Categories Traveldraft Tags

Teater Tradisional dan Teater Populer

Secara umum teater tradisional memiliki ciri, yaitu lakon/ceritanya tidak tertulis; media pengungkapannya berupa dialog, tarian, dan nyanyian; akting bersifat spontan; improvisasi;. Di wilayah seni pertunjukan, kebermilikan masyarakat terhadap sastra tidak dapat dimungkiri lagi. Terang saja, seni pertunjukan tentunya membutuhkan apresiator yang tak lain ialah masyarakat itu sendiri. Seperti apa yang dikatakan Sumardjo dalam buku Perkembangan … Read more

Secara umum teater tradisional memiliki ciri, yaitu lakon/ceritanya tidak tertulis; media pengungkapannya berupa dialog, tarian, dan nyanyian; akting bersifat spontan; improvisasi;.

Di wilayah seni pertunjukan, kebermilikan masyarakat terhadap sastra tidak dapat dimungkiri lagi. Terang saja, seni pertunjukan tentunya membutuhkan apresiator yang tak lain ialah masyarakat itu sendiri. Seperti apa yang dikatakan Sumardjo dalam buku Perkembangan Teater Modern dan Sastra Drama Indonesia (2004), Kesenian adalah ekspresi seseorang untuk berhubungan dengan orang lain.

Perkara ini amat menggejala dalam seni pertunjukan, sebab ekspresi seseorang dalam seni pertunjukan memerlukan hadirnya orang lain dalam aktivitasnya. Sangat mungkin memang apabila sebuah seni pertunjukan dilakukan tanpa harus ada penonton.

Misalnya, dalam kesenian masyarakat sederhana, perilaku teatrikal atau sebuah tarian dapat dilakukan tanpa perlu adanya penonton. Namun, hal komunikasi perilaku teatrikal semacam itu masih tetap komunikatif.

Tarian yang dimaksud bertujuan untuk membangun komunikasi dengan arwah para leluhur atau dewa. Utamanya, setiap perilaku seni membutuhkan atau memiliki apresiatornya sendiri.

Teater Tradisional dan Masyarakatnya

Teater kemudian tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat sejak lama. Mungkin kita mengenalnya dengan sebutan “teater tradisional”. Teater tradisional kemudian berkembang sebagai kesenian berbasis rakyat yang kerap dipertunjukan di kampung-kampung.

Dalam pertunjukan selalu terdapat unsur lawakan; umumnya menyertakan iringan musik tradisional; dekat dengan penonton/interaktif; bahasa yang digunakan, yaitu bahasa daerah; dan umumnya panggung panggung pertunjukan berbentuk arena.

Teater tradisional tumbuh sebelum kemunculan teater bergaya Eropa atau yang kemudian disebut teater modern. Kehidupan sehari-hari menjadi tema atau dasar estetika dalam setiap epertoarnya.

Misalnya, pertanian yang berurusan dengan tanah, air, produksi, kesuburan, kemakmuran, hama, musim kering. Selain pertanian, siklus alam menjadikan dasar utama dalam pembentukan estetika teater/kesenian yang bersifat religi dan sakral. Pada tahap ini, kesenian/teater menjadi pembangun spiritualitas, kegiatan berteater menjadi media transenden.

Pada tahap ini pula pertunjukan teater tradisional menjadi hal yang penuh dengan kesakralan. Ia tidak dapat dipertunjukan sembarangan waktu. Ia mesti dipertunjukkan dengan suatu alasan dan maksud yang berhubungan dengan sistem kepercayaan yang ada.

Keragaman budaya dan sistem religi di Indonesia kemudian membuat teater tradisi beragam bentuknya. Hal tersebut dikarenakan dasar estetikanya berdasarkan sistem religi yang begitu beragam.

Adapun fungsi pokok dari teater tradisional, yaitu sebagai media untuk memanggil kekuatan gaib; menjemput roh-roh pelindung untuk hadir di tempat terselenggaranya pertunjukan; memanggil roh-roh baik, untuk mengusir roh-roh jahat;

Memperingati nenek moyang dengan mempertontonkan kegagahan maupun kepahlawanannya; pelengkap upacara sehubungan dengan tingkat-tingkat hidup seseorang; dan pelengkap upacara untuk saat-saat tertentu dalam siklus waktu.

Teater tradisional kemudian berkembang dari ritual menjadi sebuah hiburan rakyat. Pada tahap ini, teater secara tidak langsung menjadi cermin keadaan masyarakat sekaligus media propaganda.

Pada zaman penjajahan cuplikan-cuplikan mengenai keterjajahan hidup diangkat dalam teater tradisional yang sifatnya menghibur sekaligus mengedukasi masyarakat mengenai penderitaan yang dialami karena penjajahan.

Maka dari itu tema-tema yang diangkat pada teater tradisional ini ialah menganai kepahlawanan, kehidupan perbudakan, feodalisme, dan lain-lain.

Kemudian, teater semacam ini juga dikenal sebagai “sandiwara” (terutama di daerah Jawa Barat dan Jakarta). Kata sandiwara sendiri konon bermakna “kode”. Dalam sebuah sandiwara terdapat kode-kode tertentu yang berisi propaganda politik dan budaya yang bersifat subversif.

Meskipun cerita dalam sebuah drama menyentuh pada tema-tema tragedi, roman sejarah, percintaan, komedi, dan horor, kode-kode mengenai perlawanan kerap muncul dalam dialog atau simbol dalam panggung.

Pada masa teater tradisional, masyarakat atau penonton bersentuhan secara intim dengan teater itu sendiri. Hal ini berpengaruh pada pesan yang ingin disampaikan suatu pertunjukan teater tradisional itu sendiri.

Pesan yang berupa spiritualitas dan edukasi lebih mudah ditangkap karena teater pada tahap ini hampir tidak berbatas secara fisik atau pun ide dengan masyarakatnya. Hal tersebut menjadikan teater ini bersifat didaktik.

Teater Populer dan Masyarakatnya

Jenis “tontonan urban” berkembang di Indonesia, sekitar permulaan abad 17 di lingkungan masyarakat Belanda-Eropa di Batavia dan akhir abad 19 di kota-kota besar lainnya telah lama berkembang tearer tradisional Indonesia.

Salah satu fenomena yang menarik dan cukup populer pada zamannya ialah teater stambul. Fenomena kemunculan teater stambul sendiri banyak dipengaruhi oleh teater bangsawan.

Idiom-idiom teater bangsawan banyak diambil oleh teater stambul. Influens teater bangsawan kepada teater stambul karena orang-orang yang pernah aktif di teater bangsawan berpindah ke teater stambul.

Terbukti dengan pentaskannya Jula Juli Bintang yang merupakan repertoir kegemaran teater bangsawan. Salah satu tokoh teater ini ialah Jafaar yang kemudian membentuk kelompok teater stambulnya sendiri.

Konsep penceritaan teater stambul sendiri diambil dari cerita-cerita Timur Tengah, Parsi, dan India. Tidak banyak sumber yang mencatat mengenai kelompok Teater Stambul milik Jafaar, namun ada satu kelompok teater serupa yaitu Komedi Stambul.

Komedi Stambul didirikan sekitar tahun 1891 oleh August Mahieu. Repertoir yang dipilih Komedi Stambul mula-mula berasal dari Cerita 1001 Malam, seperti Aladin dengan Lampu Wasiat, Ali Baba dengan 40 Penyamun, Hawa Majelis, Sirbad Tukang Ikan, Penangkap Ikan dengan Suatu Jin, dan sebagainya. ( Sumardjo, 2004: 107)

Populernya teater Komedi Stambul tak lain karena pengemasannya yang merujuk pada selera massa. Misalnya, dalam hal pemilihan repertoir cerita kebudayaan Timur Tengah (dsb) yang cenderung bercerita tentang fantasi, kemegahan, komedi, dan sebagainya.

Kemudian kostum yang dipakai pun bermegah-megah menimbulkan suatu fantasi dan impresi terhadap penonton; musik dan tari pun dipertunjukkan dalam Komedi Stambul.

Seiring dengan perjalanannya, repertoir Komedi Stambul pun akhirnya berubah haluan karena kejenuhan dari apresiatornya. Kemudian bergantilah cerita yang diusung menjadi cerita-cerita yang populer pada waktu itu, seperti Nyai Dasima, Oey Tambahsia dan sebagainya.

Repertoir ini tak berjalan lama sebab kurang fantastis dalam penyajian kostum yang cenderung menggunakan pakaian sehari-hari. Akhirnya, repertoir Komedi Stambul diubah lagi. Selanjutnya mereka mencoba menyajikan cerita-cerita barat, seperti Hamlet, Romeo and Juliet, Carmen, dan sebagainya.

Penonton berminat besar pada adegan-adegan perkelahian yang menggunakan anggar atau pedang. Jelas bahwa penonton teater stambul ialah penonton yang membutukan hiburan yang tidak biasa.

Pada tahap ini, teater cenderung mengarah pada hiburan semata yang kadang-kadang jauh dari kesan edukasi, atau meskipun ada, kesan itu nampak kabur dan tidak utuh. Fantasi-fantasi hidup disuguhkan dan menjadi hiburan bagi masyarakat kota.

Kekinian, nafas-nafas teater stambul dan opera masih berpengaruh terhadap teater-teater populer kekinian. Teater kekinian menjadi sebuah industri yang mapan. Kemunculan teater televisi menjadi satu tanda pengindustrian teater. Misalnya hal-hal yang terjadi pada program televisi Opera van Java (OvJ).

Dalam OvJ cerita-cerita yang bersifat intertekstual menjadi repertoir. Cerita-cerita rakyat diangkat dan terkadang didekonstruksi secara populer dan artivisial. Adegan-adegan kekerasan yang dipertunjukan menjadi daya tawar seperti adegan-adegan dalam teater stambul repertoir cerita eropa.

Adapun teater musikal berbasis opera muncul dalam pertunjukan-pertujukan teater kekinian. Cerita-cerita populer kekinian seperti Laskar Pelangi yang digawangi Mira Lesmana kembali dipertunjukan dalam bentuk teatrikal. Kemegahan kostum, panggung, musik, dan aktor menjadi daya tawar dalam teater ini.

Aktor dalam teater ini ialah artis yang telah populer. Pengangkatan cerita populer seperti Laskar Pelangi menjadi tanda bahwa nafas stambul dan atau opera masih berpengaruh dalam teater populer kekinian.