Copyright © 2019 DGRAFT Media Stories. All rights reserved.
    Connecting Stories
    Connecting Stories
Traveldraft Travel Guide
Kebudayaan

Bugis Makassar

Last updated on :

Bugis dan Makassar adalah dua suku bangsa yang berbagi wilayah di selatan Sulawesi. Kedua suku ini selain mempunyai kesamaan sejarah, juga saling mengisi dalam beberapa budaya dan tradisi.

Explore Indonesia | Sulawesi
Scroll Down

Kebudayaan Bugis Makassar

Bugis Makassar adalah dua suku bangsa yang berbagi wilayah di selatan Sulawesi. Kedua suku ini selain mempunyai kesamaan sejarah, juga saling mengisi dalam beberapa budaya dan tradisi.

Kebudayaan Bugis Makassar | Sulawesi / Traveldraft /Dgraft Outline

Suku Bugis merupakan komunitas masyarakat yang tersebar di wilayah Sulawesi Selatan. Yang terbesar mereka menempati beberapa wilayah di Kabupaten Barru, Bone, Luwu, Pinrang, Sidrap, Soppeng, dan Wajo.

Suku Bugis memiliki kedekatan dengan Suku Makasar dan Suku Mandar. Daerah peralihan Bugis dengan Makassar terdapat di Bulukumba, Maros, Sinjai, dan Pangkajene Kepulauan. Sementara daerah peralihan suku Bugis dengan Mandar terdapat di Kabupaten Pinrang dan Polmas.

Kini banyak orang-orang Bugis telah merantau dan tersebar di berbagai provinsi Indonesia, tidak hanya di wilayah Sulawesi tetapi hingga Papua, Jawa hingga Mancanegara.

Banyak para ahli yang menggolongkan suku Bugis ke dalam suku-suku yang berasal dari Deutro Melayu yang dulu melakukan migrasi ke Nusantara dari daratan Yunan. Kata “Bugis” diambil dari kata To Ugi yang berarti orang Ugi atau orang Bugis.

Kata”ugi” merujuk pada raja mereka yang berenama La Sattumpugi. To Ugi juga dapat diartikan sebagai pengikut La Sattumpugi. La Sattumpugi merupakan leluhur La Galigo yang terkenal karena telah membuat banyak karya sastra.

Pada perkembangannya, suku Bugis kemudian berhasil mengembangkan kebudayaan mereka, tidakhanya bahasa dan aksaranya, mereka juga berhasil mengembangkan pemerintahan mereka sendiri menjadi wilayah yang memiliki kekuasaan yang besar.

Tercatat beberapa kerajaan Bugis pernah berdiri pada masa klasik antara lain Kerajaan Bone, Luwu, Rappang, Sawitto, Sidenreng, Soppeng, Suppa, dan Wajo.

Suku bugis pada masa lalu sangat menyukai dataran yang subur dan dekat dengan wilayah laut untuk dijadikan wilayah mukim mereka, kebanyakan dari mereka hidup menjadi petani dan juga nelayan.

Suku Bugis juga terkenal dengan sejarah pelayaran mereka. Kemahiran orang Bugis mengarungi samudera membuatnya tercatat sebagai para pelaut ulung yang telah mengelilingi dunia.

Karakteristik Aksara Bugis Makassar

Di sulawesi selatan ada Tiga betuk macam huruf yang pernah dipakai secara bersamaan.

  1. Huruf Lontaraq
  2. Huruf Jangang-Jangang
  3. Huruf Serang

Sementara bila ditempatkan dalam kebudayaan bugis, Lontaraq mempunyai dua pengertian yang terkandung didalamnya: a. Lontaraq sebagai sejarah dan ilmu pengetahuan; b. Lontaraq sebagai tulisan.

Kata lontaraq berasal dari Bahasa Bugis yang berarti daun lontar; Pada awalnya tulisan tersebut di tuliskan diatas daun lontar.

Daun lontar ini kira-kira memiliki lebar 1 cm sedangkan panjangnya tergantung dari cerita yang dituliskan. Tiap-tiap daun lontar disambungkan dengan memakai benang lalu digulung pada jepitan kayu, yang bentuknya mirip gulungan pita kaset.

Cara membacanya dari kiri kekanan. Aksara lontara biasa juga disebut dengan aksara sulapaq eppaq. Karakteristik Aksara Bugis.

Memang terdapat bebrapa varian bantuk huruf bugis di sulawesi selatan, tetapi itu tidaklah berarti bahwa esensi dasar dari huruf bugis ini hilang, dan itu biasa dalam setiap aksara didunia ini.

Hanya ada perubahan dan penambahan sedikit yang sama sekali tidak menyimpang dari bentuk dasar dari aksara tersebut. Varian itu disebabkan antara lain:

1. Penyesuaian antara bahasa dan bunyian yang diwakilinya.

2. Penyesuaian antara bentuk huruf dan sarana yang digunakan.

Sistem Kekerabatan Suku Bugis

Dalam penarikan garis keturunan mereka berpedoman kepada prinsip bilateral, artinya hubungan seseorang dengan kerabat pihak kerabat ayah dan pihak ibu sama erat dan penting.

Masyarakat Bugis terdiri dari dua golongan yang bersifat eksogam, pertalian kekerabatan dihitung menurut prinsip keturunan matrilineal, tetapi perkawinan bersifat patriokal. Dalam suatu perkawinan, Suku Bugis sangat memperhatikan uang belanja yang diberikan dari mempelai laki-laki.

Makin besar pesta perkawinan itu (uang belanja), makin mempertinggi derajat sosial seseorang, walaupun harus dibelinya dengan kebangkrutan, atau dengan berhutang sekalipun.

Penggolongan kerabat (seajing) di kalangan Suku Bugis dibedakan antara rappe atau kelompok kerabat sedarah (consanguinity )dan sumpung lolo atau pertalian kerabat karena perkawinan (affinity). Kerabat itu dibedakan pula atas kerabat dekat (seajing mareppe) dan kerabat jauh (seajing mabela).

Sedangkan untuk kekerabatan keluarga mereka menganut system cognatic atau bilateral, seseorang ditelusuri melalui garis keturunan ayah dan juga ibu. Panggilan yang biasa untuk kerabat mereka adalah kaka (saudara yang lebih tua) dan Anri (saudara yang lebih muda). Amure (paman) dan Inure (bibi). Masih banyak lagi sebutan dalam sistem kekerabatan mereka yang lainnya.

Perkawinan (Siala) berarti saling mengambil antara satu dengan yang lain. Di suku Bugis, perkawinan biasanya berlangsung antarkeluarga dekat atau antarkelompok petronasi yang sama, dimaksudkan untuk pemahaman yang lebih mudah antar keluarga.

Dalam La Galigo diceritakan perkawinan dengan sepupu satu kali (istilah Jawa: misanan) dianggap terlalu panas (Siala Marola) hanya terjadi di keluarga bangsawan, supaya Darah Putih mereka tetap terpelihara. Yang terpenting bagi mereka adalah kesesuaian derajat antara pihak laki-laki dan perempuan.

Proses perkawinan, pihak laki-laki harus memberikan mas kawin kepada perempuan (sama halnya adat Jawa kebanyakan) yang terdiri dari dua bagian, yaitu Sompa (biasanya dalam nominal uang) dan Dui Menre (mahar permintaan dari pihak perempuan).

Kesemua kekerabatan Bugis yang disebut di atas terjalin erat antar satu dengan yang lain. Mereka merasa senasib dan sepenanggungan. Oleh karena itu, jika seorang membutuhkan yang lain, bantuan dan harapannya akan terpenuhi, bahkan mereka bersedia untuk segalanya.

Agama To Lontang, Kepercayaan Bugis Lama

Agama To Lontang lahir dalam tatanan lama yang telah terbentuk secara apik dalam masyarakat Bugis, agama mereka secara tersirat terdapat dalam sebuah tulisan yang sering disebut sebagai Epos la galigo.

Dalam epos ini mengisahkan bahwa dewa utama yang disembah oleh manusia (sebelum masuknya islam) adalah Patotoqe Atau Sang Penentu Nasib yang bermukim di istana boting langiq atau kerajaan langit.

Patotoqe mengutus anaknya ke bumi yang bernama Togeq Langiq atau yang di sebut sebagai Batara Guru. Kemudian Batara Guru menikah dengan Sepupunya yang bernama We Nyiliq Timo Dari Kerajaan Bawah Laut. Inilah yang merupakan Cikal Bakal dari Raja-raja Dibumi. Dewa-dewa itulah yang disembah dalam kepercayaan lama masyarakat bugis.

Menurut sejarahnya pada awalnya nenek moyang To Lotang berasal dari tanah wajo. Ketika Agama Islam Masuk di Wajo dan diterima sebagai agama Kerajaan semua masyarakat kerajaan memeluk islam kecuali Penduduk desa Wani yang menolak islam.

Raja pun mengusir mereka sebagian penduduk desa Wani menetap di desa Buloe Kabupaten Wajo dan sebagian lainnya mengungsi ke Desa Amparita Kabupaten Sidenrang Rappang (Sidrap).

Penganut agama To Lotang mempercayai adanya tuhan yang maha esa yang mereka sebut Dewata Seuae. Menurut mereka kehidupan manusia di dunia ini adalah kehidupan periode kedua. Dan periode pertama yakni periode zaman sewerigading dan pengikutnya. Kitab suci mereka adalah La Galigo Dan Sawerigading adalah sebagai Nabi Mereka.

Kitab suci penganut agama To Lotang adalah La Galigo dan nabi mereka yakni Sawerigading itulah kepercayaan klasik yang dijaga hingga kini oleh masyarakat To Lotang.

Seperti dalam epos la galigo pemimpin agama tertinggi disebut Uwaq kepada nya lah segala persembahan dan doa disampaikan, kemudian Pemimpin Agama atau Uwaq lah yang menyampaikan permintaan-permintaan kepada sang dewata.

Di bawah Uwaq terdapat uwaq-uwaq yakni diistilahkan sebagai uwaq pendamping dari pemimpin uwaq. Uwaq-uwaq pendamping inilah yang membantu pemimpin uwaq atau ketua uwaq dalam menjalankan tugasnya sehari-hari. Uwaq-uwaq pendamping ini berjumlah 7 orang.

Penganut agama To Lotang mengakui adanya Mola Lelang atau menelusuri jalan yang berarti kewajiban yang harus dijalankan oleh penganutnya sebagai pengabdian kepada Sang Dewata Seuae. Kewajiban tersebut terdapat dalam 3 macam yakni :

1. Mappaenre Inanre (Membawa sesembahan Nasi)
2. Tudang Sipulung (Duduk berkumpul)
3. Sipulung (Berkumpul)

Kegiatan kegiatan itu dipimpin oleh uwaq dan dibantu oleh uwaq-uwaq pendampingnya

Ada dua macam aliran dalam agama To Lotang yakni To Lotang To Wani dan To Lotang To Benteng. To Lotang To Wani melaksanakan agama leluhur mereka secara murni, sedangkan To Lotang To Benteng mengakui bahwa dia adalah agama Islam tetapi sehari-harinya melaksanakan Ajaran agama To Lotang. Ajaran islam yang laksanakan hanya sebatas acara perkawinan dan acara kematian

Berikut pemaparan Kepercayaan dari dua Aliran To Lotang:

A. To Lotang To Wani

B. To Lotang To Benteng

Sebuah kepercayaan yang telah mengakar dalam masyarakat membentuk sebuah keniscayaan yang amat luhur hingga menjadi cakupan dalam tatanan sistem yang melahirkan budaya

Agama To Lontang secara kasat mata mungkin kita bisa samakan dengan agama atau kepercayaan lainnya yang berasal dari kearifan bangsa ini, namun karakteristik dari masing-masing kepercayaan atau agama tersebut amatlah berbeda, baik dalam segi isi maupun kandungannya, sehingga corak dari masyarakat pendukungnya pun dapat kita lihat mempunyai perbedaan yang mendasar.

MENU

Back