Categories Traveldraft

Wisata Bandung, Mengunjungi Bangunan Bersejarah

Bangunan-bangunan bersejarah di kota Bandung selain memiliki nilai prestise dan sejarah yang tinggi, juga dapat menjadi salah satu tujuan anda berwisata di Bandung.

Bangunan-bangunan bersejarah di kota Bandung selain memiliki nilai prestise dan sejarah yang tinggi, juga dapat menjadi salah satu tujuan wisata Bandung anda.

Secara geografis Bandung terletak di tengah-tengah provinsi Jawa Barat. Kota Bandung adalah ibu kota provinsi Jawa Barat itu sendiri. Pada tahun 2011 lalu, Kota ini dianugerahi predikat salah satu World’s Great Cities of Art Deco.

Wisata warisan bangunan bersejarah di kota Bandung memang terkenal dan digemari pengunjung yang datang untuk berwisata ke Bandung.

Bagi anda yang samar-samar hanya pernah mendengar namanya, hati-hati tertukar dengan Kabupaten Badung yang ada di Pulau Bali. Tulisan ini mungkin dapat menambah informasi bagi anda ketika kelak berwisata ke Kota Bandung.

Kota Bandung pada zaman dahulu dikenal sebagai Parijs van Java, “Paris-nya Pulau Jawa”. Kenapa Bandung disebut Paris van Java? Sebagian berpendapat karena Bandung terletak di dataran tinggi dan dikenal sebagai tempat yang beriklim sejuk.

Sebagian lagi percaya bahwa julukan ini didapat karena dahulu Bandung adalah pusat belanja dan banyak toko-toko diantaranya yang menjual pernak-pernik fashion —khususnya pakaian— seperti Paris.

Tapi itu dulu. Sekarang, Paris yah Paris, Bandung yah bandung–dengan karakteristik dan keunikannya masing-masing, pun masih ada persamaannya.

Bangunan bersejarah di Kota Bandung kini banyak yang beralih fungsi, meski pun begitu bangunan-bangunan itu tetap memiliki keunikan dan nilai penting baik dari arsitekturnya, fungsi serta bagi perjalanan sejarah bangsa Indonesia.

Bangunan bersejarah di Bandung bukan hanya sekedar tempat cuci mata dan berwisata tetapi dapat dijadikan sebagai objek wisata pendidikan.

Sekilas Tentang Bandung

Kota Bandung terletak pada ketinggian ±791 meter dari permukaan laut rata-rata (mdpl). Daerah utaranya lebih tinggi daripada di bagian selatan. Kurang lebih 1050 mdpl di Utara, dan ±675 mdpl di selatan.

Bandung dikelilingi oleh pegunungan, Bandung purba—danau Bandung—merupakan suatu cekungan (Bandung Basin). Kota Bandung termasuk ke dalam wilayah beriklim Af (iklim tropika).

Iklim Kota Bandung ini dipengaruhi oleh suhu pegunungan yang lembap dan sejuk. Suhu rata-rata 23,1 s/d 30 ‘C, sedangkan curah hujan rata-rata 148,35 mm/tahun dan jumlah hujan rata-rata 16 hari/bulan pada musimnya.

Salah satu sungai yang mengalir di Kota Bandung adalah sungai Cikapundung. Sungai Cikapundung ini merupakan anak sungai dari sungai Citarum.

Sungai Cikapundung mengalir dari sebelah utara Kota Bandung ke sebelah Selatan Kota Bandung menuju pada sungai Citarum. Selain sungai Cikapundung, Kota Bandung pun dialiri oleh anak-anak sungai Citarum yang kecil.

Bandung juga dijuluki Kota kembang. Keharuman Kota Bandung sebagai Parijs van Java tidak terlepas dari sejarah masa lalunya.

Saat kekuasaan Kolonial Belanda berada di Nusantara, MHW Daendels, ia menggagas untuk menghubungkan Jalan Raya Pos (Grote Postweg, sekarang Jalan Asia Afrika) dengan Jalan Raya Anyer-Panarukan pada tahun 1811.

Bandung kemudian mulai dikenal. Apalagi setelah pembangunan Jalan Kereta Api Batavia – Bandung pada tahun 1884, perkembangan Kota Bandung pun semakin pesat.

Fasilitas-fasilitas kota Bandung kemudian banyak didirikan seperti gedung Societet Concordia (Gedung Merdeka sekarang) pada tahun 1921 juga beberapa bangunan lain yang membuat kawasan Asia Afrika dan Jalan Braga tumbuh menjadi pusat rekreasi komersial.

Perluasan kota Bandung juga hingga ke arah sekitar Wastu Kancana (dulu Pieterspark) dan Jalan Merdeka (dulu Merdekaweg). Ada juga yang membangun rumah di kawasan Bandung Utara yang sekarang dikenal sebagai daerah Dago dan Cipaganti (dulu Nijlandweg).

Kawasan Wisata Bangunan Bersejarah di Kota Bandung

Banyaknya bangunan bersejarah di Kota Bandung menjadi daya tarik tersendiri bagi setiap orang yang berkunjung. Penyelenggaraan Konferensi Asia Afrika (KAA) di Kota Bandung diperkirakan tidak terlepas dari alasan warisan bangunan yang bersejarah di kota ini.

Sampai sekarang, warisan budaya tersebut beberapa masih terpelihara dengan baik, bangunan-bangunan itu umumnya telah mendapat perlindungan dilindungi dari peraturan daerah, bahkan telah dicanangkan sebagai salah satu tujuan wisata (destinasi) secara nasional.

Secara bertahap, pencanangan itu telah menunjukkan hasil yang cukup signifikan. Angka kunjungan ke Kota Bandung setiap tahun terus meningkat.

Walaupun tidak sepenuhnya bermaksud untuk menikmati wisata Bangunan bersejarah, tetapi para pengunjung ketika menelusuri jalan-jalan di Kota Bandung mereka akan menikmati keindahan bangunan bersejarah tersebut.

Bangunan bersejarah di Bandung menurut E. Maryani dan Dina Siti Logayah dalam kajian penelitian berjudul “Pengembangan Bandung Sebagai Kota Wisata Warisan Budaya (Culture Heritage)” dapat dibagi ke dalam enam kawasan yang masing-masing kawasan diwakili oleh jaring-jaring jalan, yaitu:

– Pusat kawasan sejarah (Sekitar Alun-alun, Jln. Asia- Afrika, Jln. Braga, Jln. Cikapundung),

– Kawasan “pecinan” (Jln. ABC, Wilayah Pasar baru, Jln. Otto Iskandardinata),

– Kawasan militer (Jln. Sumatra, Jln. Jawa, Jln. Aceh, Wilayah Gudang Utara),

– Kawasan Etnis Sunda ( Jln. Lengkong, Sasakgantung, Dewi Sartika, Karapitan, Melong),

– Kawasan Perumahan (Riau, Dipenogoro, setiabudi, Gatot Subroto, Taman Sari, Dago),

– Kawasan Industri (Arjuna, Jatayu, Kebon Jati).

Sebaran objek wisata bangunan bersejarah di Bandung ini kebanyakan berada di pusat kota, hal ini bersesuaian dengan pembangunan dan pengembangan Kota Bandung Tempo Doeloe yang ter-fokus di pusat Alun-alun kota.

Pada akhir tahun 1920-an perancang kota Ir. Thomas Karsten lewat gagasannya untuk memperluas areal wilayah Kota Bandung.

Perluasan kota ini didasari atas kepadatan jumlah penduduk yang ada di Kota Bandung dan kepada pengembangan “kolonial stad”, yaitu membenahi wajah kota menjadi proto-tipe yang menyediakan fasilitas dan privelese (kemudahan) bagi orang Eropa.

Sebutan “kolonial stad” mengacu pada desain model, berdasarkan gaya, bentuk dan corak arsitektur barat, yang mendominasi wajah Kota Bandung di masa lalu.

Sebuah pembangunan yang memberikan kemudahan bagi orang Eropa maka dibangun lah kawasan pemukiman bagi orang Eropa di Kota Bandung.

Bangunan yang cukup dikenal sebagai bangunan bersejarah yang menjadi ciri khas (landmark) Kota Bandung adalah Gedung Sate, Gedung Merdeka dan aula-aula Institut Teknologi Bandung (ITB).

Berdasarkan data yang ada jumlah bangunan bersejarah di Kota Bandung yang dapat dijadikan Objek Wisata Bandung tidak kurang dari 40 buah.

Bangunan-bangunan itu telah dilindungi sebagai bangunan warisan budaya yang tidak boleh dirusak atau dihilangkan. Berikut sebagian objek wisata bangunan bersejarah di Kota Bandung:

Balai Kota Pemerintah Kota Bandung dan Gedung Kologdam (Jaar Beurs) di Jln. Aceh. Di Jln. Asia Afrika ada Gedung Merdeka, Hotel Preanger, Savoy Homann Hotel, dan Gedung Kantor Pos Besar.

Gedung Rumentang Siang di Jln. Baranang Siang. Gedung SMAN 3 dan SMAN 5 di Jln. Belitung. Di Jln. Braga ada Museum Asia Afrika, Gedung Bioskop Majestic (AACC), Hotel Braga, Landmark Building, toko Sarnah, dll.

Toko Kopi Aroma di Jln. Bancey. Pabrik Kina di Jln. Cicendo. Di Jln. Cipaganti ada Mesjid Cipaganti. Pendopo Kabupaten di Jln. Dalem Kaum. Gedung Sate, Museum Geologi, dan Gedung Dwiwarna di Jln. Diponegoro.

Gedung Institut Teknologi Bandung di Jln. Ganesa. Gedung SMPN 5 di Jln. Jawa. Gedung SMAN 1 dan SMAK Dago di Jln. Ir. H. Juanda. PLTA Dago Pakar di Jln. Dago.

Ada Kantor/Gudang PJKA di Jln. Kebon Jati. Gedung Kodam III, Detasemen Markas di Jln. Kalimantan. Kelenteng/Vihara Setia Budhi di Jln. Kelenteng. Museum Mandala Wangsit Siliwangi di Jln. Lembong.

Dinas Pariwisata Provinsi Jawa Barat di Jln. Martadinata. Polwiltabes Bandung di Jln, Merdeka. Gedung Santa Angela yang berada di Jln. Merdeka. Kediaman Gubernur Jawa Barat di Jln. Otto Iskandardinata (Otista). Guest House Villa Merah di Jln. Taman Sari, lalu ada Villa Isola 
( Gedung Rektorat UPI) di Jln. Setiabudi

Kawasan Objek Wisata bangunan Bersejarah di Bandung dimungkinkan karena bangunan-bangunan tersebut dalam tata kotanya membentuk Pola bergerombol.

Hal ini juga menunjukkan bahwa salah satu wisata Bandung ini dari segi aksesibilitas mudah dijangkau, dalam artian dari tempat satu objek bangunan bersejarah ke objek wisata lainnya jaraknya relatif dekat.

Selain itu, objek-objek wisata bersejarah di Bandung ini juga dikelilingi oleh objek wisata Bandung lainnya seperti wisata Belanja atau wisata Kuliner yang tidak berjauhan jaraknya.

Wisata Bangunan Bersejarah di Bandung yang cukup ramai dikunjungi adalah Gedung Merdeka di jalan Asia Afrika yang pada masa lalu merupakan Gedung Sociteit Concordia.

Gedung Merdeka dibangun pada tahun 1920-1928 oleh Van Gallen Last dan C.P.Wolff Schoemaker, sekarang Gedung tersebut digunakan sebagai Museum Asia Afrika. Selain berfungsi sebagai museum, bangunan bersejarah ini juga berada di pusat kota yang mudah dijangkau dari berbagai jurusan.

Menikmati objek wisata bandung bisa dinikmati dengan cara walking tours atau wisata jalan kaki sambil mengamati Bandung lebih dekat atau bisa juga dengan menaiki Bandros (Bandung Tour on Bus.

Tidak jarang di tempat-tempat tersebut juga terkadang diselenggarakan event-event atau seminar-seminar yang mungkin bisa anda ikuti.

Bandung sebagai Kota Museum dan tujuan wisata belanja memang memiliki daya tarik yang lebih besar, namun Bandung seperti yang sekarang anda tahu, juga memiliki arsitektur bangunan bersejarah yang bisa anda kunjungi dan sayang jika dilewatkan begitu saja.

Selain itu bagi anda yang berasal dari luar kota dan ingin tinggal beberapa malam di Bandung, jangan takut, karena banyak hotel di Bandung ini yang siap menyambut dan memfasilitasi anda selama berada di Bandung.

Kapan atuh ke Bandung?