Categories Traveldraft

Danau Toba; Pesona dan Legenda Dunia di Sumatra

Toba, adalah legenda dunia. Mendengar namanya saja, beberapa orang mungkin akan sedikit menggertakan gigi; gemetar karena takut. Mungkin akan ada juga yang mendadak bulu-bulu halus di kulitnya berlomba untuk keluar; merinding karena takjub.

Danau Toba, adalah legenda dunia. Danau yang terletak di Sumatra Utara ini adalah kaldera gunung berapi aktif terbesar di dunia. Kaldera yang terbentuk akibat serangkaian letusan Supervolcano terbesar dalam kurun waktu 2,5 juta tahun terakhir—dari periode kuarter geologi.

Letusan Gunung Toba diperkirakan telah terjadi sejak 850.000 tahun yang lalu namun yang dianggap sebagai ‘mega-kolosal’—menurut indeks vulkaniknya—terjadi sekitar 74.000 tahun yang lalu. Letusan yang hampir memusnahkan seluruh kehidupan bumi pada masa itu. Mengusir cahaya matahari, membuat bumi menjadi dingin. Fenomena yang disebut sebagai ‘Musim dingin vulkanik’.

Para peneliti memperkirakan letusan dahsyat itu setara dengan malapetaka hantaman asteroid. Sacha C. Jones dalam buku yang berjudul “The Evolution and History of Human Populations in South Asia” memperkirakan volume letusan Toba antara 2.000 km3 dan 3.000 km3 magma—paling umum adalah 2.800 km3—dengan sekitar 800 km3 diendapkan menjadi hujan abu.

Sebagai perbandingan, itu setara—dalam jumlah massa—dengan 19 juta Empire State Building yang diledakan sekaligus. Perbandingan lain adalah dengan ledakan vulkanik Krakatau pada tahun 1883 yang memuntahkan sekitar 18 km3 magma dan juga Tambora (1815), mengeluarkan sekitar 80 km3. Keduanya tercatat sebagai letusan terbesar dalam sejarah abad modern.

Debu awan dan hujan abu dari Toba hampir mencakup seluruh bumi. Membentang dari Laut Cina Selatan ke Laut Arab, sampai di India hingga Afrika, dari Asia sampai ke Kutub Utara.

Dalam penelitian genetis, jumlah manusia modern diperkirakan turun drastis. Kita saat ini konon berevolusi dari beberapa ribu orang saja yang tentunya berhasil selamat dari bencana alam itu.

Letusan kecil kadang-kadang masih terjadi di Toba. Tetapi dalam beberapa dasawarsa terakhir, gempa bumi yang lebih sering tercatat. Hal ini tidak lain karena Danau Toba terletak di dekat garis patahan pegunungan bukit barisan Sumatra. Toba tercatat mengalami gempa bumi pada tahun 1892, 1916, selama tahun 1920-1922, dan 1987.

Selama lebih dari satu abad, sejarah geologi dan asal usul Danau Toba telah menarik perhatian banyak peneliti. Danau ini benar-benar surga bagi para peneliti sebagai laboratorium untuk kajian vulkanik, atmosfer, biosfer petrologi, geologi dan geofisika fisik yang luar biasa.

Danau Toba bagaimanapun juga telah mendapatkan ketenaran ilmiah. Sejak Wing Easton (1894, 1896) yang mengkaji ‘Liparitic volcanism‘ batuan yang dibarengi dengan kontribusi dalam peta geologi, hingga peneliti lain yang telah berkontribusi pada studi karakterisasi batuan vulkanik dari daerah Toba.

Van Bemmelen (1929) dengan beberapa publikasi tentang asal-usul vulkanik dari Danau Toba, Smith dan Bailey (1968) dengan Studi volcanologi modern pada karakterisasi Danau Toba sebagai “kuali yang bangkit kembali”, dan peneliti-peneliti kelas wahid lainnya yang telah memberikan perhatiannya kepada Danau Toba sesuai dengan bidang mereka.

Jika dilihat dari ruang angkasa, kaldera Toba adalah salah satu kawah gunung berapi yang paling mencolok di Bumi. Dengan panjangnya yang mencapai 100 kilometer dan lebarnya 30 kilometer, Pulau Samosir yang berada di tengah Danau bahkan memiliki luas yang hampir sama dengan negara Singapura.

Danau terbesar di Asia Tenggara ini kurang lebih berjarak 176 dari kota Medan, Provinsi Sumatra Utara – Indonesia. Kedalaman rata-rata Danau Toba kurang lebih 500 meter—ke-2 di Indonesia setelah danau Matano, Sulawesi Selatan.

Sekitar Danau Toba menjadi wilayah tempat tinggal lebih dari satu setengah juta orang yang disebut sebagai Batak. Mereka dikenal sebagai salah satu Suku Bangsa di Indonesia yang mampu menjaga identitas budayanya.

Dalam tradisi lisan dan legenda setempat, asal-usul Danau Toba ini dikisahkan bermula dari seorang nelayan yang menangkap ikan, namun kemudian ikan itu berubah menjadi seorang gadis cantik bernama Saniang.

Sang Nelayan menikahinya, mereka kemudian mempunyai seorang anak. Tak lupa ia juga berjanji untuk menjaga rahasia asal-usul istrinya itu.

Pada suatu malam, Si Anak diceritakan memakan hidangan yang khusus disiapkan untuk ayahnya. Saat Ayahnya kembali, anak itu dimarahi dan disebut “anak kurang ajar-dasar anak ikan”, yang terdengar oleh hampir semua penduduk desa.

Saniang tidak bisa menahan diri karena janji telah dilanggar. Amarahnya kemudian memicu ledakan gunung berapi di seluruh lembah dan memunculkan Danau Toba.

Sejatinya yang disebut sebagai Batak itu terdiri dari beberapa Suku, diantaranya Toba, Karo, Mandailing, PakPak, Sengkel, Simalungun, Angkola, yang masing-masing berbicara dengan dialek bahasa Batak berbeda.

Dari semua orang Batak, Batak Toba lah yang tinggal di Pulau Samosir, benar-benar dikelilingi oleh perairan Danau Toba. Di pulau itu selain bisa menikmati keindahan Danau Toba, pengunjung juga bisa melihat jejak peradaban dan sejarah orang Batak. Ada reruntuhan peradaban Megalitik, sarkofagus dari para bangsawan Batak, dan berbagai patung antropomorfik.

Nama danau Toba memang telah mendunia. Pesona keindahannya pun tak usah diragukan. Namun sayangnya, pengembangan potensi wisata untuk kawasan yang telah melegenda ini belum lah se-maksimal ketenarannya itu.