Categories Traveldraft Tags , ,

Tradisi Barzanji Bagi Umat Islam di Pulau Jawa

Barzanji atau sholawat barzanji (berjanjen) adalah bentuk kesenian yang bernapaskan Islam atau sebagai sarana dakwah Islam, dengan Kitab Barzanji sebagai sumbernya.

Tradisi Barzanji atau tradisi sholawat barzanji (berjanjen) ada juga ada yang menyebutnya barsanji adalah bentuk kesenian yang berkembang dengan Kitab Barzanji sebagai sumbernya. Pembacaan Barzanji termasuk dalam tradisi selawatan dan Barzanji yang dilagukan biasanya disebut dengan As-srokal atau srokal.

Seni budaya Islam ini dapat dikategorikan sebagai kelompok seni suara yang diiringi alat musik terbang atau Qasidah (rebana) yang dibawakan oleh 10-20 orang. Setiap desa di Jawa bahkan memiliki perkumpulan Barzanji lengkap dengan instrumentnya.

Kesenian Barzanji ini kini menjadi seni pertunjukan yang ditampilkan pada perayaan hari-hari besar Islam. Tradisi Barzanji juga hadir mengiringi acara dan pesta keluarga atau desa, seperti tujuh bulan usia kehamilan atau perayaan kelahiran anak, dan juga pada hari-hari besar dalam kalender Islam.

Sekilas Tentang Kitab Barzanji

Kitab Barzanji atau Mawlid al-Barzanjī (مولد البرزنجي) adalah nama yang umum digunakan untuk kitab syair dan pujian yang menceritakan silsilah, kehidupan, dan keutamaan Nabi Muhammad SAW karya Jaʿfar bin Ḥasan al-Barzanjī. Kitab Mawlid al-Barzanjī dalam karya aslinya bernama “Iqd al-Jawhar fī Mawlid al-Nabiy al-Azhar” kurang lebih bisa diartikan “Permata cahaya atas Kedatangan Nabi SAW”.

Dalam perkembangan selanjutnya, kata “Barzanji” kerap disandingkan dengan Maulid (Mawlid), yang pada dasarnya isi dari kitab Barjanji yang merupakan bentuk cinta yang mendalam untuk Nabi Muhammad SAW, sama dengan istilah Maulid.

Kitab al-Barzanjī diterima secara universal. Di dunia Islam kitab ini banyak dibaca dan dipelajari oleh Muslim Sunni dari Afrika hingga Asia Tenggara. Dalam beberapa kebudayaan, pembacaan Kitab al-Barzanjī Ini dilakukan melalui deskripsi puitis yang dibacakan untuk meminta berkah Ilahi dalam acara-acara khusus seperti kelahiran anak, pindah rumah, membuka bisnis baru, dan bahkan pada saat kematian.

Tata Urutan dalam Tradisi Barzanji Di Jawa

Pertama-tama mengucapkan Assalamu’alaikum dan membaca Surat Al-fatihah oleh pimpinan perkumpulan kesenian dan dilanjutkan sekaligus sebagai pambowo.

Kemudian diikuti bacaan solawat Nabi “Sholu’ ala Nabi Muhammad” yang selanjutnya dijawab oleh anggota jamaahnya dengan bacaan “Allahumma sholi’ alaih”.

Pemimpin dan juga diikuti semua jamaah yang hadir bersama-sama menyanyikan dan membacakan syair solawat:

Allahumma sholli ‘alamuhammad, Yaa robbi sholli ‘alaaihi wa sallim
(Ya Allah sholawat atas Muhammad, Ya Robbi sholawat atasnya dan selamatlah)
Ya robbi sholli ‘alaa Muhammad, Ya robbi sholli ‘alaaihi wa sallim.

(Ya Robbi sholawat atas Muhammad, Ya Robbi sholawat atasnya dan selamatlah)

Kemudian pemimpin melanjutkan bacaan solawat barzanji pada bait berikutnya dua bait-dua bait sampai ke delapan belas bait yang setiap dua bait para jama’ahnya bersama-sama menjawab:

“Ya robbi sholli ‘alaa Muhammad, Ya robbi sholli ‘alaaihi wa sallim.”

Adapun bait pertama yang dibaca oleh pemimpin atau yang mendapat giliran membaca bacaannya adalah sebagai berikut:

Fii hubbi sayyi dinaa Muhammadin, nuurul libadril hudaa mutam mamun
(Cintaku hanya paduka Muhammad, cahaya petunjuk bagi purnama)

Qolbii yahinnu ilaa Muhammadin, Maazaala miw wuj dihii mutay yamun
(hatiku rindu kepada Muhammad, selalu….)

Setelah pemimpin selesai menyanyikan syair solaiwat dalam kitab Barzianji sebanyak 18 bait kemudian pemimpin terkadang menukil syair untuk syiar islam dan dakwah:

Nasabun tah sibul ‘idaa bihulaahu, Qolla dat haa nujuu mahaa jauza-‘u
(Miskin ya orang miskin, miskin belajar Quran, sungguh-sungguh orang Islam Dari Allah Tuhan Pangeran)
Habbadhaa ‘iqdusuu da diw wafakhorin, anta fiihil yatii matul’ash maa-‘u.

(Ingat-ingat malam dan siang, badanmu itu seperti wayang, jangan sekali tinggal sembahyang, nyawamu itu akanlah hilang).

Selanjutnya adalah Assrokal atau srokal. Semua yang hadir dalam acara berdiri.

Selain itu, menghormat dan menyambut kedatangan si bayi yang sedang di-hajati dan diharapkan si bayi tersebut nantinya berguna bagi keluarga, agama, bangsa dan negara.

Para tamu yang hadir semua berdiri, pemimpin beserta rombongan kesenian menyanyikan lagu sebagai pambowo yang pertama yakni sebagai pembuka akan dibacanya syair kitab Barzanji, seperti berikut:

Shollallohu ‘ala Muhammad (Sholawat Allah atas Muhammad)

Shollallohu ‘alaihi wa sallam (Sholawat Allah atasnya dan selamatlah)

Yaa Nabi salamun ‘alaika
(Wahai Nabi selamat atasmu)

Yaa Rasul salamun ‘alaika
(Wahai rasul selamat atasmu)

Yaa habib salam ‘alaika
(Wahai kekasih selamat atasmu)

Shollawatullah ‘alaika
(Selamat rahmat Allah atasmu)

Asyroqol badru ‘alaika
(Bulan purnama telah tampak bagi kita)

Akhtafat minhul buduru
(beringsutlah purnama-purnama yang lain)

Mitslahus nikmaa ro-ainaa
(keindahanmu tidak tertandingi)

Qoth thuyaa wajhas sururi
(wahai wajah yang berseri-seri)

Anta syamsun Anta badrun
(Engkaulah matahari Engkaulah purnama sempurna)

Anta mish baa hush shuduuri
(Engkaulah cahaya diatas cahaya)

Anta iksiru wa gholi
(Engkaulah sang penawar)

Anta mish bahus shuduri
(Engkaulah sang pelita hati)

Selesai membacakan atau menyanyikan As-srokal atau srokal, membaca Kitab Barzanji dilanjutkan dalam posisi duduk kembali, tanpa dilagukan. Selesai pembacaan tersebut berakhirlah pembacaan bagi kelompok kesenian Barzanji.

Acara kemudian diakhiri dengan pembacaan do’a.