Categories Traveldraft

Longser, Seni Pertunjukan Teater Jawa Barat

Dari sekian banyak kesenian tradisi yang kini tenggelam bahkan tak ada jejaknya, longser sebagai teater tradisi mencoba tetap bertahan dan menantang perkembangan zaman. Longser sendiri merupakan teater tradisi rakyat Sunda.

Dari sekian banyak kesenian tradisi yang kini tenggelam bahkan tak ada jejaknya, longser sebagai teater tradisi mencoba tetap bertahan dan menantang perkembangan zaman. Longser sendiri merupakan teater tradisi rakyat Sunda.

Biasanya teater ini dipentas di lapangan terbuka, sawah-sawah lepas panen, atau di lapangan balai desa hingga alun-alun. Bentuk panggung longser sendiri berupa arena di mana antara panggung dan penonton sejajar dan tidak ada jarak.

Para penonton melingkari panggung longser itu sendiri. Adapun cerita yang dimainkan dalam longser ialah cerita komedi. Para actor memainkan perannya dengan penuh improvisasi dan spontanitas. Ditampilkan juga ronggeng dalam pertunjukan. Bersatunya unsur cerita, tari, musik/nyanyian salah satu ciri teater rakyat ini.

Secara bentuk, longser mirip dengan kesenian teater tradisi lainnya. Misalnya, ketoprak dan ludruk dari daerah Jawa. Kedua teater tradisi tersebut juga meggunakan perpaduan music, tari, nyanyian, dan unsur komedi di dalamnya sama seperti longser. Perbedaanya terletak pada penggunaan bahasa daerah masing-masing.

Nampaknya, popularitas longser akan terus menanjak. Lembaga-lembaga akademis—semisal sekolah dan kampus—yang memiliki peranan dalam pelestarian longser itu sendiri. Kelompok-kelompok teater yang kemudian mementaskan longser lahir dari kantung-kantung pendidikan, semisal sekolah.

Sekolah menjadi ruang subur bagi pertumbuhan longser sebab longser dipandang sebagai kesenian yang menghibur. Sehingga ia sangat digandrungi oleh para remaja. Bahkan teater-teater sekolah di Kota Bandung, drama opret kalah pamor dengan longser.

Salah satu faktor pelestari kesenian longser ini ialah munculnya beberapa festival longser. Salah satunya ialah Festival Longser yang dilaksanakan di Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung. Festival longser tersebut menyedot perhatian para pelaku teater remaja atau teater sekolah dan khalayak umum.

Puluhan peserta tampil mengkreasikan pertunjukan longsernya masing-masing. Dari sini juga berkembang esetetika longser dari masing-masing peserta. Ada yang menawarkan tawaran estetika baru dari segi teks hingga ke bentuk pertunjukan.

Hal ini merupakan respon postif dari zaman yang demikian berkembang. Modifikasi-modifikasi yang dilakukan para seniman dirasa penting bagi pemertahanan kesenian teater rakyat ini. Bahkan modernisasi dalam hal multimedia pun tak ada salahnya dilakukan sepanjang tidak mengganggu estetika dan konvensi longser itu sendiri.

Ada beberapa masalah sebenarnya yang terdapat di tubuh longser itu sendiri, yaitu minimnya kelompok longser profesional atau non sekolah. Hanya ada beberapa kelompok seni di Jawa Barat yang menjalankan teater ini dengan profesional.