Image by Reibai / Flickr
Categories Traveldraft Tags ,

Imam Reza Shrine, Kemegahan Arsitektur Islam di Iran

Jika Qom terkenal sebagai pusat hukum dan otoritas ulama Syi’ah di Iran, maka Mashhad adalah pusat dan landasan spiritual bagi bangsa Iran. Salah satu tempat agama paling indah dan mulia di Iran. Yang terbaik dari seni dan arsitektur Islam, di mana seni dan agama Islam konon tertanam.

Sebagai kota terbesar kedua di Iran—dengan lebih dari 2 juta penduduk—Mashhad ‘berutang’ banyak ke Shrine Imam Reza yang telah berkali-kali dibangun dan dibangun kembali selama sejarahnya.

Jika Qom terkenal sebagai pusat hukum dan otoritas ulama Syi’ah di Iran, maka Mashhad adalah pusat dan landasan spiritual bagi bangsa Iran. Salah satu tempat agama paling indah dan mulia di Iran. Terbaik dari seni dan arsitektur Islam, di mana seni dan agama Islam konon tertanam.

Mashhad adalah ibu kota provinsi Khorasan di Timur Utara Iran, 892 km dari Teheran. Kota ini tumbuh dari sebuah desa kecil bernama Sanabad, hampir 24 km jauhnya dari Tus.

Wilayah ini dikenal dunia sebagai situs suci pemakaman Ali Ibn Musa al-Ridha, imam kedelapan (pemimpin spiritual) dalam tradisi Dua Belas Syi’ah. Beliau lebih dikenal dengan nama Persia-nya, “Imam Reza.”

Lahir di Madinah pada tahun 765 Masehi, Imam Reza menghabiskan tahun-tahun hidupnya di Khorasan, wilayah historis yang membentang dari timur laut Iran, Afghanistan Barat, dan Turkmenistan.

Meskipun tanggal pasti kematiannya masih diperdebatkan, beberapa sumber Syi’ah sepakat bahwa Imam Reza meninggal 818 Masehi. Tempat peristirahatan dikenal sebagai “Mashhad” atau “Mashhad al-Ridha” yang berarti “tempat kemartiran [al-Ridha].”

Tak lama setelah kematian Imam Reza, Muslim dari berbagai latar belakang mulai mengunjungi Mashhad sebagai tempat ziarah, kota ini dengan cepat didirikan sebagai pusat spiritual.

Keseluruhan kompleks Shrine suci ini membentuk lingkaran konsentris dengan makam Imam Reza sebagai pusatnya; meliputi sembilan halaman (Sahn), dua puluh enam beranda (Riwaq), Masjid Gowhar shad.

Universitas, Yayasan, Museum, Perpustakaan, Kantor, Rumah Sakit, Hotel dan kelengkapannya, juga empat Bast (tempat berlindung).

Setiap bagian dari kompleks-nya dibangun pada waktu yang berbeda, hingga menciptakan sebuah mozaik dari gaya arsitektur yang tak sama tapi serupa. Luasnya sekarang kurang lebih mencapai 300.000 meter persegi.

Imam Reza Shrine, Mashhad Iran
Image by Reibai / Flickr

Seperti kota itu sendiri, kompleks Shrine tumbuh secara bertahap dari waktu ke waktu. Sebagian elit politik berusaha untuk membangun legitimasi mereka di tempat ini.

Imam Reza Shrine bagaimanapun telah tumbuh secara signifikan selama berabad-abad. Dari sebuah bangunan kecil di atas makam Imam ke-8, menjadi salah satu kompleks keagamaan terbesar di dunia yang menciptakan beberapa keajaiban seni arsitektur.

Bangunannya memang menawarkan indikasi yang kompleks, sejarah dari kota suci dan kekuasaan tercermin dari ruang-ruang fisik kota yang penuh ideologis. Sakral menjadi spasial, dan spiritual harus diartikulasikan melalui tafsiran fisik.

Juga karena sifat politiknya yang melekat—serta nilai bahan yang digunakan dalam konstruksinya—situs itu kerap dihancurkan dan kemudian dibangun kembali karena berpindah tangan dari dinasti ke dinasti.

Dari Ghaznawi (977-1186 M) ke Ilkhanids (1260-1335 M), Imam Reza Shrine diikuti siklus ekspansi, kehancuran, rekonstruksi, dan renovasi. Tidak sampai periode Timurid (1370-1507 M) kompleks kuil dan kota mengalami pertumbuhan yang substansial. Sebuah proses yang berlanjut sampai hari ini.

Pada saat yang sama, Mashhad itu sendiri—hidup dan bernapas—sebagai kota. Seperti yang sudah ditunjukkan tren masa lalu dan saat ini, arsitektur dan ruang terbuka dari situs suci ini akan terus dibentuk dan kembali disesuaikan dengan ideologi kekuasaan yang mengatur.

Tapi hingga detik ini, baik pengunjung, wisatawan, dan sejarawan setidaknya masih bisa menyebut kompleks keagamaan ini sebagai “The Glory of the World Islamic Architecture“, Keagungan dalam Dunia Arsitektur Islam.