Categories Traveldraft Tags

Jagung Titi, Camilannya Orang Flores Timur

Rasanya yang gurih dan tekstur-nya yang renyah, membuat Jagung Titi menjadi camilan favorit bagi penduduk Nusa Tenggara Timur (NTT) terutama di pulau Flores bagian timur: Solor, Adonara, Alor, dan Lembata. Jagung Titi salah satu camilan khas dari Nusa Tenggara Timur (NTT). Dari namanya sudah bisa dipastikan jika camilan ini terbuat dari jagung, sedangkan kata “Titi” … Read more

Rasanya yang gurih dan tekstur-nya yang renyah, membuat Jagung Titi menjadi camilan favorit bagi penduduk Nusa Tenggara Timur (NTT) terutama di pulau Flores bagian timur: Solor, Adonara, Alor, dan Lembata.

Jagung Titi salah satu camilan khas dari Nusa Tenggara Timur (NTT). Dari namanya sudah bisa dipastikan jika camilan ini terbuat dari jagung, sedangkan kata “Titi” berarti dipipihkan atau ditumbuk yang menunjukkan bagaimana camilan ini dibuat.

Jagung yang digunakan untuk membuat camilan ini bukan jagung yang biasa ditemui di pasaran, akan tetapi jagung pulut putih yang bertekstur lengket seperti ketan dan jenis itu merupakan varian jagung lokal yang tersedia di NTT.

Proses pembuatannya walaupun terlihat sederhana tetapi memakan waktu lama. Ada empat tahap utama dalam pembuatan cemilan ini; pertama proses pemisahan biji jagung dari tongkolnya atau dalam istilah lokalnya dipipil. Setelah dipipil jagung kemudian disangrai (;roasted) setengah matang yang ditandai dengan suara letupan pada biji jagung.

Jagung disangrai menggunakan periuk atau wajan khusus yang terbuat dari tanah (semacam tembikar) hal ini dimaksudkan agar proses pemindahan panas berjalan lambat sehingga proses sangrai merata ke seluruh pipilan jagung.

Proses selanjutnya adalah penumbukan, tahap ini benar-benar menentukan tingkat ‘kesuksesan’ pembuatan Jagung Titi–rasa gurih menjadi parameternya–oleh karena itu perlu ‘keahlian’ dalam memipihkan pipilan jagungnya. Bahkan beberapa orang percaya bahwa diperlukan lebih dari sekedar tenaga untuk menghasilkan Jagung Titi yang enak.

Pemipihan (tumbuk) jagung menggunakan dua batu, satu batu berbentuk pipih (sebesar cobek ukuran besar) yang digunakan sebagai alas dan satu batu yang ukurannya lebih kecil sebagai penumbuk. Setelah proses ini selesai Jagung Titi menjadi makanan setengah jadi, biasanya penduduk menggorengnya atau memanggangnya dalam oven dengan terlebih dahulu mengoleskan margarin agar lebih gurih.

Penampakan Jagung Titi ini sekilas seperti emping melinjo khas Banten. Rasa Jagung Titi gurih walaupun tidak ditambahi bumbu seperti garam atau bahan penyedap lainnya. Rasa yang berpadu dengan tekstur renyah, membuat Jagung gepeng ini menjadi camilan favorit bagi penduduk Nusa Tenggara Timur (NTT) terutama di pulau Flores, Solor, Adonara, Alor dan Lembata.

Camilan ini biasanya dijadikan sebagai ‘teman ngopi’ atau bekal untuk perjalanan jauh, ada juga yang memakannya dengan lauk dan sayur sebagai teman atau bahkan pengganti nasi.

Ketika Saya mengunjungi Larantuka, ibu kota kabupaten Flores Timur, Saya berkesempatan untuk mencicipi camilan yang mempunyai rasa menarik dan gurih ini. Benar-benar cocok untuk dikombinasikan dengan makanan atau minuman lain sambil bersantai menikmati alam Flores Timur.

Di Larantuka, Jagung pipih ini dapat anda temukan dengan mudah di pasar Waibalun. Harganya berkisar antara Rp. 10.000-15.000 per tiga mangkuk kecil–harga sangat tergantung kualitas.

Jika Anda berkesempatan untuk mengunjungi Flores Timur, tidak ada salahnya mencoba camilan ini atau bisa juga Anda jadikan sebagai oleh-oleh ketika Anda kembali, dan atau menjadi ‘teman perjalanan’ selama berkunjung. Selanjutnya, biarkan lidah Anda bergoyang riang bersama renyahnya Jagung Titi.