Categories Traveldraft Tags

Forbidden City; Istana Kaisar Cina di Jantung Kota Beijing

Pada awal abad ke-15, Kaisar ketiga Dinasti Ming, Yung-lo, membangun salah satu karya arsitektur yang kini dikenal sebagai Forbidden City (Kota Terlarang)

Pada awal abad ke-15, Kaisar ketiga Dinasti Ming, Yung-lo, membangun salah satu karya arsitektur yang kini dikenal sebagai Forbidden City (Kota Terlarang). Sebuah kompleks istana kekaisaran yang megah, berisi ratusan bangunan dengan sekitar 9.000 kamar.

Terletak di tengah ibu kota Cina, Beijing, kompleks istana ini telah menjadi saksi dari sejarah Cina saat masih menjadi kekaisaran. Kota Terlarang tercatat digunakan dari tahun 1421 hingga 1911; oleh Dinasti Ming dan Dinasti Qing.

Ada banyak nama untuk menyebut Kota Terlarang. Di Tiongkok sendiri kompleks ini dikenal dengan nama Gu Gong (bekas istana).  Julukan sebagai ‘Kota Terlarang’ merupakan terjemahan dari Zijin Cheng yang kurang lebih berarti ‘Kota Terlarang Ungu’. Apapun istilah dan julukannya, satu hal yang pasti, tentunya pada masa lalu, jika masuk ke kota ini tanpa izin adalah bunuh diri.

Kota Terlarang menampilkan keseimbangan harmonis antara bangunan dan ruang terbuka dalam tata letak simetris. Kompleks ini berisi halaman besar, juga ada teras dan tangga-tangga, jembatan, patung penjaga, bangunan yang berhias atap emas dan merah terang.

Struktur kayu terbesar (72.000 meter persegi) yang masih berdiri ini juga memiliki tinggkat kedetailan yang menawan. Baik itu hiasan maupun ukiran, kolom-kolomnya, serta lapisan merah dan kuning yang berpadu padan.

Kota ini dikelilingi oleh tembok setinggi 7,9 meter dan parit sepanjang 3.800 meter. Hampir semua bangunan utama dibangun dengan struktur kayu beratap dan teras-teras marmer kuning dan putih yang mengkilap.

Kota Terlarang menyampaikan citra yang kuat dari kekayaan dan kekuasaan duniawi, melampaui keagungan Versailles di Itali—tanpa meninggikan satu budaya dan rasa skala manusia.

Arsitekturnya dianggap sebagai puncak dari perkembangan arsitektur Cina dan Asia Timur pada masa klasik. Gaya arsitektur bahkan memengaruhi perkembangan arsitektur Cina pada masa selanjutnya.

Terdapat empat gerbang beratap di empat arah mata angin: Gerbang Wumen (Gerbang Meridian) di selatan, Gerbang Shénwǔmén/ Xuánwǔmén (Gerbang Kuasa Dewa/ Gerbang Kura-kura hitam) di utara, dan dua gerbang yang disebut Xīhémén (Gerbang Kemuliaan) mengapit di barat dan timur.

Gerbang Wumen merupakan pintu masuk di selatan—dan gerbang terbesar—Kota Terlarang yang terletak pada garis meridian kota. Gerbang Wumen memiliki lima lengkungan. Tiga lengkungan berada di tengah dengan jarak yang berdekatan dan dua lengkungan lainnya mengapit agak jauh dan terpisah.

Lengkungan utama sebelumnya hanya digunakan untuk pintu masuk Kaisar; dengan pengecualian permaisuri yang hanya masuk sekali di hari ia menikah, tiga orang yang dinyatakan mendapat hasil ujian tertinggi di ujian negara. Selain itu, semua pejabat dan juga pegawai harus menggunakan empat lengkungan lainnya.

Pada tanggal 1 Desember dalam kalender lunar, Kaisar akan mengumumkan kalender tahunan tepat di depan Gerbang Wumen; ketika pasukan kembali dari kemenangan perang, para jenderal mempersembahkan tawanan untuk kaisar yang terkadang langsung dipenggal di tempat ini.

Meskipun Kota Terlarang saat ini telah menjadi museum terbesar dan sangat lengkap, bangunan tradisional ini awalnya sulit untuk mengadaptasikan kegiatan pameran museum dengan fasilitas modern.

Untuk menjaga kekhasan dan keasliannya, Pemerintah Cina tidak mengizinkan menambahkan hal-hal yang berbau modern. Tapi saat ini beberapa fasilitas pendukung telah ditambahkan, terutama penggunaan kaca-kaca pelindung.

Kini Kota terlarang kendati bukan lagi tempat kalangan bangsawan, nyatanya kota ini tetap merupakan simbol kekuasaan dan kebanggaan masyarakat Tiongkok. Tidak tanggung-tanggung, Pemerintah Cina bahkan menjadikan bekas istana itu sebagai lambang negara mereka.