Categories Traveldraft Tags

Diwali (Deepavali); Cahaya Sukacita dan Harapan

Deepavali atau Diwali merupakan salah satu festival penting bagi umat Hindu. Dalam bahasa Sansekerta, Deepavali berarti barisan cahaya yang menandakan kemenangan terang atas kegelapan. Jika ditelusuri secara historis, Diwali akarnya berasal dari budaya India kuno. Berbagai legenda beranggapan Diwali merupakan festival panen. Namun, ada juga yang menganggap bahwa Diwali ini merupakan perayaan pernikahan Lakshmi dengan … Read more

Deepavali atau Diwali merupakan salah satu festival penting bagi umat Hindu. Dalam bahasa Sansekerta, Deepavali berarti barisan cahaya yang menandakan kemenangan terang atas kegelapan.

Jika ditelusuri secara historis, Diwali akarnya berasal dari budaya India kuno. Berbagai legenda beranggapan Diwali merupakan festival panen. Namun, ada juga yang menganggap bahwa Diwali ini merupakan perayaan pernikahan Lakshmi dengan Dewa Wisnu.

Di Bengal, festival ini merupakan bentuk penyembahan terhadap Bunda Kali, dewi kekuatan gelap. Ada juga yang menjadikan festival ini sebagai upacara pemujaan terhadap Ganesha.

Tanggal perayaan Diwali ditetapkan berdasarkan kalender Hindu–yang tergolong kalender lunisolar (kalender berdasarkan fase bulan-matahari). Dalam kalender Gregorian (kalender umum), biasanya perayaan ini jatuh pada bulan Oktober atau November. Pada tahun ini, puncak perayaan Diwali jatuh pada hari Minggu, 30 Oktober.

Festival ini merupakan suatu perayaan penuh cahaya yang ditandai dengan empat hari perayaan. secara harfiah hal ini ditujukan untuk “menerangi” jiwa dengan kecemerlangan dan sukacita.

Masing-masing empat hari festival Diwali dipisahkan oleh tradisi yang berbeda, namun tetap pada tujuan yang sama, yaitu perayaan akan kehidupan, anugerah, dan kebaikan.

Hari pertama festival adalah Naraka Chaturdasi. Beberapa meyakinihari pertama perayaan ini ditujukan untuk merayakan kemenangan Dewa Krishna dan istrinya Satyabama yang berhasil menaklukkan setan Neraka.

Amavasya, hari kedua Deepawali, merupakan hari pemujaan terhadap Lakshmi, dewi yang penuh dengan kebaikan hati karena senantiasa memenuhi keinginan umat-nya. Amavasya juga menceritakan kisah Dewa Wisnu, yang dalam inkarnasinya menjadi Bali Pratipada dan mengasingkannya ke neraka

Bali Pratipada diceritakan diizinkan untuk kembali ke bumi setahun sekali untuk menyalakan jutaan lampu guna menghalau kegelapan dan kebodohan; menyebarkan pancaran kasih dan kebijaksanaan.

Kembalinya Bali Pratipada ke bumi ini dirayakan pada hari ketiga Deepawali—Kartika Shudda Padyami sebagai hari memperingati Bali Pratipada keluar dari neraka dan kembali ke bumi, sesuai dengan anugerah yang diberikan oleh Dewa Wisnu.

Hari keempat disebut sebagai Yama Dvitiya (juga disebut Bhai Dooj), hari keempat ini merupakan waktu untuk mengenang kunjungan Yama (dewa kematian) kepada adiknya Yami. Pada hari ini setiap umat Hindu biasanya mengunjungi rumah saudara-saudara mereka.

Dalam Jainisme (Jaina), Deepavali merupakan acara besar yang memiliki makna di mana Dewa Mahavira mencapai kebahagiaan abadi dari nirwana. Selain itu, dalam Jaina ini, Diwali juga merupakan waktu memperingati kembalinya Dewa Rama bersama dengan Sita dan Laksmana dari pengasingan selama 14 tahun dan berhasil menaklukkan Rahwana.

Dalam perayaan sukacita atas kembalinya raja mereka, orang-orang dari Ayodhya, Ibu kota Rama, kota hingga desa dipenuhi dengan diyas (lampu minyak) dan menyalakan kembang api.

Semua ritual Diwali memiliki makna dan cerita tersendiri. Penerangan rumah dengan lampu dan langit dengan kembang api merupakan ungkapan hormat kepada langit untuk pencapaian kesehatan, kekayaan, pengetahuan, perdamaian dan kemakmuran.

Suara kembang api dipercaya merupakan lambang sukacita dari orang yang hidup di bumi, membuat para dewa menyadari keadaan berlimpah mereka.

Meskipun terdapat perbedaan makna dalam setiap kisah dibalik perayaan diwali, namun inti dari kesemuanya itu, Deepavali merupakan perayaan kemenangan kebaikan atas kejahatan.

Karena itu dalam perayaan Deepavali ini dirayakan dengan ‘menyalakan sumber cahaya’ yang bermakna agar kebenaran dan harapan menerangi rumah dan hati. Juga bisa dimaknai sebagai harapan agar mendekatkan diri terhadap perbuatan baik guna membawa diri lebih dekat dengan ketuhanan.

Di India, pada hari Deepavali, mereka yang merayakan akan bersukacita dengan mengenakan pakaian baru, berbagi makanan (manis), dan tentu saja menyalakan lampu-lampu dan berbagai sumber cahaya lainnya.

Selama Diwali, lampu akan menerangi setiap sudut Kota; udara akan dipenuhi semerbak aroma dupa; langit diwarnai bunga-bunga kembang api; memanjatkan doa, mengepulkan harapan.

Diwali menggambarkan sukacita, kebersamaan dan harapan. Diwali dengan cahaya diyas (lampu minyak) adalah ketenangan; saat duduk dengan sunyi, menutup mata, menarik nafas. Jelaga akan mengantar pikiran merenungkan makna dari cahaya tertinggi yang sanggup menerangi jiwa.