat di Candi Sukuh di dekat Solo, juga Candi Borobudur. Kalau kita lihat dari kejauhan, Borobudur akan tampak seperti susunan bangunan berundak atau semacam piramida dan sebuah stupa.

Berbeda dengan piramida raksasa di Mesir dan Piramida Teotihuacan di Meksiko, Candi Borobudur merupakan versi lain bangunan piramida. Piramida Borobudur berupa kepunden berundak yang tidak akan ditemukan di daerah dan negara mana pun, termasuk di India. Hal tersebut merupakan salah satu kelebihan Candi Borobudur yang merupakan kekhasan arsitektur Buddhis di Indonesia.

Monograf Borobudur untuk pertama kalinya diterbitkan dalam bahasa Belanda dan diterjemahkan ke dalam bahasa Prancis setahun kemudian. Monograf ini memuat ratusan sketsa dan gambar candi beserta isinya, dibuat atas prakarsa pemerintah Belanda dengan melibatkan sedikitnya tiga orang ahli: Leeman, Wilsen, dan Brumund.

Sejak diterbitkan monograf ini, akses masyarakat luas (terutama Eropa) terhadap informasi Borobudur menjadi terbuka lebar. Mulai Borobudur mengambil tempat dalam “peta sejarah dunia” dan menarik perhatian para ahli untuk meneliti lebih jauh.

Restorasi pertama dilakukan dibawah pimpinan Theodore van Erp dengan dana pemerintah Belanda. Selain restorasi, dia membuat dokumentasi foto keadaan candi sebelum, selama, dan sesudah restorasi, serta melakukan pendataan dan inventaris jumlah stupa dan relief. Namun yang paling menonjol adalah keberhasilan van Erp merekonstruksi candi secara utuh hingga menjadi bentuknya yang kita lihat sekarang.

Namun, sampai saat ini ada beberapa hal yang masih menjadi misteri Candi Borobudur, misalnya dalam hal susunan batu, cara mengangkut batu dari daerah asal sampai ke tempat tujuan, serta teknologi yang digunakan dan lagi proses pembuatan relief yang ada pada dinding-dinding candi, semuanya masih merupakan misteri yang membuat kita takjub