Copyright © 2019 DGRAFT Media Stories. All rights reserved.
    Connecting Stories
    Connecting Stories
Traveldraft Travel Guide
Kebudayaan

Betawi

Last updated on :

Dari Batavia muncul Betawi. Banyak budaya berbeda berakulturasi kemudian menjadi khas dan asli. Penduduknya kini disebut orang Betawi karena menggunakan bahasa dan berbudaya Betawi dalam kehidupan sehari-hari.

Explore Indonesia | Jawa
Scroll Down

Dari Batavia kemudian muncul Betawi. Kebudayaan Betawi sangat multi-kultural Banyak budaya berbeda berakulturasi kemudian menjadi khas dan asli. Penduduknya kini disebut orang Betawi karena menggunakan bahasa dan berbudaya Betawi dalam kehidupan sehari-hari.

Kebudayaan Betawi | jawa / Traveldraft /Dgraft Outline

Terbentuk sejak abad ke-17, Jakarta merupakan tempat bercampurnya etnis, suku bangsa, dan latar belakang sosial masyarakat yang berbeda. Bukan hanya Indonesia tapi Eropa dan wilayah lain Asia.

Dasar kebudayaan Betawi adalah budaya Sunda, Jawa dan Cina. Dari bahasa dan beberapa seni yang berkembang, tiga budaya ini lah yang kental saling memengaruhi. Budaya Eropa dan Timur Tengah juga ikut andil membentuk kebudayaan Betawi namun hanya di beberapa ranah dan wilayah.

Merunut sejarah Betawi bisa di tarik lebih jauh dan dihubungkan dengan masa Kerajaan Tarumanagara, temuan beberapa artefak di wilayah ini dapat menjadi bukti keberadaan penduduk Betawi awal (proto Betawi).

Ibu Kota Indonesia, pada masa klasik merupakan salah satu pelabuhan kerajaan Sunda yang ternama, kemudian menjadi Sunda Kalapa, hingga Batavia dan terakhir Jakarta.

Agama dan Kepercayaan Orang Betawi

Pluralitas Betawi juga tercermin pada kepercayaan yang berkembang. Kini hampir semua agama-agama besar dunia tumbuh di Jakarta. Namun, boleh dikata bahwa Islam memiliki pengaruh yang besar pada alam kepercayaan orang Betawi.

Traveldraft / August 23, 2019

Kebudayaan Betawi | jawa / Traveldraft /Dgraft Outline

Budaya dan Identitas Betawi

Tradisi, Ritual dan Kehidupan

Wilayah perkembangan Kebudayaan Betawi sekiranya dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu wilayah budaya Betawi Tengah atau Betawi Kota dan budaya Betawi Pinggiran (Betawi Ora).

Betawi tengah atau Betawi Kota adalah kawasan yang mendapat pengaruh Hindia-Belanda (Gemeente Batavia) dan menjadi wilayah utama pemerintahan kolonial, kecuali beberapa tempat seperti Tanjung Priuk dan sekitarnya.

Betawi pinggiran didominasi oleh masyarakat pedesaan yang merupakan wilayah-wilayah perbatasan. Budaya yang lahir disinyalir karena jauh dari kekuasaan kolonial maupun kerajaan.

Betawi pinggiran tumbuh dari masyarakat yang bermata pencaharian bercocok tanam dan nelayan. Wilayahnya meluas hingga ke daerah perbatasan Banten dan Jawa Barat.

Bahasa Orang Betawi

Bahasa Betawi sangat impresif, sebagian mendayu, lainnya tegas dengan penekanan di akhir ungkapan. Sunda, Jawa, Cina, Eropa dan Arab, kembali menjadi gudang perbendaharaan. Namun beberapa kata yang diserap orang Betawi cenderung manasuka.

Hal yang khas dari bahasa Betawi adalah kerap mengubah akhiran /a/ menjadi /e/. Misalnya, kata ‘siape’, ‘di mane’, ‘ade ape’, ‘kenape’. Akhiran /e/ dalam Bahasa Betawi merupakan /e/ dengan aksen tajam seperti /e/ dalam kata ‘bebek’.

Perbedaan logat dalam bahasa Betawi lebih merupakan sub dialek. Misalnya wilayah Jatinegara /e/ miring, Tanah Abang /e/ pepet, Slipi /e/ miring dengan tekanan akhir, Kemayoran dan Glodok /e/ tajam.

Meskipun hampir sama dengan Bahasa Indonesia sekarang, bahasa ini terus tumbuh dinamis menyerap beberapa kosa-kata baru yang dibawa pendatang.

Dari wilayah ini juga lahir varian bahasa Indonesia khas Ibu Kota (Bahasa Indonesia tidak baku). Bahasa yang tumbuh di kalangan anak muda dan menjadi bahasa pergaulan sehari-hari tanpa hierarki.

Sistem Kekerabatan dan Sosial

Sistem kekerabatan orang Betawi adalah Bilineal atau menarik garis keturunan kepada pihak keluarga ayah dan keluarga pihak ibu. Batasan kekerabatannya adalah sejauh yang mereka bisa ingat dan telusuri.

Kekerabatan Bilineal berdampak pada pola menetap setelah pernikahan. Meskipun secara umum orang Betawi tinggal secara Patrilokal (menetap pada keluarga suami juga disebut virilokal ), tidaklah masalah jika akan tinggal secara Matrilokal (menetap pada keluarga suami juga disebut uxorilokal).

Orang Betawi merasa bahwa seseorang dengan genealogi (garis keturunan) yang sama adalah saudara. Yakni jika seseorang tersebut memiliki runutan silsilah keturunan atau masih ada hubungan darah satu dengan yang lainnya.

Mereka juga menganggap sekampung adalah keluarga. Umumnya satu kampung-kampung di orang Betawi memang dihuni oleh keturunan yang sama dan atau telah terjalin pernikahan dengan orang dekat.

Jalinan kekerabatan ini bisa dilihat pada saat menggelar pesta (hajatan). Sanak saudara yang meski sudah tinggal berjauhan akan berdatangan. Juga tercermin dalam doa-doa yang mereka ucapkan saat menggelar syukuran. Para kerabat yang telah meninggal maupun yang masih hidup didoakan agar mendapat keselamatan dan berkelimpahan.

Tujuh Turunan Kekerabatan

Dalam budaya Betawi mereka mengenal istilah Tujuh Turunan, silsilah keluarga hingga garis ketujuh. Hal ini dipandang cukup penting terutama ketika dihadapkan pada bagaimana harus bersikap, memperlakukan, dan memanggil yang bersangkutan.

Kebudayaan Betawi | jawa / Traveldraft /Dgraft Outline

Pernikahan Suku Betawi

Lamaran, Ritual, dan Pakaian

Sebelum menikah ada prosesi Ngelamar (Nglamar) yang bahkan sama meriahnya dengan pernikahan. Pihak keluarga laki-laki datang kerumah wanita untuk bertemu dengan keluarganya. Prosesi tatap muka keluarga yang diakhiri dengan penyerahan tanda ikatan hubungan berupa cincin.

Akad Nikah biasanya dilaksanakan di rumah perempuan. Calon pengantin perempuan (Calon None) punya ritual sendiri sebelum akad.

Dahulu, Calon None akan benar-benar dirawat dan dipersiapkan selama beberapa minggu hingga bulan. Masa dipiare atau pingit ini bertujuan menjaga kesehatan, kecantikan dan mental Calon None menghadapi akad nikah. Acara mandiin calon pengantin atau siraman dilakukan sehari sebelum akad nikah.

Pada hari pelaksanaan akad nikah, pengantin Pria (Calon Tuan) berangkat menuju rumah Calon None dengan membawa rombongan (rudat). Mereka berparade berjalan kaki atau dengan tunggangan delman, membawa berbagai hadiah-hadiah yang akan diberikan.

Sirih nanas lamaran, sirih nanas hiasan, mas kawin, miniatur masjid terbuat dari uang, sepasang roti buaya, Sie atau kotak Cina tempat makanan, Jung atau miniatur perahu, hadiah-hadiah yang dibungkus beraneka rupa, kue pengantin, dan kekudang (barang atau makanan yang sangat disenangi oleh calon none).

Tabuhan rebana bersautan, kedatangan rombongan Calon Tuan disambut dengan bunyi petasan. Kemudian ritual “Buka Palang Pintu” digelar. Utusan Wanita menghadang rombongan, mereka tidak mengizinkan lewat jika calon tuan tidak berhasil mengalahkan.

Dengan kegembiraan di wajah Calon Tuan, ia lalu menghadirkan jagoannya menyanggupi tantangan. Kedua Jagoan bertemu, penonton pun diam. Ritual yang sepenuhnya hiburan ini kerap memperlihatkan kemahiran bela diri di antara jagoan, namun seringnya adalah dialog dan ujaran.

Busana Pengantin Betawi

Calon Tuan memakai jas Rebet, kain sarung plakat, hem, jas, serta penutup kepala (kopiah/Alpie), ditambah baju gamis (jubah Arab) dengan selendang yang memanjang dari kiri ke kanan.

Calon None memakai baju kurung dengan teratai dan selendang sarung songket. Bagian kepala dihias sanggul sawi serta kembang goyang berjumlah ganjil ditemani hiasan sepasang burung Hong.

Dahinya diberi tanda merah berupa bulan sabit, menandakan bahwa ia masih gadis. Tak lupa Calon None akan dipakaikan cadar sehingga wajahnya tersembunyi.

Setelah ritual akad nikah digelar, Calon Tuan membuka cadar memastikan apakah benar bahwa yang dinikahinya adalah dambaan hati atau lian. Walaupun sebetulnya sudah terlambat jika pun bukan. Maaf Tuan, tidak bisa dikembalikan.

Selanjutnya, kedua mempelai disandingkan di pelaminan (puade). Resepsi dimulai, makanan dihidangkan, tetangga berdatangan, musik didendangkan, nyanyian, doa-doa dan suka cita menyelimuti mempelai dan keluarga yang berbahagia.

Kebudayaan Betawi | jawa / Traveldraft /Dgraft Outline

Seni dan Budaya

Busana, Kesenian dan Arsitektur
Pakaian Tradisional Betawi

Pakaian adat Betawi yang dikenal sekarang dipengaruhi oleh berbagai busana dari berbeda budaya. Pakaian perempuan sehari-hari adalah baju kurung melayu berlengan pendek, dengan bagian bawah kain sarung batik dan kerudung menutupi sebagian kepala.

Pakaian sehari-hari Betawi untuk laki laki adalah baju Koko (Sadariah) berwarna polos. Celananya terbuat dari kain batik. Tak lupa memakai selendang sarung di pundak lengkap dengan peci hitam sebagai identitas Kebetawiannya.

Pakaian pengantin, seperti yang diuraikan sebelumnya, juga mencerminkan pakaian adat Betawi yang terakumulasi dari banyak budaya. Pakaian pengantin laki-laki dinamai Dandanan Care Haji dan pakaian pengantin perempuan dinamai Dandanan Care None Pengantin Cine.

Rumah Kebaya, Rumah Adat Betawi

Rumah Kebaya Betawi bentuk atapnya perisai landai yang diteruskan dengan atap pelana yang lebih landai pada bagian teras. Susunan atap berlipat-lipat seperti lipatan kebaya. Lisplang Rumah Kebaya berupa papan yang diukir dengan ornamen segitiga berjajar yang diberi nama gigi balang.

Bangunan Rumah Kebaya adalah panggung dan ada pula yang menapak di atas tanah dengan lantai yang ditinggikan. Di luarnya merupakan teras-teras terbuka yang dikelilingi pagar karawang.

Dinding bagian depan biasanya dibuat dari panel-panel yang dapat dilepas saat pemilik rumah menyelenggarakan acara yang membutuhkan ruang.

Tiang-tiang rumah tampak jelas di bagian teras, berdiri di atas lantai yang agak naik dari ketinggian tanah di halaman. Untuk menuju teras rumah, ada tangga pendek balaksuji terbuat dari batu atau papan kayu.

Lantai teras depan yang bernama gejogan selalu dibersihkan. Beranda depan diberi nama amben adalah tempat bersantai dan menerima tamu.

Di bagian tengah sebagai ruang tinggal dibatasi dinding tertutup. Ruang-ruang di dalamnya terbagi dengan hierarki. Ruang publik di bagian depan menuju ruang privat di bagian belakang.

Kamar tamu dinamai paseban. Ruang keluarga terhubung dengan dinding-dinding kamar, dinamakan pangkeng. Bagian dapur dan tempat perabotan berada di bagian belakang disebut srondoyan.

Sekitar Rumah, di Masa Lalu

Masyarakat Betawi pada masa lalu memiliki sumur air di halaman depan rumah dan memakamkan keluarga yang meninggal di halaman samping kanan. Mereka juga meletakkan tempayan atau kendi berisi air di depan halaman rumah. Musafir yang melakukan perjalanan jauh bisa meminumnya dan pemilik rumah mendapat berkah.

Tradisi Pindah Rumah Suku Betawi

Selain upacara pernikahan, upacara pindah rumah menjadi keunikan tersendiri di suku Betawi. Setidaknya ada Perabotan-perabotan yang harus dibawa. Misalnya, tempayan atau kendi berisi air, bumbu dapur, dan kaca.

Air bagi orang Betawi melambangkan kehidupan. Sementara bumbu dapur melambangkan hidup dengan beragam rasa dan kesadaran orang Betawi yang hidup dengan beragam etnik lain.

Kaca melambangkan kerendahan hati yang harus mampu menempatkan diri pada posisi yang tidak bersinggungan dengan orang lain.

Tak ketinggalan dalam upacara pindah rumah, adalah membawa tanah. Tanah di rumah lama akan dibungkus kain putih. Di rumah yang baru tanah tersebut disebar di sekitar rumah sambil membaca kalimat basmallah.

Tujuannya agar atmosfir rumah dan tanah di rumah yang lama tetap terpelihara di rumah yang baru. Dengan demikian seluruh anggota keluarga betah.

Tanah dari rumah lama juga memiliki filosofis penting yang mengikat setiap orang Betawi dengan tanah kelahiran. Di dalam tanah, di dekat cericipan atau di kolong tempat tidur di situ orang Betawi menanam ari-ari dari setiap anak yang dilahirkan.

Golok Betawi; Pekarang dan Pusaka

Keberadaan golok di tengah masyarakat Betawi dipengaruhi oleh kebudayaan Sunda-Banten. Sekurangnya Ada tiga jenis golok dalam tradisi betawi, yaitu Golok Gobag, Golok Ujung Turun, dan Golok Betok.

Golok Gobag bentuknya pendek, memiliki ujung yang rata serta melengkung di bagian punggung. Gagang atau bagian pegangan Golok Betok tidak berhias. Orang Betawi menyebutnya dengan gagang jantuk, bahannya dari kayu rengas.

Golok Ujung Turun ujungnya lancip. Golok ini kerap dijadikan golok pusaka. Golok yang terakhir adalah Golok Betok, bentuknya agak pendek. Golok ini juga dijadikan senjata pusaka menemani seorang Jawara.

Secara kegunaan, Golok dalam masyarakat Betawi dibedakan ke dalam tiga kategori, yakni Golok Dapur (gablongan bendo), Golok Sorenan, dan Golok Pusaka.

Golok sebagai gablongan umumnya tidak bersarung dan disimpan di dapur. Sedangkan golok sorenan bersarung sehingga bisa dibawa dan dikhususkan untuk pekerjaan tertentu, misalnya memotong hewan.

Golok pusaka merupakan salah satu wujud fisik alam kepercayaan Betawi. Golok ini kerap berwafak atau wifik. Wafak adalah huruf dan angka Arab, serta gambar hewan mistis yang dipercaya mempunyai kekuatan tertentu.

Arwah dan roh halus masih berpengaruh dalam kebudayaan Betawi bersanding dengan kekuatan supranatural yang bisa dimiliki manusia. Sementara Macan dan buaya mendapat tempat terhormat dalam mitologi.

Kebudayaan Betawi | jawa / Traveldraft /Dgraft Outline

Seni Pertunjukan

Tarian dan Hiburan

Tarian dari Betawi sebagaimana seni tari tradisional dari kebudayaan lainnya di Indonesia, merupakan bagian dari representasi sekaligus kristalisasi dari keseharian masyarakatnya.

Jika kembali menilik fungsi tari, maka salah satunya adalah sebagai ekspresi atau ungkapan perasaan yang divisualisasikan dalam bentuk gerak.

Setiap seni tari tradisional Betawi memiliki pesan yang ingin disampaikan dalam setiap gerakannya. Ada cerita yang menginspirasi seorang koreografi dalam mencipta gerak tarian-nya, semisal cinta, gairah kehidupan, perjuangan dan sebagainya.

Tari Renggong Manis

Tari Renggong Manis merupakan ungkapan kebahagiaan dan rasa kebersamaan para remaja putri. Tari ini merupakan perpaduan antara budaya Betawi, Arab, India, dan terutama budaya Cina Klasik.

Tari Renggong Manis biasa dimainkan sebagai pembuka dalam acara-acara resmi yang berfungsi sebagai tari penyambutan tamu. Kebahagiaan tuan rumah atas kedatangan tamunya diasosiasikan dengan keceriaan Tari Renggong Manis.

Adanya ansambel orkes Gambang Kromong sepertinya telah banyak memengaruhi kesenian dan tradisi Betawi, melihat betapa banyaknya tarian dari betawi yang diiringi oleh musik ini. Penampilan Tari Renggong Manis juga diiringi oleh musik Gambang Kromong yang didominasi oleh suara rebab dua dawai.

Tari Lenggang Nyai

Tari Lenggang Nyai menceritakan kisah Nyai Dasimah. Gadis cantik asal Betawi yang berada dalam kebingungannya memilih pasangan hidup; seorang Belanda dan Seorang Indonesia. Ia kemudian menjadi istri seorang Belanda, Edward William.

Kisah tersebut menginspirasi Wiwiek Widiastuti untuk menggubah tari Lenggang Nyai. Karakter Lenggang Nyai juga memperlihatkan bentuk-bentuk gerak yang lincah sebagai personifikasi orang Betawi.

Lebih jauh, tari Lenggang Nyai akan menunjukkan keceriaan dan keluwesan gadis Betawi dan tentunya kebahagiaan Nyai Dasima. Namun, ada bagian seperti yang tidak bisa mengambil keputusan, penari diperlihatkan bergerak pada satu sisi ke sisi lain.

Tarian ini juga ditampilkan dengan iringan musik Gambang Kromong. Meski termasuk tarian karya baru, Tari Lenggang Nyai dapat dikatakan populer di kalangan masyarakat Betawi dan sekitarnya. Di mancanegara, nama lain yang disematkan pada tarian ini adalah tari Lenggang Betawi.

Tari Yapong

Tari Yapong dipentaskan untuk acara-acara resmi seperti penyambutan tamu dan kenduri. Yapong diciptakan bukan sebagai tari pergaulan seperti Jaipong dari Jawa Barat, namun variasi dari tari ini hadir untuk memenuhi bagian tersebut.

Tari Yapong memiliki gerakan yang gembira dan dinamis. Istilah Yapong merupakan onomatope dari bunyi-bunyi yang terdapat dalam musik dan tarian tersebut. Ya, ya, ya, ya, yang dinyanyikan artis pengiringnya serta suara musik yang berkesan pong, pong, pong, sehingga lahirlah “yapong”.

Corak pakaian yang dikenakan oleh para penarinya merupakan pengembangan pakaian tari Kembang Topeng Betawi. Tampak jelas dari bentuk serta ragam hias tutup kepala serta selendangnya yang disebut toka-toka

Alat musik yang mengirir Tari Yapong adalah campuran antara Betawi, Jawa Tengah dan Jawa Barat. Yapong diciptakan oleh Bagong Kusudiardjo awal tahun 1975 sebagai bagian Sendratari.

Tari yang banyak dipengaruhi oleh tarian Topeng Blantek ini kemudian menjadi tarian lepas. Instrumen Rebana Biang, Rebana Hadroh, dan Rebana Ketimpring muncul kemudian.

Gerakan Gitek Balen hadir untuk respon dari suara rebana. Gitek berarti goyang, dan Balen merupakan pola dari pukulan instrumen.

Tari Cokek

Awal kemunculannya, Tari Cokek dimainkan oleh tiga penari perempuan. Sekarang, pertunjukan Tari Cokek seringkali dimainkan oleh lima hingga tujuh orang penari perempuan.

Sehelai selendang yang terikat di pinggang penari perempuan merupakan salah satu ornamen utama. Selendang tersebut bernama cokek.

Sekilas, Tari Cokek mirip seni Sintren dari Cirebon atau Ronggeng dan Tayub di Jawa Tengah, di mana para penari memiliki kewenangan untuk mengajak penonton ikut menari. Salah satu yang membedakannya, Tarian Cokek diiringi musik Gambang Kromong.

Dewasa ini, Tari Cokek sugah jarang dipertunjukkan di kawasan Betawi. Tetapi di daerah Benteng, Tangerang, Tari Cokek masih bisa dijumpai walaupun jika sudah sedikit larut berubah jadi dangdutan.

Tari Topeng Betawi

Secara umum, Tari Topeng adalah jenis tarian yang penarinya mengenakan topeng. Biasanya, tarian ini diiringi musik rebab, kromong tiga, gendang besar, kulanter, kempul, kecrek dan gong buyung.

Penarinya menggunakan topeng yang terbuat dari kayu. Topeng yang dikenakan menempel dengan wajah dipakai dengan cara menggigit bagian dalam topengnya.

Tari Topeng Betawi merupakan lepasan dari seni Topeng Betawi merupakan pertunjukkan gabungan yang melibatkan tarian, musik, narasi dan nyanian, seperti teater atau opera. Namun dalam pertunjukan ini para pemainnya mengenakan topeng. Hal yang sama apabila kita melihat kesenian Topeng Banjet dari Karawang.

Tarian ini bersifat teatrikal dan memiliki unsur tamatik dalam tiap geraknya. Biasanya tema yang diangkat adalah kritik sosial, atau terkadang hanya menyajikan guyonan semata.

Pada masa jayanya, kesenian ini selalu hadir dalam pesta pernikahan atau khitanan. Mirip kesenian lainnya. Kelompok tari topeng, biasanya dipanggil untuk memeriahkan hajatan dan digelar semalam suntuk.

Di Betawi sendiri, tari topeng mempunyai beberapa varian seperti Tari Lipet Gandes, Tari Topeng Tunggal, Tari Enjot-enjotan, Tari Gegot, Tari Topeng Cantik, Tari Topeng Putri, Tari Topeng Ekspresi, dan Tari Kang Aji.

Tari Silat Betawi

Berbeda dengan tari pencak silat di Jawa Barat yang diiringi gendang pencak, tari silat Betawi diiringi Gambang Kromong dan Rebana Biang. Tetapi ada pula yang memakai kendang pencak seperti di kawasan Kayu Manis dan Cirendeu.

Instrument musik pada tari silat Betawi hanya sebagai pembawa irama saja. Sedangkan di Jawa Barat kendang pencak difungsikan sebagai pembawa irama sekaligus memberikan penekanan pada gerakan-gerakan penarinya.

Tari Pencak Silat tidak bisa dilepaskan dari seni bela diri Pencak Silat, karena gerakan dan kostum pada Tari Silat merupakan hasil adaptasi dari Pencak Silat itu sendiri. Aliran silat yang cukup populer di Betawi adalah Silat Beksi dan Silat Sabeni. Silat Beksi lah yang lebih umum ditarikan.

Ondel Ondel

Hingga sekarang, tak ada yang tahu mengapa arak-arakan boneka berukuran besar itu dinamai Ondel Ondel. Tetapi jika ada yang bertanya mengenai kesenian tradisional betawi, jawaban pertama yang akan terlontar adalah Ondel Ondel.

Kiranya, hal tersebut tidak berlebihan melihat betapa melekatnya kesenian Ondel Ondel dengan masyarakat Betawi. Setiap ada hajatan, arak-arakan Ondel Ondel tak pernah ketinggalan memeriahkan.

Boneka Ondel Ondel dibuat dari anyaman bambu dengan tinggi sekitar 2,5 meter dan diameter kurang lebih 80 cm. Dibuat sedemikian rupa agar orang yang memikul boneka tersebut leluasa. Rambutnya terbuat dari ijuk dan kertas warna-warni.

Ondel Ondel selalu diarak sepasang; yang lelaki wajahnya berwarna merah, sedangkan wajah boneka perempuan berwarna putih atau terkadang kuning.

Konon, bentuk boneka khas Betawi ini adalah media pengusir roh halus. Tidak heran kalau bentuk Ondel Ondel Zaman dulu berkesan sangat menyeramkan. Berbeda dengan Ondel Ondel yang dapat dilihat saat ini, yang lebih berkesan seperti sepasang ibu-bapak.

Meski terjadi pergeseran fungsi, unsur ritual tak sepenuhnya lepas dari tradisi yang sekarang masih lestari ini.

Sebelum mulai membuat Ondel Ondel, biasanya disediakan sesajen yang berisi bubur merah putih, rujak-rujakan tujuh rupa, bunga-bungaan tujuh macam, asap kemenyan, dan sebagainya.

Demikian pula Ondel Ondel yang sudah jadi, biasa pula disediakan sesajen dan dibakari kemenyan, disertai mantera-mantera ditujukan kepada roh halus yang dianggap menunggui Ondel Ondel tersebut.

Sebelum dikeluarkan dari tempat penyimpanan, bila akan berangkat main, senantiasa diadakan ritual. Pembakaran kemenyan dilakukan oleh pimpinan rombongan, atau salah seorang yang dituakan.

Menurut istilah setempat upacara demikian disebut ngukup, namun kini sudah jarang karena dianggap ‘menyimpang’.

Musik Pengiring Ondel Ondel

Tidak ada musik yang khusus untuk mengiringi arakan Ondel-ondel. Terkadang Tanjidor, Kendang Pencak, Bende, atau Rebana Ketimpring. Instrumen Modern juga kerap dipakai, mungkin untuk membuktikan Ondel-ondel tak ketinggalan zaman

Lagu Kicir Kicir Sebagai Duta Budaya Betawi

Setiap tahunnya lagu kicir kicir didendangkan dalam acara ulang tahun Kota Jakarta oleh artis-artis ibu kota dan disiarkan hingga ke pelosok-pelosok desa Indonesia.

Tak lupa penari berbusana khas Betawi dengan warna dominan merah dan kuning menyala melenggak-lenggok gemulai sesuai irama. Jika tidak ada, cukup sepasang Abang – None sebagai perwakilan. Terkadang ada juga Ondel Ondel yang hanya bergerak di tempat atau cukup sebagai hiasan.

Orang Indonesia sudah hafal betul penampilan Abang – None; laki-laki (Abang) memakai setelan hitam dan mengenakan kopiah yang juga hitam. Kain sarung dililitkan di pinggang atau kadang hanya dikaitkan di pundak. Wanitanya (None) memakai baju kebaya dan kain batik sebagai bawahannya, lengkap dengan kerudung yang tidak menutup seluruh bagian kepala.

Tapi Lagu Kicir-kicir lah yang akan selalu terngiang. Lagu yang sebenarnya muncul dari tradisi pantun di mana lirik lagu terikat oleh rima. Tradisi Pantun memang populer dalam kesenian Betawi, seni Pantun ini terutama mendapat pengaruh dari budaya Melayu.

Lirik Lagu Kicir-kicir banyak versinya, namun umumnya Pada larik pertama dan kedua di setiap baitnya berisi sampiran dan di dua larik selanjutnya terdapat isi. Juga, lirik “Kicir kicir ini lagunya” sudah barang tentu harus ada.

Hingga saat ini “Kicir Kicir” telah berkembang dengan aransemen yang tak terbilang. Misalnya, lagu ini diaransemen dengan musik elektronik atau band, atau lagu ini digubah ulang melalui musik hip-hop atau rap. Versi aslinya lagu Kicir kicir diiringi oleh orkes tanjidor.

Lirik Lagu Kicir Kicir

Kicir kicir ini lagunya
Lagu lama ya tuan dari Jakarta
Saya menyanyi ya tuan memang sengaja
Untuk menghibur menghibur hati nan duka

Burung dara burung merpati
Terbang cepat ya tuan tiada tara
Bilalah kita ya tuan suka menyanyi
Badanlah sehat ya tuan hati gembira

Buah mangga enak rasanya
Si manalagi ya tuan paling ternama
Siapa saya ya tuan rajin bekerja
Pasti menjadi menjadi warga berguna.

MENU

Back